Home Berita Tahun Baru di Desa Terpencil

Tahun Baru di Desa Terpencil

520
0

Setiap malam pergantian tahun, tak pernah aku ikut heboh merayakan bersama teman-temanku. Kemeriahan tahun baru tak pernah ku hiraukan. Aku pun hanya tergeletak di ranjang dalam kamar.

Ketika pukul 12.00 tengah malam, aku pun akan terbangun. Karena suara motor-motor beriringan sambil meniup terompet bersama-sama memenuhi jalan raya. Keadaan seperti itu selalu ku jumpai di tiap tahunnya.

Aku tak pernah diijinkan orang tuaku keluar malam seperti yang dilakukan teman-temanku. Semarak tahun baru memang bisa dinikmati semua orang.

Namun, dibalik kemeriahannya itu terselip duka mendalam. Tak bisa dipungkiri, kalau persta tahun baru setiap tahunnya selalu memakan korban yang tidak sedikit. Dari kegiatan saling tonjok antar kelompok sampai berujung kematian tanpa tersangka.

Kecelakaan lalu lintas juga ikut menyumbang korban. Banyak pengendara motor maupun mobil yang berlalu lalang di jalan raya tanpa tujuan. Pengendara yang ugal-ugalan tanpa bisa membahayakan pengguna jalan lain. Orang yang hanya berdiri di tepi jalan pun bisa melayang jiwanya karena tertabrak motor.

Sudah direncanakan jauh-jauh hari rencana perayaan malam pergantian tahun menuju tahun 2012. Aku pikir malam tahun baru itu tak akan terlupakan seumur hidupku. Bersama Komunitas Blogger Bojonegoro dan beberapa muridnya om Prawoto di SMAN 2 Bojonegoro. Tanggal 31 aku berangkat bersama-sama dari Kota Bojonegoro.

Siang hari yang sangat panas mengiringi kepergian kita dari Kota. Sekitar 22 orang berangkat bersama-sama mengendari motor. Melewati rumah-rumah penduduk yang kian hari kian rapat. Serta terlihat olehku hamparan sawah dan ladang nan hijau membentang bagaikan permadani alam yang menyejukkan mata yang memandang.

Aku membonceng salah satu temanku. Jaket abu-abu melapisi baju warna ungu yang melindungiku dari angin dan terik mentari. Kampung demi telah kita lewati. Hanya ada beberapa tempat di awal keberangkatan yang pernah ku lewati. Hampir seluruh tempat itu asing oleh mataku.

Matahari pun tak sampai mengenai tanganku lagi. Rindangnya pohon membuat tanah tak tersentuh sinar. Jalan yang sepi. Tapi ada beberapa mobil maupun motor yang masih mau berlalu lalang.

Akhirnya kita pun berbelok pada sebuah jalan yang tak beraspal. Aku tak tahu tempat apa itu. Sebelum aku menemukan sebuah tulisan yang sangat besar terpampang menyambut kedatangan kami. “TAMAN WISATA WADUK PACAL”. Owhh.. kita berada di Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro.

Aku pernah dengar tentang waduk pacal. Setidaknya nama tempat itu tidak asing di kupingku. Dan ternyata aku telah menginjakkan kaki disana. Sampai disana aku disuguhi hamparan air yang luas. Saking banyaknya air di waduk, membuat aku kesulitan mengambil air wudhu. Mencoba meminta izin sholat di rumah warga, hasilnya sia-sia.

Mushola yang benar-benar memprihatinkan menjadi tempat ku sembahyang. Bungkus makanan tercecer dimana-mana. Sepertinya mushola ini dipakai orang tidur namun dan selalu dikotori namun tak pernah dibersihkan. Apa boleh buat. Aku harus tetap sholat. Meskpin dalam keadaan kotor seperti ini. Kotor belum tentu najis. Dalam hati berkata.”Semoga mushola ini tetap suci Ya Allah”.

Selesai sholat ku hampiri teman-temanku yang sedang asyik memancing ikan. Ada juga yang malah berfoto-foto ria. Beberapa diantaranya ada yang hanya duduk dibawah pohon sambil memanikan gitar.

Memancing adalah tujuan utama kita ke waduk pacal. Nasib buruk menimpa kami. Satu jam memancing hanya ada satu ikan yang tersangkut di kail. Ikan yang sangat kecil. Lebih pantas dijadikan umpan daripada jadi hasil pancingan.

