Home Buku Tentang Buku, Impian dan Kehidupan

Tentang Buku, Impian dan Kehidupan

74
0
pixabay.com

oleh Dita Hanna Farida

Dear buku,

KAU tahu aku?
Hmm.. Bisa tahu, bisa tidak. Tak mengapa. Yang penting aku tahu kau dan aku kenal kau. Sudah lama sekali. Bahkan aku tak ingat lagi kapan saat pertama aku mengenal kau, kapan saat pertama aku tahu tentang kau. Tak ingat. Tapi itu tak penting kan?! Karena yang kuingat, sejak aku bisa mengenal siapa diriku, memori tentang kau sudah turut serta mewarnai masa-masa emas pertumbuhanku. Memori yang indah, dan masih terus kusemai hingga kini, dan insyaAllah sampai nanti-nanti.

Terkadang aku masih suka tersenyum bila mengingat saat-saat kebersamaan kita di awal kehidupanku. Saat itu di era 90-an, masih ramai anak-anak kampung bermain riang gembira di sekitar rumah. Kau ingat, aku slalu lebih suka belajar banyak tentangmu daripada bermain dengan teman-teman sekitar rumahku. Tak berselang lama, ayah dan ibu kemudian memberiku nasehat yang baik. Beliau berdua berharap aku bisa membagi waktuku dengan baik. Karena itu, aku mulai bermain-main dengan teman-temanku, dan itu menyenangkan. Bersama mereka mengukir masa kecil yang asyik.

Di masa itu, aku ingat mengenalmu dalam dua bentuk. Keduanya adalah bentukmu yang sederhana, buku iqra’dan majalah anak-anak Bobo. Meski aku belum bisa membaca tulisan yang terangkai indah didalam dirimu, aku mulai bisa menikmati saat-saat bersamamu. Bentukmu dalam buku iqra’ mengajariku untuk bisa mengenal Al-Qurán, buku teragung ciptaan Allah SWT. Sementara majalah anak-anak Bobo mengajariku untuk mengenal banyak genre bacaan yang sederhana tapi menarik meski belum lancar membaca. Dari iqra’ aku belajar mengenal bermacam-macam ilmu, kisah dan keterangan tentang kasih sayang Allah. Sedangkan dari Bobo, aku mengenal apa itu komik, apa itu artikel, apa itu cerpen, apa itu iklan dan apa itu ”Kata Pembaca”

Waktu berjalan, bangku sekolah dasar mulai aku duduki. Disana aku mulai mengenalmu dalam bentuk yang serius, buku pelajaran sekolah. Ada sebagian jenismu yang asyik, namun ada pula sebagian jenismu yang bikin pusing. Namun, entah kenapa, kau tak pernah membosankan. Selalu ada yang baru, dan selalu menawarkan ilmu-ilmu baru. Di bangku sekolah ini, aku mengenal banyak bentuk seriusmu yang berevolusi dengan sukses menemani enam belas tahun masa pendidikanku yang spesial. Masa-masa sekolahku, masa-masa pendidikanku, dan masa-masa berkutat denganmu yang berjenis serius (baca: Buku Pelajaran Sekolah).

Ah, aku tak bisa berbohong padamu. Tentu kau tahu dan mengerti, dunia cerita selalu menarik perhatianku. Jadi jujur, aku memang hanya berkutat dengan bentuk seriusmu di jam-jam sekolahku. Sementara di rumah dan di tempat-tempat lain, aku masih selalu melirik-lirik bentukmu yang lain. Dan kau ingat, aku kemudian bertemu dengan salah satu bentukmu yang sampai sekarang menjadi favoritku untuk menemaniku di waktu luang. Tahu apa itu? Ya, komik jepang. Memang, aku mengenal bentukmu yang berisi gambar dan tulisan itu pertama kali dari majalah Bobo, tepatnya dari cerita Bona dan Rong-rong. Hanya saja, aku benar jatuh cinta pada buku komik adalah ketika aku mengenal kisah Detective Conan dan beratus judul komik lainnya.

Hingga kini, di usiaku yang tiga dasawarsa, aku masih suka berburu komik. Apalagi di ibukota ini terdapat satu tempat yang bisa dibilang surganya pecinta komik. Sebut saja kawasan Blok M Square yang lantai basement nya dipenuhi oleh kios-kios komik yang menjual komik murah meriah, hanya lima ribu perak per komik. Aku suka gerah kalau harus berlama-lama saat shopping baju maupun kosmetik. Tapi entah kenapa, aku bisa betah seharian muter-muter berburu komik-komik keren dengan berbagai macam tipe cerita. Ya, perasaan memang sukar dijelaskan, hanya bisa dirasakan akibatnya. Dan tahu apa akibatnya? Budget untuk sekali beli komik bisa mengalahkan budget makan seminggu ala anak kost Jakarta.

