Home Berita Shinta : Menulis untuk Berbagi Pemikiran

Shinta : Menulis untuk Berbagi Pemikiran

401
0
Shinta Ardinta. Foto Solehudin Afif.

Di penghujung malam, dua tahunan lalu, Shinta datang dengan tergopoh-gopoh. Dia menunjukkan tulisannya untuk diikutsertakan pada suatu lomba dan kami adalah panitianya. Kami menangkap keenergikan sikapnya. Dan tentu saja karyanya. Sejak malam itu, dia bergabung dengan Sindikat Baca. Di antara kami, dia paling rajin menulis. Rajin membagikannya. Rajin pula ikut kompetisi-kompetisi tulisan berhadiah.

Shinta sekarang tak lagi di Bojonegoro setelah sekitar lima tahun dia habiskan waktunya sambil menyelesaikan S1 Pendidikan Matematikanya di IKIP PGRI Bojonegoro ini. Pertengahan Maret ini dia hijrah ke Madiun. Dan pada bulan ini pulalah bukunya terbit, sebuah kumpulan cerpen.

Mestinya dia bahagia dengan terbitnya buku ini, tapi dia sedikit khawatir. Lhoh, kok? Berikut perbincangan Atas Angin dengan cewek berkacamata yang akrab disapa Shinta Ardinta ini.

Apa kabar, Shinta? Bagaimana Madiun?

Kabar baik. Madiun semakin ramai sekarang dan sedang rajin dirundung hujan malam.

Anda dikenal sebagai perempuan riang, kuat, cekatan, banyak ide, centil, dan cantik. Bagaimana tanggapan Shinta?

Dan tapi keras kepala, gak sabaran, cengeng, manja, serta masih banyak lagi misteri Ilahi lainnya.. Hehe

Apa yang Shinta rasakan dengan terbitnya Rumah Eureka?

Sedikit khawatir. Khawatir kalau-kalau cerpen tersebut kurang pas racikannya. Di samping itu, ada rasa lega yang susah dijelaskan. Lega karena selama bersama Sindikat Baca, akhirnya saya berani berkarya walau masih sekadarnya.

Bisa diceritakan bagaimana Shinta belajar menulis?

Awalnya saya hanya suka membaca. Sekedar membaca novel dan cerpen cerita cinta remaja. Hingga kemudian saya bergabung dengan Sindikat Baca. Saat itu sedang tertarik mengikuti lomba ilustrasi dengan bandrol hadiah jutaan dan aji mumpung itu bersinergi begitu saja. Setiap kali mengikuti lomba semisal cerpen, saya suka menyodorkan hasil tulisan saya kepada rekan Sindikat Baca untuk dikoreksi dan dikomentari. Saya paling sering mengajukan hal tersebut ke  Mas Nanang atau Mas Tohir . Sebagian tulisan di buku ini juga merupakan karya yang pernah saya lombakan. (Cerpennya Sasmita Fajar masuk nominasi pemenang LMCR yang diadakan oleh Yayasan Rayakultura, 2013 lalu. Pen)

Mengapa cerpen, kok tidak novel atau yang lainnya?

Mengapa cerpen? Karena cerpen adalah teman duduk paling nikmat bagi orang sibuk. Cerita singkat, tanpa perlu lupa telah dibaca sampai halaman berapa dan tanpa perlu waktu lama untuk dibaca. Cerita sekali habis yang bisa menjadi pengalihan suasana

Apa motivasi Shinta menulis?

Saya menulis untuk berbagi pemikiran. Menulis untuk didengar. Dan menulis untuk merekam jejak.

Kesulitan apa yang pernah atau sering datang ketika Shinta menulis?

Menjelaskan sesuatu tanpa berbelit-belit. Karena saya sering sekali menjelaskan sesuatu secara bertele-tele

Siapa penulis atau karya favorit Shinta dan mengapa?

Sampai detik ini masih begitu kagum dengan Eyang Mangun (YB. Mangunwijaya atau publik menyapanya Rmo Mangun. Pen) dan Burung-Manyar Manyarnya.

Di antara cerpen yang ada di Rumah Eureka, mana yang paling berkesan? Bisa cerita dengan singkat proses kreatifnya?

Hujan Senja. Saya menulis cerita itu ketika senja dan tengah hujan. Kebetulan saya penikmat hujan. Soal detailnya, ah… tentu saja ada sepercik kenangan di dalamnya…

Kemudian, dalam cerpen yang berjudul Gara-Gara Toh, tokoh aku menyampaikan semacam kegeraman pada Ahmad Tohari karena membuat Srintil gila di Ronggeng Dukuh Paruk. Apakah itu juga kegeraman Shinta? Bisa dijelaskan?

Iya. Kebetulan saya memang terinspirasi membaca Ronggeng Dukuh Paruk dari sosok Tohir dan menulis cerita itu juga berdasar apa yang saya rasakan. Kebetulan lainnya adalah bahwa Tohari dan Toh memiliki suku kata yg sama yaitu Toh

Dalam pengantar buku ini, Yonathan Rahardjo mengungkapkan bahwa sebuah karya yang berhasil itu mampu membuat pembacanya ekstasi (fly, seakan masuk ke dalam cerita). Adakah teknik khusus bagi Shinta untuk menciptakan ekstasi?

Tidak ada resep khusus. Setiap karya pasti akan menemukan penikmatnya. Saya menulis, mengotak atik kata menurut insting saya dan mungkin salah satu kisahnya kebetulan pas dengan selera Om Yo saat itu. Saya bersyukur dan berterimakasih untuk itu…

Shinta setuju kalau sekarang disebut sebagai sastrawan atau cerpenis?

Tidak. Saya masih perlu banyak belajar untuk itu. Mencoba tema lain dan mencoba ide lain juga.

Ada rencana menulis apa setelah Rumah Eureka?

Menulis apa ya? Menulis bebas dulu deh. Mengisi blog. Menyampaikan sepatah dua patah terimakasih untuk orang-orang dan hidup. Dan pemberi nikmat hidup atas beberapa kejadian luar biasa belakangan ini…

                                                                                                                    Redaksi

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here