Aku dengan beberapa teman sempat memasuki daerah hutan kecil disamping waduk itu. Berjalan berkeliling yang ku temui hanya pohon dan pohon. Namun diantara pohon-pohon yang kokoh berdiri itu ada manusia manusia yang duduk dibawahnya. Semua yang ku temui berpasangan. Laki-laki dan perempuan. Mereka asyik bercengkrama satu sama lain. Aku yang tak sengaja melihatnya hanya bisa berpura-pura tak peduli.

Hasil yang di dapat di waduk pacal adalah potret-potret wajah manusia yang bergaya di depan kamera. Tapi kita puas kok. Pemandangan alam yang luar biasa indah membuat aku benar-benar kagum pada tempat itu. Ingin sekali aku mengunjunginya lagi.

Perjalan harus dilanjutkan. Lagi-lagi harus melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Perjalanan itu membuat aku hampir kehabisan suara. Jalan yang berkelok-kelok menjadikan aku merinding. Setiap belokan aku selalu mengeluarkan suara triakan. Sedangkan ratusan belokan harus kita lalui. Aku bahkan hampir dibuat mabuk oleh jalan itu. Jalan yang pertama kali ku lalui seumur hidupku. Naik motor saja telah membuat kepala pusing. Mungkin kalau waktu itu aku menumpang mobil, bisa rarusan plastic kresek yang ku habiskan untuk tempat muntahanku.

Terlihatnya perkampungan penduduk dibarengi munculnya mega hitam dilangit. Hamparan lukisan alam menyita penglihatanku untuk menatapnya. Sepanjang jalan terlihat hijaunya dedaunan. Rumah-rumah penduduk semakin lama semakin banyak terlihat. Gundukan tanah menjulang tinggi berjejer-jejer membentuk pegunungan indah. Posisiku saat itu berada di salah satu puncak tertinggi pada salah satu gundukan tanah itu. Membuatku dapat menikmati indahnya pemandangan disekeliling.

Jalan yang naik turun tak lagi menakutkan hati, mungkin karena sudah mulai terbiasa. Perjalanan yang sangat menegangkan. Tentu saja seru dan mengasyikkan. Jiwa tak menyangka. Untuk dapat menempuh sebuah perkampungan itu harus melewati jalan yang panjang dan menegangkan.

Akhirnya sampailah rombongan pada sebuah tempat tujuan. Tempat yang akan menampung kita malam itu adalah SMPN 2 Gondang. Sekolah yang cukup besar untuk sebuah desa terpencil di atas bukit. Bangunan yang dibagi-bagi menjadi ruang kelas berjejer-jejer. Tak ada pagar yang melindungi bangunan itu. Grimis mulai turun membasahi dedaunan.

Dibagian belakang sekolah tergeletak sebuah batu yang sangat besar. Kata om Pra, batu itu digunakan sebagai pengganti panggung untuk pertunjukkan baca puisi murid-muridnya.Baru saja anak-anak sampai di tempat itu. Semuanya malah beramai-ramai menaiki batu besar itu. Untuk mendapatkan sebuah signal telepon seluler. Tidak heran! Kalau tempat terpecil seperti itu tidak terjangkau signal. Dengan adanya batu itu, memberikan sendikit bantuan kita untuk memberikan informasi keberadaan kita pada keluarga, pacar, atau teman-teman. Disina signal memang sangat berharga untuk kita.

Selama sehari kita berpuasa tidak menggunakan Handphone. Yang paling heboh dan gak rela tentu anak-anak SMA itu. Apalagi yang pacarnya ditinggal dirumah. Uchh.. pasti sangat stress tuh gak bisa berhubungan barang sebentar saja. Tapi, itulah konsekuensinya ikut acaranya Blogger Bojonegoro.

Rintik-rintik air malah semakin menjadi-jadi. Sedari tadi siang perut belum juga terisi. Rasanya ayam-ayam diperut sudah pada berkokok berkukuruyuk bersaut-sautan. Kita pun makan dirumah salah satu teman Om Praw yang rumahnya berada tepat di samping sekolah. Hujan turun semakin deras. Tak ada satupun payung yang bisa kenakan. Akhirnya kita memutuskan untuk menggunakan jas hujan, bahkan baner pun kita gunakan sebagai payung. Bersama-sama kita berjalan memanjang seperti rombongan-rombongan semut. Dengan semua tangan memegangi kain untuk kita berlindung dari air hujan. Selesai makan, rintik-rintik air hujan masih sibuk membasahi bumi. Adzan magrib mulai bersaut-sautan, suara muadzin serasa memenuhi seluruh telinga.