Kenapa? Kau heran kenapa aku belum menyebut soal ’novel’ sama sekali? Memang sengaja! Karena kisahku dengan bentukmu satu itu membutuhkan space tersendiri. Mungkin beberapa paragraf panjangnya. Apa pasal? Karena dibalik momen membacaku dengan novel, ada momen-momen manis yang mengiringi. Penasaran? Biarin, aku tak hendak bercerita dengan rinci. Cukup untuk kau tahu saja, bahwa kau selalu menempati banyak kisah didalam hidupku. Terlepas dari lalu-lalangnya manusia-manusia di sekitarku, kau dengan berbagai macam bentuk dan jenismu selalu bisa mendapatkan waktuku. Aku selalu suka membaca, dan aku suka kau, buku!

Cerita yang pertama kali bisa membuatku menyelesaikan ratusan lembar dirimu adalah salah satu cerita yang melegenda di dunia. Sebelum itu, aku baru bisa membaca bentukmu yang sederhana, seperti: komik, majalah, ensiklopedia dan buku pelajaran. Dan mereka semua memiliki jumlah lembaran yang biasa saja, dan pasti tidak setebal novel. Jadi, kau tahu cerita apa yang bisa membuatku tertarik pada bentukmu yang ini? Ya benar, Harry Potter! Masih kuingat, novel pertama berjudul Harry Potter dan Batu Bertuah itu aku tamatkan saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah kelas 1. Semenjak itu, aku seperti ketagihan untuk berburu novel lain dengan cita rasa yang kurasa menarik. Meskipun beberapa diantaranya tidak berakhir dengan baik, namun keberadaan dunia novel memang selalu bisa menghidupkan imajinasi dan tentu saja, melatih kecepatan membaca.

Pengalamanku dengan novel berkembang seiring dengan perkembangan emosiku. Itu kusadari betul sekarang-sekarang ini. Coba tengok kebelakang. Setelah menamatkan serial Harry Potter, aku mulai pedekate dengan novel-novel bergenre remaja yang sedang hits kala itu. Di masa awal tahun 2000-an, novel teenlit, chicklit, dan Harlequin selalu menjadi incaran nona-nona muda pemakai seragam putih-biru dan putih-abu abu. Saat ini, aku ingin berharap kala itu aku menghiasi masa SMA ku dengan novel keren yang mengasah pemikiran serta tidak membuang waktu dengan membaca novel remaja yang begitu itu. Namun, berharap mengubah masa lalu itu seperti berharap agar lontong bisa menjadi beras kembali. Itu tidak mungkin. Ya, aku sendiri sadar kok, novel remaja tetap salah satu pengalaman yang berharga dalam usahaku mengenalmu, wahai buku.

Memasuki masa kuliah, aku mulai mengenal dunia novel yang serius dan menguras pemikiran. Lebay? Emang iya, kuakui memang berat, tapi menantang dan mengasyikkan. Sebut saja novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi aktivis-aktivis mahasiswa, perkenalan terhadap novel Pram seperti sebuah keniscayaan. Bahkan kata temanku di komunitas Suket: ”Novel Pram itu kitab suci bagi aktivis”. Kalau kuingat lagi memori itu sekarang, pernyataan si dia kala itu memang berlebihan. Tapi memang benar, pengaruh novel-novel Pram memang dahsyat. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh penguasa di dua orde di awal kemerdekaan, sehingga Pram harus mendekam di penjara selama 32 tahun hidupnya karena dianggap membahayakan pemerintah.

Ah sepertinya tulisanku tentangmu kali ini sudah kepanjangan lho, buku. Aku akan menutupnya dalam satu paragraf ini. Jadi saat ini, di momen landai dalam hidupku yang dipenuhi aktivitas bekerja dan berkarya, dirimu tetap tak pernah lepas dari keseharianku. Di kamarku, ada satu lemari khusus yang kuperuntukkan untuk mengumpulkan banyak bentuk dan jenismu yang kusukai. Sebut saja aneka komik, mulai dari yang serius macam Detective Conan, Q.E.D dan C.M.B, hingga yang asyik macam Naruto dan Doraemon. Ada pula rak-rak khusus novel yang disana berderet novel-novel yang satu biji nya kubaca dalam semalam atau sehari-semalam. Tengok saja itu deretan karya Dan Brown yang selalu bikin gemes, lalu novel populer macam serial The Hunger Games yang pahit-pahit manis, serial Divergent yang cute, dan serial The Maze Runner yang asyik. Untuk lokal, aku penggemar serial Supernova yang ciamik banget karya mbak Dee Lestari. Banyak yang lain sih, tapi nanti saja ya aku ceritakan lagi kapan-kapan.

Sekian ceritaku tentangmu, hai buku. Terima kasih selalu mengisi hari-hariku.

Jakarta, 28 April 2018. 12.44 AM
Dini hari sambil begadang garap laporan.


Dita Hanna Farida, perempuan yang aktif dalam lembaga survei di Jakarta, ramah dan murah senyum.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here