Home Sastra Prosa SUTIYEM

SUTIYEM

454
0
Oleh : Olyvia Dian Hapsari
SUDAH tiga bulan ini Mbak Yem ndak masuk kerja. Aku tak pernah melihat lagi sosoknya yang berisi dan berkulit legam itu mondar-mandir mengepel lantai rumah Bu Danang. Seperti yang telah biasa ia lakukan persis pada pukul empat sore. Aku juga tak pernah mendengar teriakan Rofi’i, anaknya yang berumur tiga tahun memanggil, “Mak..Mak…!”. Dan tak lagi menemuinya yang berpeluh saat sibuk menyapu halaman sambil menggendong  Rofi’i.
      Rumah Bu Danang menjadi sepi. Tidak seperti dulu yang ramai dengan suara teriakan dan tangis Rofi’i yang memanggil Mak-nya, juga tawanya yang renyah saat bermain dengan Wawan, anak Bu Danang. Seperti sore ini, halaman rumah Bu Danang masih penuh dengan daun mangga dan bunga mertego yang berjatuhan. Padahal sudah pukul empat. Pintu rumahnya masih tertutup rapat. Kemana ya perginya Mbak Yem itu ?
***
      Namanya Sutiyem. Perempuan bantaran kali Bengawan Solo. Perawakannya sedang tapi agak berisi. Perempuan berkulit gelap khas orang desa. Rambut keritingnya panjang dan legam. Sepanjang hari rambut itu diikat dan jarang sekali diurai. Dia tidak cantik, tapi juga tidak bisa dikatakan jelek. Matanya cukup tajam, kontras dengan kulit wajahnya yang gelap. Hidungnya tidak mbangir, tapi sedap dipandang. Apalagi bibirnya yang tidak merah merekah, sangat menawan bila tersenyum dan membingkai giginya yang putih kekuningan. Saat tertawa ada kerutan-kerutan halus menghias ujung matanya. Semua orang menyukainya.  Karena suara renyahnya selalu menyapa siapa saja yang ditemuinya. Perempuan yang sumeh dan grapyak.
       Mak-nya hanya melahirkan anak dua kali, tidak seperti orang-orang desa jaman dulu yang punya banyak anak hingga belasan. Sutini yang bukan lain adalah mbak yu-nya, dan dirinya. Sutini menikah pada umur 14, sedangkan ia dua tahun lebih lama dari mbak yu-nya. Ia dinikahkan dengan seorang lelaki dari desa seberang kali Bengawan Solo pada umur 16 tahun. Pada waktu itu ia hanya perlu mengerti bahwa setelah menikah ia sudah sepenuhnya milik suami. Ia harus melayani apa pinta suaminya dan bagaimana ia harus membesarkan anak-anaknya dengan baik.
      Sutiyem adalah perempuan polos. Tapi dibalik kepolosannya, segala pikiran kritis kerap menggejolak dalam batinnya. Namun pikiran itu berhasil dikelolanya dengan baik. Kesabaran dan ketabahan membungkus pikiran itu hingga menjadi suatu kekuatan tersendiri yang dipunyainya.
      Seperti saat ia harus menghadapi teriakan suaminya yang minta makan, sementara ia harus mencukupkan segenggam beras yang tersisa untuk makan mereka hari itu. Dan tak pernah sedikitpun ia mencela suaminya yang pengangguran dan bersedia bangun pagi-pagi buta untuk persiapan berjualan nasi kuning kelilingnya. Bahkan ia masih menyediakan senyum untuk suaminya yang baru pulang tengah malam dan masih menaruh kepercayaan meski suaminya pernah dituduh meniduri istri tetangganya.  Hingga selanjutnya ia memiliki tiga orang anak yang besar dengan susah payahnya.
      Suatu siang, aku menemukannya di dapur rumahku. Menuang sayur panas dalam mangkok besar. Ia tersenyum manis padaku dan menyapa aku dengan krama inggil. Waktu itu aku masih umur 8 tahun. Baru mengenal sedikit pelajaran bahasa Jawa soal krama inggil.
      “Mbak e sinten nggih ?” sebuah pertanyaan yang pernah diajarkan ibuku ketika aku bertemu dengan orang yang belum aku kenal.
      “Walah.. Kulo rencange ibuk, dik Ranti.. Mbak Yem.. Sutiyem.. ” ia meletakkan mangkok sayur yang mengepul pada meja makan di belakangku. Lalu duduk dilantai depanku, tertawa gemas sambil mencubit pipiku.
***
      Lima tahun ia mengabdi pada keluargaku. Aku sangat menyukainya. Ia selalu berlari menjemputku dihalaman kalau sudah mendengar celotehku bersama Pak Kardi, tukang becak yang sudah lima tahun pula mengantar dan menjemputku sekolah.
      Berkat dia aku selalu meraih nilai tertinggi di kelas dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Aku belajar setiap hari dari percakapan krama inggilnya. Meski kerap kali ia membuatku merasa seperti putri keraton kecil karena perlakuannya yang berlebihan padaku, aku sangat senang ketika dibolehkan ikut pulang dan menginap dirumahnya.
