Home Catatan Surat Buat Midori (dengan Em Kecil)

Surat Buat Midori (dengan Em Kecil)

399
0

Oleh Wulida N Ubudiyah

Apa saya harus membaca KBBI agar pasokan kata yang saya miliki kembali?

Hai, Midori-kun…

Ah, rasanya canggung sekali, ya. Saya memang tidak bisa mengawali surat, sama
halnya dengan saya yang tidak bisa mengawali percakapan kita.

Midori-kun selalu mencari topik pembicaraan, tapi saya hanya menanggapi dengan senyum kecil.  Saya tidak bosan dengan percakapan-percakapan kita. Saya hanya grogi. Rasanya sudah lama sekali saya tidak bercakap secara “intim” dengan lelaki. Jadi, midori-kun harus maklum.

Saya bingung, dulu saya pernah menulis surat kaleng untuk midori-kun. Tapi detik ini, saat saya ingin menulis surat lagi, saya bingung. Pasokan kata yang saya miliki lenyap.  Apa saya harus membaca KBBI agar pasokan kata yang saya miliki kembali?

Sebelumnya, seperti yang sudah-sudah saya katakan di surat-surat yang lain, saya ini bukan orang baik. Saya ini pengumpat sejati, malas mandi, berantakan, tidak punya rasa peduli, acuh, berlidah tajam dan lainnya dan sebagainya. Jadi apa tidak salah midori-kun memilih saya?

Terlalu banyak aib saya yang midori-kun ketahui. Ngomong-ngomong saya juga perempuan dengan gengsi yang cukup tinggi. Setiap kali saya dekat dengan lelaki, saya menutupi sikap dan sifat yang sekiranya tidak pantas dimiliki seorang calon ukhti.  Tapi dengan midori-kun, saya menjadi diri saya sendiri.

Hal ini tentu saja ada alasannya. Saya tidak pernah mengira akan jatuh cinta pada midori-kun. Kalau saja dulu saya tahu midori-kun semempesona ini, tentu saja saya menutupi aib-aib saya, dan menjadi sosok ukhti berhati bersih dengan pikiran yang bersih juga. Tapi terimakasih, karena midori-kun, untuk pertama kalinya saya menjadi diri saya sendiri saat jatuh cinta.

Midori-kun, saya kagum sekali pada midori. Bukan karena midori-kun begitu mempesona di lapangan basket dengan tembakan point tiga, tapi saya kagum dengan kemampuan midori-kun menggedor pintu hati saya. Eh, saya ralat. Bukan menggedor, melainkan mendobrak. Midori-kun tamu yang seenak udel ya. Tiba-tiba mendobrak pintu hati anak orang.  Pokoknya midori-kun harus tanggung jawab.

Saya ingin meminta maaf karena saya terlalu pasif.  Saya sedang dalam proses menyesuaikan diri dengan midori-kun yang memiliki begitu banyak pengalaman dan teman-teman yang luar biasa.

Terakhir, saya kangen.  Kangen setinggi-tingginya. Kangen yang membianglala.

Saya sebenarnya belum ingin mengakhiri tulisan ini. Tapi lagi-lagi saya bingung ingin menulis apa. Ya,  semoga midori-kun selalu sehat dan mempesona. Semoga proses belajar kita dipermudah dan semoga lekas bertemu.

Salam hangat

Miura Ayumu

Wulida N Ubudiyah. Dulu suka pada Agus Noor. Sekarang entah.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here