Berada di puncak gunung seperti ini membuat tubuhku enggan terkena air. Meskipun rintik-rintik air sedikit membasahi kain bajuku. Tapi, tetap saja tubuhku tak kuasa menerima banyak air. Dengan kata lain, malas mandi.

Waktu terus berganti. Jam arloji terus berdetak. Rintik hujan masih saja membasahi bumi ibu pertiwi. Rasanya perutku masih terasa kenyang akibat makan tadi sore. Pukul 20.00 kita sudah dipersilahkan makan malam. Tidak di tempat yang tadi. Kali ini makannya di rumah depan sekolah. Ada beberapa orang pula yang memesan kopi untuk penghangat badan.

Selesai makan malam ada beberapa kelompok orang yang berkumpul sambil makan kacang. Ada pula yang malah asyik nonton TV di kantor. Yang hanya tiduran pun bisa ditemui.

Selama berada di SMP kita tidur di dalam kantor guru. Meja dan kursi dirapatkan. Lalu lantai yang kosong itu digelari tikar-tikar yang dibawa dari rumah. Pukul 21.00 kita dikumpulkan. Berdiri berjejer-jejer mengelilingi meja tenis meja berwarna hijau tua agak muda. Ada banyak dari kita yang tidak saling kenal. Satu persatu dari kita memperkenalkan diri. Nama, alamat, asal sekolah, makanan, kesukaan, hoby, email, nomor HP, bahkan ada pula yang sempat menanyakan pacar.

Disitu ada sepasang muda mudi mengenakan jaket sama berwarna hijau muda. Ternyata itu adalah pasangan yang baru 3 hari jadian. Uhh… So sweet banget ya. Nampaknya mereka biasa saja mengenalkan diri sebagai pasangan di depan Om Praw. Gurunya Komputernya di sekolah. Aku sedikit terheran-heran. Tak ada raut muka malu atau tersipu di wajah keduanya. Teman-temannya sibuk menyorak’i mereka berdua dengan candaan dan celaan ala anak SMA. Usiaku hanya terpaut satu tahun dari mereka. Bahkan mungkin hanya beberapa bulan saja. Tapi aku merasa beberapa tahun lebih dewasa di samping anak-anak SMA itu. Malah terbesit di pikiran untuk bisa kembali mengulang masa-masa SMA yang rasanya terlalu singkat untuk dinikmati itu.

Pukul 10.30 tubuhku terasa sangat lelah. Ku baringkan tubuhku pada kain tebal berwarna putih tulang yang digelar diatas lantai. Kata Om Praw, selama beliau mengajar si SMP 2 Gondang, dia memang tidur di tempat yang ku tiduri itu. Begitu banyak nyamuk yang menghinggap tubuhku. Seluruh tubuh ku tutupi kain. Bagian wajah tertutup kain jilbabku. Sebagian kulit yang tak tertutup baju seperti tangan dan kaki aku tutupi dengan jaket. Entah jaket milik siapa saja yang menempel tubuhku. Aku tak peduli! Yang penting nyamuk-nyamuk itu tidak mengeroyok tubuhku. Malam semakin dingin, tubuhku pun ikut menggigil. Membuatku sejenak melupakan kelelahanku akhibat perjalanan tadi siang.

Aku yang terkulai lemah seperti mayat hidup tak berdaya di atas selembar kain tiba-tiba terbangun karena suara panggilan teman. Ku lihat jam di dinding yang tertempel di ruang kantor guru menunjukkan pukul setengah 12. Aku dan manusia-manusia yang berada di dalam ruangan berhamburan keluar dari sarangnya.

Ternyata sedari tadi teman-temanku mempersiapkan api unggun untuk tengah malam nanti. Rintik-rintik air masih terus menetes dari langit. Tubuhku tak kuasa menahan dinginnya malam itu. Tubuhku menggigil. Serasa ingin pingsan menerima tetesan air itu. Anak-anak SMA itu telah duduk disamping kayu bakar yang telah siap di hanguskan. Mereka duduk diatas sebuah tikar yang samar-samar berwana hijau tua dengan selingan coklat muda. Masih di bawah rintik air hujan.

