Home Bengkel Menulis “SAYA ADALAH PERUSAK” Dhe Uban Dan Turonggo Muda Birawa

“SAYA ADALAH PERUSAK” Dhe Uban Dan Turonggo Muda Birawa

1440
0

Oleh M. Ali Mutho

dok
dokumen Dhe Uban 2015

NAMA DHE UBAN tidak asing bagi para pegiat seni di Bojonegoro. Bisa dikatakan Dhe Uban termasuk seniman senior di Bojonegoro

“Siapa yang tidak kenal Dhe Uban?” katanya dengan guyon.

Berawal dari kesepakatan di Bengkel Menulis Atas Angin, yang ingin ngobrol dan mengunjungi Dhe Uban, jum’at sore seperti biasa kawan-kawan bengkel menulis di barengi mas Tohir, menuju sanggar Muda Birawa.

Walaupun rintik-rintik hujan mengawal keberangkatan, tapi tak melunturkan semangat dan niat kawan-kawan.

Sanggar Turonggo Muda Bhirawa berada tidak begitu jauh, yakni di sebuah titik kota Bojonegoro yang banyak orang menyebutnya Rel Bengkong (sebuah jalan bekas rel kereta api jalur Bojonegoro-Jatirogo. Kini  menjadi jalan Pondok Pinang, ed.).

Senyuman hangat menyembul dari wajah Dhe Uban menyambut keadatangan kami.

“Turonggo Muda Birawa itu berdiri dari tahun 1996,” kata Dhe Uban mengawali obrolan, setelah dari kawan-kawan bertanya tentang jaranan yang di pimpin oleh Suroso ini.

Rintik hujan masih menemani kami bersama Dhe Uban, candaan-candaan Dhe Uban membuat suasana dingin yang tadi terasa menusuk sampai ke tulang sumsum menjadi hangat kembali, bak kutub Utara mencair karena Global Warming.

“PakDhe ini bukan menggerakkan seniman. Pak Dhe ini malah yang merusak seniman, hahaha” katanya ketika di singgung mengenai beliau membentuk para seniman di Bojonegoro ini. Kerendahan hati dari seorang seniman senior terlihat dari kata-kata beliau, di tambah lagi guyonan yang khas tiap kali beliau berbicara.

“Terus bagaimana lagi dong?” katanya menunggu pertanyaan kawan-kawan sambil terkekeh.

Turonggo Muda Birawa menurut pemaparan Dhe Uban mengalami empat kali pergantian nama. Yang pertama Turonggo Agung Dwi Joyo Laras, lalu berganti menjadi Turonggo Laras, lalu Turonggo Agung, lalu yang kini diberi nama Turonggo Muda Bhirawa. Bhirawa artinya semangat

“Prinsip dari sanggar ini adalah membangun persaudaraan,” ujar Dhe Uban.

Turonggo Muda Birawa merupakan sanggar jaranan, seni tradisional yang menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau sesek.

“Jaranan berasal dari kata ajaran seng tenanan” ujar Dhe Uban. Orang-orang dulu membuat filosofi kata yang bisa dikenang sampai sekarang. Menurut Dhe Uban kesenian merupakan falsafah hidup.

Dhe Uban menjelaskan dalam kesenian jaranan menceritakan tentang pasukan berkuda yang gagah berani pengawal dari Prabu Klono Sewandana. Prabu Klono Sewandana mendengar bahwa putri Songgo Langit dari Kediri ingin mencari pasangan hidup. Tapi ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelamar, yakni membawa pertunjukan yang belum pernah dipentaskan sebelumnya. Lalu mulailah perjalanan Prabu Klono Sewandana menuju Kediri ditemani pasukan berkudanya yang gagah berani. Dalam perjalanannya menuju Kediri Prabu Klono Sewandana bertemu dengan Prabu Singo Barong. Tapi Prabu Singo Barong bukan tandingan bagi Prabu Klono Sewandana dan pasukan berkudannya. Singo Barong pun kalah. Lalu Prabu Klono Sewandana dihadang oleh Prabu Celeng Srenggi penguasa gunung Pandan. Namun akhirnya Prabu Celeng Srenggi pun dibuat takluk. Sampai di kediri, Prabu Klono Sewandana membuat pertunjukan yang belum pernah dilihat oleh orang. Prabu Klono Sewandono menciptakan kesenian Reog, menggabungkan kisah perjalanannya menuju Kediri, bertemu dengan Singo Barong dan Celeng Srenggi.

“Namun dalam kesenian jaranan tidak menceritakan tentang Reog, tapi lebih ke perjalanan menuju Kediri dan menonjolkan sosok-sosok pasukan berkuda yang gagah berani. Berbeda dengan Reog,” ujar Dhe Uban.

Di tengah-tengah percakapan, kami dikagetkan dengan nyala api ditumpukan kuda kepang yang berada di depan sanggar. Kuda itu sengaja ditaruh luar untuk persiapan pertunjukan beberapa hari mendatang. Konsentrasi kami pun mulai buyar untuk beberapa waktu.Ternyata inssiden kecil itu dikarenakan salah satu personil jaranan yang masih kecil bermain korek api di dekat tumpukan jaranan.

“Terus mau bagaimana lagi dong?” ujarnya sambil terkekeh, membuat kami ikut tertawa.

Dhe uban juga memaparkan bahwa sebenarnya kesenian Jaranan dengan Reog tidak jauh berbeda. Dalam kesenian Jaranan dan Reog sama-sama ada atraksinya atau trance(kalau dalam bahasa Bojonegoro artinya ndad). Atraksi dalam kondisi trance yang disajikan selalu berbeda-beda dalam setiap pertunjukan. Diantaranya ada potong lidah, makan bara api, makan ayam hidup dan lain-lain. Tapi dari unsur cerita tetap sama menceritakan tentang perjalanan Prabu Klono Sewandana dan pasukan berkudanya.

Dalam kesenian jaranan tidak afdhol jika tidak ada musik yang mengiringinya. Di Sanggar Muda Bhirawa juga menggunakan beberapa alat musik instrumen Jawa seperti kendang, balungan, slendro, pelok, saron, kempul, kenong, dan lain-lain. “Sampai sekarang, personil dari Muda Birawa mencapai enam puluh lebih.

Sayang waktu yang kami punya sore itu tidak terlalu panjang, sebelum kami pulang Dhe Uban yang bernama asli Aris Hariyanto ini berpesan pada kami.

“Kalau kalian pengen jadi penulis mulailah dengan setiap hari menulis. Apapun itu walaupun sedikit. Disiplinlah dengan pilihan yang kalian pilih. Manusia bisa dikatakan manusia jika sudah memiliki arti bagi manusia lainnya”, ujar Dhe Uban.

“Terus bagaimana lagi dong Pak Dhe?” sorak kami kepada Dhe Uban. Semua tertawa.

 

M. Ali Mutho aktif di UKM Sinergi IKIP PGRI Bojonegoro.

Dia asli Soko Tuban. Penggemar karya Gol A Gong.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here