Home Catatan Siksaan Setelah Nonton Burn After Reading

Siksaan Setelah Nonton Burn After Reading

173
0

Oleh Mohamad Tohir

SAYA habis nonton film garapan Coen Brothers (Ethan Coen dan Joel Coen) yang Burn After Reading (2008). Saya bukan hendak membuat rivew film itu. Saya hanya ingin membagikan apa yang terjadi pada saya setelah melihat Brad Pitt memerankan salah satu karakter dalam film komedi gelap itu. Saya merasa bahwa itu bukanlah Brad Pitt meskipun saya tahu bahwa itu adalah Brad Pitt. Brad Pitt yang saya kenal adalah sosok lelaki jentel yang kerap memerankan agen rahasia, petarung, cowok macho dan sebagainya. Di situ Brad Pitt tolol sekali dan saya tidak percaya itu adalah Brad Pitt. Perasaan tidak percaya itulah yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini. Perasaan tidak percaya ini sangat mengganggu saya beberapa tahun sebelumnya dalam sebuah kasus. Seiring bertumpuknya masalah, perasaan itu mengendap dan kini muncul lagi setelah nonton Burn After Reading.

Saya punya seorang kawan. Kami biasa bertemu di warung kopi. Dia teman ngobrol yang asyik. Kami bertemu di warung selalu setiap malam. Dia tak pernah tanya pekerjaan saya apa dan saya juga tidak pernah bertanya padanya. Mungkin kami sepakat bahwa pertanyaan tentang pekerjaan adalah pertanyaan yang paling najis sedunia. Setahuku dia makelar HP dan barang-barang elektronik dan dia menyangka aku adalah seorang penyair. Keuntungannya besar sehingga sering nongkrong sampai pagi di warung dan selalu mentraktir saya. Hanya sesekali saya yang nraktir hanya agar rasa sungkan saya berkurang. Ya, dia sangat berbakat ngobrol tentang apa saja dari soal film, sejarah raja-raja, makanan, gebetan, bermacam-macam binatang, barang elekronik, politisi-politisi cantik, orang-orang aneh dan sebagainya. Cara bicaranya juga mengundang perhatian; punya intonasi tepat, gerak tangan yang terjaga, pandangan yang meyakinkan, dan sesekali disertai umpatan lucu. Setiap bertemu di warung, dia selalu bercelana pendek, kaos oblong warna biru muda, pink atau kuning.

Nah, suatu siang saya mengurus sebuah surat berharga di sebuah kantor lembaga. Saya mengenakan celana selutut, kaos merah dan jaket warna hitam mbulak. Setelah sekitar setengah jam mengantre, giliran saya yang dilayani oleh petugas di kantor itu.

Sebenarnya saya berharap yang melayani adalah cewek, tapi ternyata cowok. Dia seorang dengan rambut klimis, berkaca mata dengan frame logam tipis, berbaju hem warna putih bergaris biru. Dia mulai menanyai apa masalah dan tujuan saya. Transaksi di meja resepsionis itu berjalan lancar dan surat yang saya urus selesai. Di ujung pembicaraan, dia mengkritik pakaian saya. Dia bilang kalau saya ke situ lagi sebaiknya memakai celana dan baju agar ada bedanya dengan saat di warung. Saya mengiyakan sebab sedari awal memang sudah merasa salah kostum.

Keluar sampai parkiran, tiba-tiba ada kilatan cahaya di kepala saya. Lelaki yang barusan melayani saya itu adalah kawan ngopi saya itu. Saya yakin seratus persen. Malamnya kami ketemu. Saya menanyainya dan dia mengaku sambil tertawa lebar dan bilang bahwa jangan membahas hal tak penting itu. Saya sebenarnya tak mempermasalahkan soal pekerjaan itu. Yang saya masih nggrundel adalah mengapa dia bersikap seolah-olah tak mengenalku dan aku merasa saat dia di kantor adalah bukan seperti saat di warung kopi. Sama sekali berbeda. Tapi juga bukan itu yang mengusik saya. Melainkan pikiran saya sendiri. Yakni pikrian bahwa pria yang melayani saya di kantor itu bukanlah yang sering bertemu saya di warung kopi.

Pikiran itu terus saya pelihara hingga suatu hari saya kembali ke kantor itu untuk mengurus surat milik kerabat saya yang malas datang sendiri. Di dalam kantor, perasaan bahwa kawan saya itu adalah orang lain kembali menguat. Saya tidak menemukan sama sekali bahwa orang yang tengah melayani saya itu adalah kawan saya.

Sebenarnya saya hanya ingin tahu, perasaan itu namanya apa; ada namanya sendiri ataukah include ke dalam ketidakpercayaan, keraguan, atau yang mana. Atau bisa jadi ini malah tanda-tanda penyakit? Sudah lama rasa penasaran itu ada dan terpendam sendiri oleh waktu. Saat muncul ternyata sangat mengganggu. Saya sering mengalami yang demikian. Seperti suatu kali saya melihat pagar kawat di terminal Rajekwesi dan secara tiba-tiba saya ingat pernah melihat pagar itu dan melompatinya bersama seorang teman; tapi pagar apa itu, di mana, dalam rangka apa, bersama siapa, saya tidak bisa mengingatnya. Itu sangat menyiksa. Juga siksaan saat memerhatikan jenis font halaman buku yang tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah film yang ada adegan orang mencari halaman buku tertentu tanpa tahu itu buku apa sampai harus menyobek setiap halaman banyak sekali buku di sebuah perpustakaan kota. Itu film Korea. Saya tak tahu judulnya, sutradaranya siapa, pemainnya siapa dan di mana saya nontonnya. Saya lupa sama sekali. Saya tidak nonton film Korea karena alasan itu.

Nah, begitulah yang saya rasakan saat ini saat mengingat kembali momen pertemuan dengan kawan saya tapi tak percaya bahwa itu adalah kawan saya biasanya. Perasaan itu sudah terpendam dan mencuat kembali gara-gara Brad Pitt menemukan file CIA yang dianggapnya adalah barang paling berharga dan termahal sedunia sementara dia adalah seorang pemandu olahraga di sebuah Gym.


Mohamad Tohir adalah laki-laki penuh tipu daya alias kardus yang berpikir bahwa dunia ini sangat simpel.

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here