Home Buku TOHARI (LAGI), DI TENGAH GERAK SEJARAH YANG MEMBINGUNGKAN

TOHARI (LAGI), DI TENGAH GERAK SEJARAH YANG MEMBINGUNGKAN

422
0

Oleh A. Danial Arifudin

Untitled-1wdwBICARA tentang sosok Ahmad Tohari, ingatan kita pasti akan langsung tertuju pada triloginya yang terkenal, Ronggeng Dukuh Paruk. Sebuah trilogy tentang kehidupan seorang gadis yang terseret arus nasib yang tidak memihak. Seorang ronggeng yang terjebak arus politik 1960-1n yang serba absurd. Dituturkan secara rancak dan sederhana (jika tidak bisa dibilang ringan), dengan narasi suasana pedesaan yang sangat deskriptif serta dibumbui oleh kisah percintaan yang dramatis ta[pi tidak picisan. Sebab itulah, novel ini menjadi sebuah karya sastra yang meski berisi padat, tapi tidak terasa berat untuk dibaca.
Sama halnya dengan Ronggeng Dukuh paruk, dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini A. tohari juga membidik sisi humanism rakyat jelata yang acapkali menjadi korban, baik langsung maupun tidak, atas perebutan kekuasaan di tingkat elit. Dengan seorang pemuda bernama Amid sebagai tokoh utama, serta beberapa tokoh yang lain, Tohari seperti ingin memperlihatkan kepada kita bahwa carut marut kondisi tingkat elit dampaknyasangat luar biasa terhadap nasib rakyat, dalam hal ini beberapa pemuda yang sedang nyantri pada kiai Ngumar, seorang kiai kampung yang mengajarkan ilmu agama dan silat.
Amid, seorang pemuda lulusan Vervolk School, bersama dengan sahabat karibnya, Kiram yang pemberani, seperti pemuda pada umumnya, mengalami kebimbangan dalam menentukan arah hidup. Kebimbangan itu seprti bakal menemui jalan keluar ketika Kiai Ngumar menginformasikan tentang fatwa jihad yang dikeluarkan oleh seorang hadratus syaikh di Jawa Timur, mereka siap berjuang demi agama dan negara. Setelah penantian selama tiga bulan, barulah kemudian ada perrintah bagi mereka untuk membantu para tentara di daerah Purwokerto. Dengan semangat menggebu untuk berperang melawan Belanda, mereka berangkat ke Purwokerto, berkumpul dengan teman sebaya dari daerah lain. Tapi naas, kenyataan tidak sesuai harapan, mereka hanya disuruh menebang pohon untuk mencegat Belanda yang ternyata tidak melewati jalan itu. Mereka pulang dengan kecewa. Kekecewaan itu terobati satu setengah bulan kemudian ketika ada panggilan lagi untuk mencegat truk Belanda dan Kiram tampil sebagai sosok pemuda yang pemberani yang berhasil merampas senjata Belanda. Dari sinilah persimpangan-persimpangan jalan hidup yang harus mereka laluipun dimulai.
Selepas pencegatan, mereka membentuk barisan pemuda yang pada kelanjutannya tergabung menjadi barisan Hizbullah. Banyak dilemma dan pertentangan di antara mereka muncul. Terlebih ketika Kang Suyud-yang notabene pemeluk Islam fundamental-menolak saran kiai Ngumar untuk bergabung dengan tentara resmi setelah pembubaran barisan Hizbullah karena Belanda telah menyerah dan mengakui kedaulatan NKRI. Entah karena sudah nasib, atau pilihan awal yang kurang tepat, Amid, Kiram dan Junaidi-sahabat yang lain, mengikuti jalan Kang Suyud yang memilih bergabung dengan Darul Islam pimpinan SM. Kartosuwiryo dan mengabaikan saran kiai Ngumar untuk kembali hidup normail menjadi rakyat biasa setelah gagal bergabung tentara.
Dalam novel ini, digambarkan secara sekilas-tapi eksplisit-tentang situasi politik di masa awal kemerdekaan yang dampaknya sangat terasa hingga kalangan bawah. Dimulai dari masa tahun 1946, ketika Belanda tidak mau mengakui kedaulatan RI, di sini muncul fatwa/ resolusi jihad yang dikeluarkan hadratus syaikh Hasyim Asy’ari sebelum pecah peristiwa 10 November 1946 di Surabaya. Pertentangan antara golongan Sarekat Islam Putih (yang membentuk Darul Islam (DI)/ Tentara Islam Indonesia (TII), hingga pada akhirnya membnetuk Negara Islam Indonesia (NII) dan Sarekat Islam Merah (bergabung dengan Partai Komunis Indonesia/ PKI), pemberontakan PKI 1948 di Madiun, hingga terseretnya para pemuda tersebut dalam pemberontakan DI melawan pemerintah RI. Dengan alur penceritaan yang maju mundur, Tohari ingin menyampaikan bahwa tiap gerak sejarah di Indonesia, selalu berkaitan antara satu dengan yang lainnya. hal ini juga dimunculkan dalam perjalanan para tokoh cerita yang terseret arus tersebut. semakin dalam dan dalam, tanpa bisa kembali ke titik di mana mereka bermula.
Adalah tidak lazim, jika perjalanan hidup seorang pemuda tidak sekalipun melewati masalah percintaan. Hal ini disadari betul oleh Tohari, hingga muncullah cerita Kiram yang suka menggoda Asui, seorang gadis Cina pemilik toko di depan pasar. Dan harus berurusan dengan pamannya yang menjadi mata-mata Belanda karena benci pada Kiram. Atau bagaimana hamid yang bersedia menikahi Umi yang masih belia karena ayahnya, seorang kiai DI, tewas di tengah hutan. Atau juga, tentang betapa indahnya rasa persahabata-lebih tepatnya kemanusiaan, ketika Kiram dan Junaidi harus diam-diam membopong paksa seorang dukun bayi dari kampung dan memasukkannya dalam karung ketika Umi akan melahirkan bayi Amid di tengah hutan.
Dan, pada akhirnya, kekiaian Ahmad Toharilah yang menjadi pengadil dalam novel ini. dari awal hingga akhir cerita, moralitas (akhlak) yang menjadi pertentangan di benak tiap tokoh, terutama Amid, seorang tokoh dengan karakter terpuji, sesuai namanya. Atau Kiram, dengan kemuliaannya. Meski pengaruh Tohari terkesan dominan dan sedikit menggurui (bahkan menghakimi), novel ini memberi kesempatan pada kita untuk meluaskan cara pandang dengan konflik batin tiap tokoh.
Amid, seorang pemuda yang ingin berjihad dan menjadi pejuang, yang selalu resah dengan pergulatan pikirannya, yang melewatkan kesempatan menjadi tentara demi tetap bersatu dengan teman-temannya, hingga terseret menjadi pemberontak DI, masih berkesempatan mengucap kalimat syahadat di akhir hayatnya. Dan, memang, seperti ujar kiai Ngumar padanya: “Percayalah, sesuatu ada masanya. Dan segala sesuatu tak akan hadir di luar masa yang tersedia baginya (h.46). Salam.

A. Danial Arifudin,

aktif di philonstitute, kajian rutin Jim-Jim Malam Sabtu.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here