Home Buku Sejak Kapan Mimpi Harus Bayar?

Sejak Kapan Mimpi Harus Bayar?

114
0

Oleh Ilham Khatulistiwa

“SAYA BERJANJI, 29 tahun lagi saat berumur 40 tahun, saya siap bertemu lagi di Gunung Krakatau! Apapun yang terjadi!”

Novel inspiratif yang ditulis oleh Heri Hendrayana Harris ini, bercerita tentang rencana reuni yang akan dilakukan Doni dan teman-teman masa kecilnya di geng Pasukan Semut dan Empat Matahari.

Ada Doni, Nurdin, Yusuf, Wahyu, Fitri, Nani, Irma dan Iroh. Itulah Pasukan Semut. Mereka adalah delapan anak yang berasal dari Kampung Menes Kota Pandeglang Banten, yang kreatif dan pintar, yang saling bantu seperti semut untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Empat anak laki-laki dan empat anak perempuan dari SDN 1 Purwaraja yang dikenal nakal tapi selalu memiliki banyak ide. Mereka bermimpi jika 29 tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2013, apa pun yang terjadi, mereka akan bertemu lagi di Gunung Krakatau.

Dan mimipi-mimpi itupun terwujud. Nurdin sekarang sudah berhasil mewujudkan mimpinya menjadi bankir, bekerja di sebuah bank swasta dan ditugaskan di Malaysia. Yusuf sukses menjadi direktur sebah perusahaan di lingkungan BUMN. Wahyu menjadi profesor termuda sepanjang sejarah di Banten setelah profesor Bachtiar Rivai. Fitri dan Nani jadi guru SMA di Pandeglang. Irma jadi dosen di Lampung. Dan Iroh menjadi pejabat di instansi pariwisata Provinsi Banten.

Di antara mereka, hanya Doni Sastrawiranata Akbar sang pemimpin Pasukan Semut saja yang mengalami kegagalan dalam mewujudkan mimpi kedelapan, yaitu gagal menjadi seorang pilot. Ya, awalnya mimpi menjadi pilot. Tapi, setelah tangan kirinya harus diamputasi, kini dia menjadi seorang wartawan.

Sedangkan Empat Matahari, ada Ujer, Yayat, Herman, dan Doni sendiri. Mereka adalah teman senasib dan sepenanggungan yang dipertemukan dipertemukan di Ruang Anggrek RSUD Serang. Doni, Ujer, dan Herman harus mengikhlaskan satu tangannya diamputasi, sedangkan Yayat kaki kanannya.

Mimpi mereka bersama-sama di sumur tua belakang RSUD Serang pun menjadi nyata. Ujer ingin punya toko besar di Karangantu, terwujud. Yayat yang lulus Al-Azhar, Kairo, Mesir, ingin membangun pondok pesantren yang besar, megah, dan modern, terlaksana. Herman ingin memiliki kapal yang besar, juga terwujud.

“Semua orang hebat di dunia ini hobi membaca. Jika kamu rajin membaca maka kamu tidak akan jadi anak yang minder hanya gara-gara tanganmu satu. Saya yakin, kamu akan jadi anak yang hebat! Satu tangan olehmu, satu tangan lagi Allah yang akan memberi.”

Juga petuah dari Bapaknya, “hidup sebagai orang cacat itu butuh perjuangan. Tapi, percayalah, buku dan olahraga akan menjadikanmu kuat dalam mengatasi perlakuan diskriminatis masyarakat!”.

Novel fiksi ini menurut saya, sengaja menceritakan sosok Doni yang digambarkan mirip dengan penulis sendiri, yaitu Gol A Gong. Doni, dengan keterbatasannya mampu berkompetisi dalam hidup dengan orang lain yang normal. Salah satunya, ketika dia mampu menjadi juara bulutangkis se-Kabupaten Pandeglang, mengalahkan pebulutangkis berlengan dua.

Sosok Pak Akbar lah yang berpengaruh pada perkembangan karakter Doni Si Es Bon-Bon. Sosok ayah yang mengajarkan kepada anak semata wayangnya tentang kasih sayang, rajin, tidak sombong, pantang menyerah, disiplin, serta pasrah terhadap kehendak Allah. Pak Akbar selalu menanamkan pada diri Doni untuk memiliki mimpi setinggi langit.

“Cita-citamu harus tinggi, setinggi langit!”

“Kalau tidak tercapai , Pak?”

“Bermimpi lagi! Mumpung gratis!” Bapak tertawa.

“Tapi, Doni ingin menjadi pilot, Pak!” begitu mimpiku ketika masih berlengan dua.

“Kalau ingin menjadi pilot, tubuhmu harus sehat dan kuat. Harus rajin belajar supaya pintar. Pilot itu selain tubuhnya sehat, kuat, juga pintar!”.

Begitulah pecakapan bapak anak selepas subuh, saat mereka olahraga pagi berlari mengelilingi Alun-alun Menes.

Seperti hal nya Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, Gol A Gong menjadikan Pasukan Matahari nya ini sebagai nyala api semangat bagi anak-anak Indonesia. Semoga kelak akan tumbuh berkembang anak-anak Indonesia yang mencintai ayah dan ibunya, saudara-saudaranya, perbedaan dan keanekaragaman budayanya.


Penulis adalah alumni STIE Cendekia. Suka baca buku tipis sambil minum jus nangka. Tidak doyan rokok.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here