      Aku takjub melihat orang-orang desanya yang selalu menyapa dia yang memboncengku dengan sepeda unta pinjamannya di sepanjang jalan. Dan para tetangganya yang berbondong-bondong mengikuti kami sampai ke rumahnya. Aku seperti sesuatu yang asing bagi mereka, sehingga mereka mengkerubutiku kemanapun aku pergi. Ibu-ibu berebut tanya padanya, siapa aku ini.  Anak-anak kecil tak capeknya membuntutiku, menatapku dengan polosnya sampai mereka lupa menutup mulut mereka hingga air liurnya menetes.
      Bahkan mereka masih juga ingin melihatku, walau aku mau mandi. Sampai akhirnya anak perempuan, sulungnya, mencoba mengusir mereka karena aku malu harus mandi dikerubut orang seperti itu. Mandi di sebuah tempat dengan hanya ditutupi empat tembok sebahu orang dewasa dan tak beratap.
      Aku menyukainya. Bagaimana ia menganggap aku seperti anaknya yang butuh kehangatan, ketika angin malam yang dingin menyelusup masuk kerumah lewat celah-celah gedhek. Ia memelukku dengan damai, walau akhirnya aku pun harus memeluk anaknya yang paling kecil karena kedinginan pula.Dan begitu suaminya datang dan ambruk diranjang sebelah, ia langsung bangun dan pergi ke belakang. Menyerahkan secangkir kopi panas pada suami yang tak pernah dicelanya itu.
      Aku sangat menyukainya..
      Tapi, rasanya kehidupan ini begitu kejam untuk orang seperti dia. Menghidupi tiga anak, emak, dan juga suaminya. Anak-anak yang sangat berharap hidup enak, yang sepertinya belum bisa melihat beban emaknya. Suami yang hanya bisa mengeluh dan menyalahkan keadaan, yang juga berharap hidup enak pula. Dan emak yang selalu prihatin akan kerentaannya..
      Aku pernah melihatnya membeli beberapa bungkus nenas muda. Dia memakan nenas itu hampir tiap hari bersama sebotol minuman bersoda. Memesan jamu-jamu tertentu dan meminumnya secara rutin. Suatu hari ia menangis sambil memeluk lutut ibuku. Ibu memeluknya dengan tangis pula.
     “Alhamdulillah.. Gugur buk..”
      Beberapa hari kemudian, suaminya dipanggil bapak. Dengan lagak yang sok dia duduk di hadapan bapak dan menjawab semua pertanyaan serius bapak dengan enteng.
      “Kulo mboten remen KB, pak. Lha sak meniko artho kulo mpun nipis. Nggih, kersane menopo sing mpun kedados..”
      Dan aku lihat sebulir air mata Mbak Yem jatuh ke dalam ember air sabun  ketika ia memeras kain pel dengan keras.
***
       Tiga tahun lalu, dua tahun setelah mbak Yem tidak lagi bekerja dirumahku. Bapakku ngunduh mantu, kakakku akan menikah.    Mbak Yem datang kerumah, membuat kaget orang-orang yang  sedang sibuk memasak. Ia datang sambil menggendong balita umur dua tahun dan menenteng sebuah tas yang berisi pisang susu dan jajanan.
      Semua orang menyambutnya, temasuk mbak Uci, orang paling cerewet yang pernah kutemukan yang menjadi rewang dirumahku sekarang. Orang-orang berebut tanya padanya.
      “Lho, Mbak.. Sampun gadah yoga maleh ..”
      “Nggih, buk.. Hihi.. Mpun buk, sampun. Cekap sekawan, buk. Urip kok susah mawon”, ujarnya tertawa, walau semua orang tahu ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
      Semenjak kedatangannya itu ia membantu kami mempersiapkan acara pernikahan. Setelah itu, Ibu mengajaknya untuk bekerja dirumah Bu Danang. Ia bekerja sambil mengurus anaknya, Rofi’i. Setiap hari pikirannya dibelah dua, menyelesaikan pekerjaannya dan anaknya. Aku sering melihatnya menyapu dan mengepel sambil menggendong Rofi’i. Dan langsung berlari melindungi Rofi’i ketika melihat mobil mendekat menuju ke arah Rofi’i yang bermain ditengah jalan.
      Aku rindu suara jerit Rofi’i ketika kudekatkan seekor  kucing padanya. Celotehnya yang bercerita tentang pengalamannya menyeberang sungai Bengawan Solo yang setiap pagi harus berdesak-desakkan.Atau jawaban polosnya ketika aku bertanya tentang bapaknya.
      “Le, bapak nang ndi le ? Kok gak tau mrene.”
      “Bapak ilang. Aduoooh !”
      Dan biasanya Mbak Yem akan menegurnya atau bahkan mencubit pupunya sampai ia menangis.
      Sampai saat ini, aku tak pernah tahu kabarnya. Sudah 3 bulan aku tak melihat sosoknya. Suara-suara yang dulu menghias siang yang terik. Suara-suara yang melelehkan kebekuan suasana diperumahan. Teriakan seorang ibu yang memperingatkan anaknya, dan teriakan anak yang membutuhkan perlindungan ibunya.*
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here