Home Buku Sekedar mencatat dari yang “BUKAN cokelat”

Sekedar mencatat dari yang “BUKAN cokelat”

340
0

Catatan Oleh A Danial A.

karya sarasdewi

Cinta BUKAN cokelat

SEKITAR SEBULAN YANG LALU, buku kecil itu saya temukan di tumpukan buku-buku lama yang sudah usang di sebuah bazar buku. Dan memang buku itupun juga sudah usang. Saya lalu tertarik untuk memilikinya (meski agak enggan membelinya). Besit ketertarikan saya pada buku yang berlabel “cinta BUKAN cokelat” itu adalah karena sosok si pengarangnya, Saras Dewi. Lagu “Lembayung Bali” karyanya adalah merupakan salah satu lagu favorit saya semenjak lagu itu release pada tahun 2003-an(selain kesukaan yang sama akan Laut dan Jingga). Karena itulah ketertarikan itu tiba-tiba muncul ketika mendapatinya menulis sebuah buku. Meski judul buku itu agak menggelitik benak saya yang (maaf) tidak begitu menyukai tema tentang cinta, apalagi cokelat.

Setelah tergeletak tak rapi di rak buku selama sebulan, kemarin (dengan iseng) saya coba ambil dan mulai membacanya. Dan wo0w, it’s surprising!! ternyata boleh juga menikmati “(BUKAN) cokelat” mulai dari produk filosofis hingga sains. Background filsafat yang dimiliki Saras Dewi, yang dilebur dengan gaya penulisan yang begitu ringan dan santainya, membuat buku (yang mestinya merupakan buku renungan) ini menjadi enak dinikmati, dilumat sampai habis. tapi tetap saja BUKAN cokelat.

Paparan Dosen filsafat Universitas Indonesia ini, sebenarnya dititik beratkan lebih pada kampanye filsafat. Pemahaman umum yang mengatakan bahwa filsafat sudah usang dan rumit, mencoba dipatahkannya dengan kemampuannya untuk menjelaskan secara sederhana dan menyenangkan, dia juga berusaha menunjukkan kepada kita bahwa filsafat masih relevan sebagai salah satu instrumen untuk memahami kehidupan,termasuk cinta. Pada awalan bab Fisafat Cinta, ia sedikit memberikan gambaran tentang apa itu filsafat dengan bahasa anak muda (baca:gaul) yang begitu ringan. Dan memang, sepertinya buku ini lebih ditujukan pada pembaca muda jaman sekarang yang cenderung “have fun” (termasuk saya) yang memang agak ‘eneg’ dengan filsafat.

Seperti halnya Lagu “Lembayung Bali”, buku ini juga membawa keindahan semangat dalam menjalani kehidupan dengan bijaksana (baca filosofis). Dalam buku ini, Saras Dewi hanya memberi paparan (lebih tepatnya gambaran) akan makna cinta yang (memang) lebih dari sekader cokelat, ia sama sekali tidak mengarahkan kepada kita untuk meng-amini (atau bahkan meng-imani) salah satu makna, baik itu pada tinjauan filosofis maupun sains. Dia membebaskan kita untuk mencari sendiri makna tersendiri untuk cinta, seperti sifat dasar cinta yang memanusiakan manusia.

Dan, di bagian akhir buku ini ada gambaran menarik tentang cinta. cinta pun mengalami evolusi layaknya Manusia, ah.. tidak hanya manusia, hewan pun ternyata juga punya interest terhadap lawan jenisnya. Sedangkan cinta bagi manusia,bukan melulu tentang pasangan atau ketertarikan dengan lawan jenis. Ia bahkan menjadi kekuatan yang menjadikan manusia benar-benar manusia.

Memang, cinta itu sangatlah universal. Sehingga untuk menikmatinya, kita tidak sesederhana layaknya menikmati sebatang cokelat.

                                                                                                                                                A Danial A.,Penggagas JIANRAPETENAN (Kajian Rabu Petang Tentang Tulisan) Sindikat Baca

diambil dari danialsunyi.blogspot.com

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here