Home Informasi VOLUME 6 ; JURNAL

VOLUME 6 ; JURNAL

452
0
Gol A Gong saat peluncuran Atas Angin Vol. 6, 28 Oktober 2014. Dokumentsi Atas ANgin
Gol A Gong saat peluncuran Atas Angin Vol. 6, 28 Oktober 2014. Dokumentsi Atas ANgin
Gol A Gong saat peluncuran Atas Angin Vol. 6, 28 Oktober 2014. Dokumentsi foto Atas Angin

ATAS ANGIN volume 6 tampil dengan perwajahan lebih kecil. Seukuran wajarnya sebuah buku. Karena itu, isinya pun menjadi lebih tebal, 90 halaman. Alasannya tidak muluk-muluk. Agar lebih enak dipegang saat dibaca. Pasalnya, di daerah kami yang konon soal membacanya masih perlu dipertanyakan (ini menurut sebuah penerbit dari kota besar yang tidak jadi menggelar bazar buku di Bojonegoro pada suatu waktu), ukuran majalah, yang umumnya 21 x 28 itu, terlalu ribet untuk dibawa kemana-mana atau sebagai teman keluarga (kami memang pernah menyatakan diri sebagai ‘teman’). Terlepas dari itu, kami sebenarnya sedang coba-coba. Coba-coba menemukan bentuk dan jati diri, bukan coba-coba yang main-main. Seiring berubah menjadi ini, kami sedang menamai diri sebagai sebuah jurnal setelah sebelumnya kami secara bebas memasrahkan kepada pembaca mau sebut kami ini apa (boleh majalah, boleh buletin, atau apa-apa). Sebagaimana watak sebuah jurnal, yang adalah sebuah laboratorium ilmu, yang tentu saja membutuhkan keseriusan. Kami sedang mencoba untuk itu dengan segala resikonya.

Gambar sampul dikerjakan oleh Fathoerochman Jacobs. Dengan tinta pen warna hitam, Jacobs menampilkan gambar komikal naif yang surealis dan ditata dengan apik di pojok kanan bawah.

Ada yang istimewa pada volume ini, karena kami bisa wawancara dengan seorang sastrawan ‘tua’. Dia tak lain adalah Martin Aleida. Martin bicara tentang sastra. Sastra yang bagaimana? Yakni, sebagaimana keyakinan dan jalan yang dia pilih, sastra yang berpihak pada korban. Sastra tidak seharusnya berpegang teguh pada ruang imajinasi belaka, tetapi mengikatkan diri pada komitmen sosial. Penindasan, ketidakadilan, harus diperjuangkan dengan sastra. Menulis bukan soal senang atau tidak senang. “Menulis adalah menderita,” kata Martin.

Kemudian, Danial Arifuddin, yang baru saja menghadiri sebuah rembug komunitas literasi di Jogjakarta, menulis tentang pentingnya sebuah arsip. Sebagaimana yang dikerjakan oleh I:boekoe (baca ibuku, Indonesia Buku), sebuah kelompok pejuang literasi yang gurih di Jogjakarta. Mereka punya warung arsip yang menyimpan dengan rapi koran-koran, buku, informasi lama dari jaman saat penerbitan kita masih bayi. Kerja dokumentasi adalah perlawanan terhadap budaya lupa dan penghancuran kebudayaan serta ketidakpedulian akan masa depan. Danial bercerita tentang Pramoedya Ananta Toer yang menyusun Tetralogi Buru, yang kelak adalah magnum opusnya itu, dari klipingan koran-koran lama. Meski kerja pengarsipan itu sunyi, bukan berarti tanpa arti.

Vera Astanti, mengulas tentang fenomena sastra populer. Vera bersikukuh bahwa perdebatan mengenai ada sastra yang populer dan tidak populer, tidak lagi penting. Say no untuk sastra tinggi atau rendah, tulisnya. “sastra seharusnya menjadi bagian dari kehidupan nyata termasuk kehidupan sehari-hari dengan segala tetek mbengek persoalannya yang mungkin cengeng, menyebalkan, dan tidak mutu,” seperti yang Vera kutip dari FX. Rudi Gunawan.

Nanang Fahrudin menulis tentang bagaimana ‘wayang’ dirayakan kembali dalam esai berjudul Membaca Wayang. Sebuah stasiun tv kita akhir-akhir sedang hangat menyajikan drama impor dari India yang merupakan adaptasi Mahabarata dan epos – epos lain. Wayang yang adalah sebuah pertunjukan khas Jawa, memang membawakan cerita-cerita epos itu. Esai ini memaparkan bahwa epos-epos itu tampil dalam wujud semakin rupa-rupa ternyata. Dalam bentuk film di layar kaca, wayang, dan tentu saja buku-buku sastra sebagaimana mulanya epos itu ditulis. Buku-buku itu misalnya Anak Bajang Menggiring Angin (epos Mahabharata, novel Sindhunata), Manyura (novel Mahabhatara, oleh Yanusa Nugoho), Kitab Omong Kosong (Ramayana, novel Seno Gumira Ajidarma), dan lain-lain. Silakan pilih yang paling lezat, tulis Nanang Fahrudin. Judul ini kami jadikan sebagai maskot volume ini.

Resensi buku oleh Anas AG. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Univeritas Gajah Mada ini mengulas buku karya Ricklefs, Mengislamkan Jawa. Jawa, tulis Anas, itu luwes. Buku karya sejarawan lulusan Cornell University itu hendak menyatakan bahwa Jawa seakan punya kekuatan untuk bisa menerima apa saja yang datang dari luar. Ini adalah sebuah sikap yang belum tentu bisa ditandaskan oleh etnis atau kelompok masyarakat lainnya.

Rubrik cerita pendeknya diisi oleh Alex. R. Nainggolan, Ainun Najib, dan Ashri Kacung yang menerjemahkan cerita Deborah Bundy. Sajak oleh M. Noeris Anwar, Lia Nur Aini dan Suudin Azyz yang menerjemahkan puisi Palestina karya Mahmoud Darwis.

Demikian.

(Redaksi)

=====================================================

Redaksi volume ini : Nanang Fahrudin, A. Danial Arifuddin, Aw. Syaiful Huda, Shinta D. Damayanti, Fathoerochman Jacobs, Olyvia D. Hapsari, Vera Astanti, Ashri Kacung, Mohamad Tohir.

Jurnal Atas Angin bisa didapat di toko-toko buku di Bojonegoro (Toga Mas, TB. Nusantara, Kios Bu Siti Jl.Gajah Mada), Warung Buku Atas Angin (http://www.atasangin.com/category/warung-buku/) memalui pemesanan ke nomor 085731568791 (Tulus Budi Santosa).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here