Menunggu setengah jam serasa 5 jam. Akhirnya aku berteduh di depan salah satu kelas yang paling dekat dengan kayu bakar. Beberapa menit sebelum jam 12. Api unggun telah menyala-nyala. Api itu terlihat menari-nari di bawah rintik grimis malam itu. Aku pun berhambur mendekati nyala api. Rasanya tubuhku mulai menghangat. Beberapa orang melemparkan singkong ke dalam api unggun.

Pukul 12 tengah malam telah tiba. Beberapa dari kita meletuskan kembang api ke atas angin. Dor… Dor… Dor… Suara itu menggelora dan terdengar sangat keras seperti bom yang di ledakkan. Aku merasa sedikit was was. Ini adalah desa terpencil dan tentu tak pernah merayakan malam tahun baru.

Suara yang terdengar di desa Krondonan itu hanya lah jangkrik dan kodok. Kalau yang terbiasa hidup di perkotaan pasti sangat kaget melihat keadaan desa itu. Menginjak malam hari. Lampu yang menyala hanya di dalam rumah. Tak satupun orang yang memiliki lampu di serambi depan rumahnya. Jalan-jalannya sangat sepi dan gelap. Aku dan segelombolan orang dari Bojonegoro di buat terheran-heran dengan keadaan itu. Keadaan seperti itu akan dijumpai di kota saat mati lampu. Dan disana waktu itu tidak mati lampu.

Kembang api itu masih beberapa menit menari-nari diangkasa diikuti suara yang menggelegar. Aku pikir, semua orang di desa itu akan terbangun malam itu juga. Mengira ada bom yang diledakkan. Dan ketika mereka keluar rumah. Akan terlihat merah kuning hijaunya warna kembang api di udara.

Ada sedikit kekhawatiran di hatiku. Orang-orang desa itu pasti akan sangat terheran melihat kembang api itu. Lalu, bagaimana jika ada bayi yang nyenyak tidur terbangun oleh suara ledakan lalu menangis meraung-raung sampai pagi? Dan bagaimana jika ada orang tua renta yang jantungan mendengar suara ledakan kembang api buatan kita? Di sebuah rumah samping sekolah ada sebuah kandang sapi dengan beberapa sapi tinggal di dalamnya. Tak sengaja sapi-sapi itu bergerak gerak tak tentu arah di dalam kandang seperti orang ketakutan.

Aku pikir semua orang akan menyambangi kita. Namun, karena pesta kembang api itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Karena kita memang hanya membawa sedikit kembang api besar. Lainnya hanya kembang api kecil yang biasanya disukai anak-anak TK.

Selesai memainkan kembang api. Kita melahap singkong bakar yang telah terpanggang di dalam api unggun. Panasnya singkong tidak membuat kita enggan memakannya. Namun, ketika sampai di mulut. Terasa pahit di lidah. Aku hanya memakan sedikit dagingnya. Lalu berlari mengambil minum.

Jam 1 malam semua sudah usai. Para manusia telah memenuhi ruangan kantor. Ada beberapa anak SMA yang masih berebutan main PS yang dibawa dari rumah. Ada yang malah asyik nonton TV. Aku sendiri sibuk menata posisi tidurku. Posisi tidur yang tak beraturan. Ada yang tidur di kusri, di meja, diatas lantai. Kebanyakan dari kita tidur diatas lantai bertikar. Jam 2 semua suara manusia hampir tak terdengar. Semua telah tertidur. Entahlah? Mungkin ada beberapa dari mereka yang hanya memejamkan mata dan tak bersuara untuk menghormati teman yang lain.

Jam 5 pagi semuanya sudah pada bangun. Ada yang masih sibuk ngantri di kamar mandi. Padalah airnya saja hanya sedikit. Ada yang masih bermalas-malasan di tempat tidurnya dari semalam. Ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 06.00. Grimis tak lak lagi ada. Tergantikan butiran-butiran lembut embun yang memenuhi pagi. Udara yang benar-benar sejuk.

Pukul 07.00 kita digiring om Praw menuju ke sebuah air terjun yang letaknya 2 km dari sekolah. Jalan yang kita tempuh benar-benar sangat menyulitkan perjalanan kita. Sisa hujan semalam menuat tanah berlumpur semakin sulit di lewati. Banyak yang tidak mengenakan alas kaki. Aku yang juga ikut kesulitan berjalan dengan sandal jepit warna hijau yang enah milik siapa, akhirnya memutuskan meninggalkannya di di perjalanan. Kita dimanjakan oleh panorama alam yang sulit di jumpai di kota. Hamparan sawah padi. Kebun jagung. Serta berbagai jenis palawija kita jumpai disana.

