Home Buku Sebuah Ingatan yang Tumbuh Bersama Buku

Sebuah Ingatan yang Tumbuh Bersama Buku

211
0
pixabay.com

oleh Danial Arifuddin

AWALNYA bukanlah kata; Melainkan rasa. Penggal puisi Hasyim Wahid ini, mungkin dapat sedikit memberi awalan tentang apa yang akan saya ceritakan. Rasa, yang mewujud dalam bentuk kenangan yang bertengger di kepala, menjadi bagian penting bagi saya dalam melakoni peran sebagai bapak. Kenangan masa kecil saya bersama bapak, seperti kecambah yang muncul dari dalam tanah, membesar, hingga bisa dilalap bersama nasi pecel.

Kenangan tentang buku, menjadi salah satu kecambah yang tumbuh besar. Toko buku kembar di Bojonegoro, Persada dan Nusantara, menjadi nama legendaris di ingatan saya. Mengajak saya ke salah satu toko buku itu sudah menjadi rutinitas bapak. Hingga kemudian ketika saya SMP, Nusantara jadi nama tunggal dan Persada tinggal nama. Saya selalu dibebaskan memilih buku, tentu saja setelah bapak memilihkan buku pelajaran sekolah. Majalah anak menjadi favorit, tidak dengan komik. Saya selalu dibuat pusing dengan tata letak tulisan komik yang diacak di kanan-kiri-atas-bawah gambar. Cergam (cerita bergambar) lebih nyaman bagi mata saya.

Selain dari dua toko buku itu, Bapak juga sering membawakan saya buku cerita rakyat dan kisah para nabi dan sahabat dari sekolah tempat Beliau mengajar. Tidak jarang juga Mbah Kung membawakan buku-buku cerita dan hasta karya dari Balai Desa, Mbah Kung saya seorang pamong desa.  Dari buku-buku cerita, saya berkenalan dengan buku pelajaran. Setelah semua buku cerita khatam, kemana lagi saya berpaling kalau tidak ke buku pelajaran? Bapak bukanlah sosok yang royal memberi uang jajan, lebih-lebih mainan. Begitulah kilasan masa kecil saya dengan buku, yang endapannya kini mengecambah setelah saya punya anak.

Saya ingin meniru Bapak. Saya ingin meracik nasi pecel dengan kecambah itu sesuai selera, untuk asupan gizi Andamar, anak saya. Bukankah meniru adalah kemampuan paling khas yang dimiliki manusia? Di dunia yang serba absurd ini, saya merasa harus mempertahankan kesadaran, seperti wejangan pak Freud. Berdisiplin dengan laku yang selama ini saya jalankan. Dan di awal tahun kemarin, mengawali racikan nasi pecel, saya mengajak Andamar ke sebuah Bazar Buku yang diadakan di Islamic Center.  Berharap seolah dia punya ketertarikan dengan buku, urusan suka baca pikir kari saja. Wong dia juga belum bisa baca.

Memasuki ruangan, saya turunkan dia dari gendongan. Setelah tengok kanan-kiri seperti merekam keadaan, dia mulai berjalan. Saya dan ibuknya mengekor di belakang. Setelah beberapa saat mondar-mandir berkeliling ruangan, Andamar pun berhenti. Dia lantas mengambil sebuah buku besar dengan kertas lux, bergambar Kereta Api. Dengan heboh dia tunjukkan kepada saya. “Apak, Api tut tuut”, katanya sambil loncat-loncat kegirangan. Saya sontak ikut gembira, dia tertarik dengan buku. Meski sebenarnya saya tahu, dia memilih buku itu karena suka dengan segala hal tentang kereta Api.

Buku yang dia ambil itu adalah buku tentang sejarah kereta uap di Indonesia. Langsung saja saya lihat banderolnya. Dan sungguh mengejutkan! Harganya Seratus Lima puluh Ribu Rupiah. Saya jadi bingung sendiri, harus gembira karena berhasil membuatnya tertarik dengan buku, atau harus resah dengan harga semahal itu. Saya bisa mendapat lima hingga sepuluh buku dengan uang sebesar itu di Kampung Ilmu, tempat saya menemukan buku sesuai selera, selera kantong tentunya.

Saya dan Ibuknya pun berusaha mencari buku pengganti, buku mewarnai bergambar kereta dan beberapa buku anak-anak lain saya tawarkan sebagai alternatif, dia menolak. saya bujuk dan ajak berkeliling ruangan, kembalinya tetap ke tempat semula dia menemukan buku itu.

Andamar berjalan ke arah kasir dengan buku besar dalam genggaman. Buku itu kemudian dia sodorkan, berlagak seorang dewasa yang akan membayar. Dengan canggung saya keluarkan tiga lembar uang pecahan lima puluh ribuan, tak lama setelah buku itu diterima dan bungkus plastik oleh kasir bazar. Saya melihat raut gembira Andamar menerima bukunya yang telah terbungkus, dengan riang dia berjalan keluar, tak peduli dengan raut muka bapaknya yang kecut mengeluarkan uang.

Sepertinya saya perlu meracik ulang kecambah itu, jadi oseng-oseng misalnya. Saya kok lupa jika zaman telah berubah banyak, terutama soal harga barang. Jika tidak, bisa oleng periuk hanya demi mengejar harga buku yang jauh lebih mahal dari paket internet untuk e-book download-an.

Sebagai penutup, lanjutan puisi Hasyim Wahid di awal tadi sepertinya cukup pas jika saya sertakan, lumayan mewakili benak saya yang kebingungan meracik ulang:

Akhirnya bukanlah bening; Melainkan hening.

Salam…


Danial Arifuddin, Pemilik senja dan penikmat Sunyi yang melewatkan Pagi. Suka menulis dalam ingatan.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here