Home Buku Secangkir Kopi, Buku dan Kenangan

Secangkir Kopi, Buku dan Kenangan

100
0

oleh arizka nurachma

SEPTEMBER 2017 di Indonesia bagian tempat tinggalku, musim masih kemarau. Di siang hari yang terik itu kebetulan aku sedang libur kerja dan bosan di rumah. Aku mengambil telepon genggam yang sedari tadi tergeletak di samping tempat tidurku. Memainkan beragam permainan untuk mengusir bosan. Sekali dua waktu berselancar di dunia maya untuk mencari hiburan. Sia-sia! Kuletakkan kembali telepon genggamku dan mencari kartu namamu yang kemarin hari kau berikan padaku. Lima belas menit bukanlah waktu yang singkat untuk menemukan kartu namamu di sela-sela charger, earphone, dompet, tisu, dan bungkus permen dalam tasku. Kupencet nomor teleponmu dalam telepon genggamku dan tak lama berselang kudengar suaramu.

“Apa kabar?” begitu tanyaku.

Namun bukannya menjawab, kau malah bertanya “jam berapa?” seakan-akan sudah tahu kalau siang ini aku ingin bertemu denganmu. Memang, kau bukan lelaki pertama yang kutahu lebih senang mengoleksi buku ketimbang baju apalagi perempuan. Namun kau lelaki satu-satunya yang tinggal jauh dari tempat tinggalku. Butuh waktu satu jam untuk sampai di rumahmu dan itu membuat kebosananku semakin menjadi-jadi. Ah, sepertinya saat kita bertemu nanti, kau perlu mempertimbangkan saranku untuk berpindah tempat agar tak jauh dari tempat tinggalku. Semata agar aku tak perlu berjalan jauh untuk meminjam koleksi bukumu.

Baca Aku dan Buku dalam Sepekan

Entahlah, aku tidak tahu mengapa pada akhirnya aku memilih buku berjudul Singgah dari sekian banyak buku yang kau silakan untuk kupilih. Singgah adalah buku antologi cerpen yang ditulis oleh sebelas penulis, tapi aku lupa siapa saja. Satu nama yang cukup kukenal dan membuatku ingin meminjamnya adalah Bernard Batubara. Aku tahu karena aku adalah salah satu pengikutnya di jejaring sosial twitter.

Baik, kembali ke Singgah.

Kutemukan buku itu berada di rak bukumu paling belakang. Ketika kubuka halaman-halamannya, kutemukan sudah usang dan terdapat begitu banyak debu bertebaran.

“Itu tidak pernah kubaca,” demikian katamu. “Kalau kau mau, ambil saja.”

Aku tidak tahu alasan apa yang menjadikanmu tidak pernah membacanya selepas kau beli dengan susah payah karena toh ketika kau menuruti keinginanku untuk mencari secangkir kopi, aku lalai untuk bertanya. Kutahu kau suka kopi espresso. Namun saat itu kau enggan memesan kopi favoritmu, kau malah memesan menu kopi yang sama sebagaimana yang kupesan pada barista.

“Biar mesra,” begitu rayumu.

Aku masih mengingat kenangan itu sampai saat ini. Saat di mana ketika aku mulai membaca halaman demi halaman buku itu, aku masih belum mendengar jawab darimu sekalipun pada akhirnya kutanyakan juga pertanyaan itu. Entah, aku tidak tahu mengapa kau menyia-nyiakan buku dengan tidak pernah membacanya. Padahal setiap kisah dalam buku itu menjadikanku banyak merenungi kehidupan. Bahwa setiap tempat persinggahan; baik itu terminal, stasiun kota, bandar udara dan pelabuhan, bukan semata tempat untuk bertemu dan melepas seseorang, akan tetapi kehidupan ini juga merupakan tempat persinggahan untuk orang-orang yang merayakan kelahiran dan orang-orang yang menangis menanggung beban kematian.

Ah, seharusnya kau menyempatkan waktu untuk membaca buku yang telah susah payah kau beli, bukan membiarkannya usang ditelan debu dan kotoran.


Arizka Nurachma, cewek asal Kauman, Bojonegoro Kota. Bisa baca novel dengan sangat cepat. Sering dapat tiket bioskop gratis. Karyanya masuk dalam antologi buku Kumcer Cacing di Lorong Yargusec (2018).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here