Home Sastra Prosa Senja Terakhir

Senja Terakhir

459
0


Kelak aku kan menepi kasih..
Sepertimu yang telah menemukan pelabuhan hatimu. Walaupun itu bukan berarti aku…
Senja yang telah kita habiskan bersama, tak mampu mengikat kita dalam mahligai kesucian cinta abadi.

“Tahukah dirimu, Pena sayang? Hanya dirimu yang mampu membawaku menantang mentari. Hanya dirimu.”
“Mentari mana yang kau maksud. Sedang dirimu tak boleh terkena sinar mentari secara langsung,” tanyaku heran.
Dirinya tersenyum. Digenggamnya tanganku yang lebih kecil dari tangannya. “Mentari manapun, Pena. Mentari manapun.”
Kami duduk menatap senja yang terpampang di ujung laut. Keingananku untuk menggenggam senja bersamamu telah tercapai. Mungkin inilah waktunya.

Kutatap untuk terakhir kalinya wajah pucat ini. Wajah yang akan kurindukan tiap malam. Tangan mungilku yang sering digegang kehangat tubuhnya. Dan senyumnya… Ah…
Senyumnya selalu mampu membawaku terbang dengan SAYAP yang indah.

Aku bukanlah orang HEBAT yang bisa selalu di sampingmu. Maafkan aku…
Karena setelah ISTIRAHAT ini selesai. Aku mencari pengganti dirimu. Walapun tak pernah ada yang bisa mengalahkan cintamu padaku.
Dengan semua peluh tangis aku pergi. Meninggalkanmu sendiri di dalam sana. Di tempat yang penuh kedamaian.
Langkahku tetap mantab mengabaikan ribuan tatapan sinis dan iba.
“Kasihan sekali perempuan itu ya, batal nikah. Lagian kok mau sih sama lelaki penyakitan macam itu.”

 

Penulis : Vera Astanti
Note Facebook 27 September 2012

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here