Para petani sedang beraktifitas seperti biasanya. Terlihat beberapa anak-anak kampung sedang mencari belut di salah satu sawah berlumpur milik penduduk. Jalan semakin sulit di lewati. Kita harus menyebrang sungai berbatu yang licin. Dinginnya pagi itu masih saja bisa mebuat tubuh kita berkeringat karena setengah jam perjalan yang kita tempuh. Alhasil, kita temukan sebuah air terjun yang indah. Tingginya mencapai 20 meter. Sangat indah dan mempesona.

Berfoto adalah kebiasaan yang tak pernah terlupakan. Sembari asyik berfoto ria. Anak-anak SMA itu membikin kehebohan lagi. Uhh… Mereka mandi di bawah air terjun itu. Tadinya hanya ada 2 orang. Lalu yang lainnya menyusul. Aku tak berani ikut. Takut masuk angin. Meskipun sebenarnya pengen. Lha tapi, aku juga tak bawa baju ganti. Jadi ku urungkan niat.

Pukul 09.00 semua orang pada berebut untuk sarapan. Lagi-lagi di tempat semalam kita makan malam. Sebagian dari kita memutuskan untuk makan di depan rumah. Berjejer-jejerlah kita di pinggir jalan. Kita tak perlu khawatir. Karena jalan disini sangat sepi.

Seorang bapak-bapak setengah baya menghampiri Om Praw. Menanyakan dari mana kita. Dan kenapa berada di sekolahan itu. Sepertinya dia termasuk salah satu orang yang merasa terganggu karena suara kembang api semalam. Pada akhirnya kita tahu kalau dia adalah lurah d desa itu. Kita memang sudah membuat geger seluruh kampung gara-gara kembang api itu. Namun, apk lurah itu tak jadi marah setelah tahu kalau. Om Praw adalah guru dari SMPN 2 Krondanan.

Seluruh ruangan dibersihkan dan ditata seperti sedia kala. Kita berkemas menuju ke suatu tempat yang tentu asing buatku. Semua barang telah dikemasi oleh pemiliknya masing-masing. Pukul 09.40 kita meninggalkan desa Krondonan. Jalan yang kita tempuh tak lebih jauh dari jalan yang kita lewati ketika berangkat.

Ternyata kita akan menaiki gunung Pandan. Semua motor dan tas bawaan kita tinggal di sebuah rumah milik temannya Om Praw. Karena kita hanya bisa berjalan kaki untuk melewati jalan gunung tersebut. Sudah jam 10.00 kabut tebal masih menyelimuti desa dan gunung yang akan kita daki. Sempat kita mengurungkan niat untuk mendaki gunung itu. Namun akhirnya tetap dilanjutkan juga.

Hanya pohon dan semak belukar yang kita temui disana sini. Hanya 2 buah botol air aqua besar yang kita bawa. Makanan sedikit pun tak terbawa. Perjalan yang panjang dan sangat melelahkan. Rasanya rombongan kita sering dibohongi para pencari kayu di hutan. Mereka bilang, tinggal sedikit lagi. Tinggal 2 putaran. Tapi yang kita rasakan seperti hanya berputar-putar di tempat yang itu-itu saja.

Setelah 2 jam berjalan sampailah kita pada puncaknya gunung pandan. Aku pikir tak layak disebut sebagai puncak. Diatas sana rasanya datar-datar saja. Ada sebuah pemancar yang berdiri tegak disana. Semacam tower. Tapi tak tau lah untuk apa besi-besi itu berdiri diatas sana.

2 botol air tak cukup untuk 20 orang yang kehausan dan kelapara. Ketua Blogger Bojonegoro menaiki sebuah pohon mangga dengan lihainya dia memetik satu persatu buah yang sudah tua dari ranting pohonnya. Meskipun akhirnya dia harus rela di kerubungi semut-semut di seluruh badan. Mangga itu rasanya benar-benar sangat kecut. Karena lapar dan haus. Tetap saja termakan habis oleh mulut-mulut kita.

Rasanya ketika kita turun, perjalanan tak selama ketika kita berangkat. Jam 14.00 kita turun dari gunung. Kita bergegas mengambil motor dan melanjutkan perjalanan pulang. Rasa lelah sudah mendera badan. Di tengah perjalan kita berhenti di sebuah warung tengah hutan untuk makan siang. Akhirnya bisa makan juga… Semua melahap makanan yang diambilnya dipiring. (Rachma Nurlailla)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here