Home Uncategorized SASMITA FAJAR

SASMITA FAJAR

454
0

Oleh Shinta Dewi Damayanti

Sasmita Fajar

menyambut pagi

Kareping ati, uga durung mesti bisa kelakon nganti temu pati.”

-Maksud hati, juga belum tentu bisa terlaksana sampai bertemu mati-

LURUH RASA hening pada sepi. Aku seperti tengah mengunyah permen karet, merasai.. tapi tidak pernah puas. Mengapa kau begitu? Hadir dan bergegas dengan tiupan angin. Seperti permen karet, yang menggembung bersama nafasku. Bagiku kau tak lebih dari sekedar permen karet. Yang sesaat memuaskan lidah tapi senantiasa enggan berbagi dengan si perut. Begitukan caramu? Memuaskan pandanganku tapi tak pernah sampai membiarkannya untuk selalu memandang. Memandang permen karetku, memandangmu. Ah.. seandainya kita tidak tengah berbicara soal ”sesaat”.

Awal Juli lalu, aku tengah sibuk mendengar orang bergunjing tentang apa yang mereka namai itu penemuan. Si Neptunus tengah asik menikmati bulan barunya. Bulan baru yang aku tahu terletak tak jauh dari jangkauannya. Lintasan bulan baru itu diperkirakan tidak lebih dari 12 mil, sehingga menjadikannya sebagai bulan terkecil dalam sistem Neptunian. Namun tetap saja, selelah apapun si Neptunus coba mengejar bulannya, ia akan sama sepertiku, tidak akan pernah mampu meraih bulan itu. Mengapa kau dan aku berputar pada garis edar yang berbeda? Sedang sebenarnya jarak kita sungguh terlalu dekat. Ah.., andai saja aku bisa meloncat dan menangkap. Nyatanya pijakanku begitu kuat, mencengkram urat syarafku hingga membuatnya ngilu. Tapi aku belum ingin menyerah.

*

Aku bosan. Pada hujan, pelangi, gerimis, patah hati, neptunus, kopi dan apa yang terlalu banyak mereka tuangkan dalam bahan bacaanku. Aku sedih. Sedih karena mendapati bahwa kesemuanya itu adalah pancaran dari apa yang aku lihat pada diriku kini. Tengah pernah gagalkah aku? Ah.., aku ingat. Mama selalu saja bersiul ketika aku mencoba peruntunganku dalam mata pelajaran ”berbohong”. Entah apa maksudnya. Aku tak hendak bertanya lebih. Aku bukan juru tanya yang harus mengalahkan juru kunci dan membuatnya tercekat dengan pertanyaanku. Aku lebih suka diam. Diam yang bercabang. Bercabang banyak arti. Kadang disalahgunakan, kadang menyalahgunakan atau bahkan kadang saling salah dan saling menggunakan. Aku tidak tahu apa kolerasinya. Aku hanya tahu bahwa.. malam sudah makin kian pudar. Namun aku masih betah duduk merumuskan entah apa. Apa aku tengah terjaga? Oh tidak, mataku masih terpejam namun alam lainku sibuk berjalan-jalan. Mengelilingi nama-nama manusia yang suka sekali berteduh dalam tempurungku. Aku tengah sibuk kini. Sibuk memaki mereka satu persatu. Sibuk dengan apa yang kunamai ini ”balas dendam”.

**

Pada ruang dengar mana aku bisa menjangkaumu, Sasmita?” tanya Fajar padaku. Aku mengibaskan lengan rambutku yang banyak, menjuntai hingga mencium tanah dan tengah aku arak sekenanya. Kuperhatikan wajah Fajar yang mulai menjingga, dia lusuh, pucat, seperti kurang gizi.

Pada sisi mana saja yang bisa kau sekat dan tidak pada ruang dengar yang dialiri pengait senja,” bisikku. Aku masih menyimpan seulas senyum pada kuluman terakhir ucapanku. Aku merona entah karena apa.

Apa kau akan senantiasa membuatku ternganga pada mulut pintu yang terus patah? Aku sungguh tidak sanggup,” keluhnya. Fajar beringsut, bermain bersama rumput tanah yang mulai ber-mimikri, berubah coklat dan memutuskan untuk mati.

Fajar, kau lebih tahu apa yang lebih patah dari ini. Ibumu, mamaku dan semua yang mereka pikirkan tentang nilai-nilai, makan sehat serta gemerlap Bima Sakti yang menggantung diujung tidur,” aliran semut darahku merambat tak terputus. Terpilin dalam tali panjang yang biasa orang panggil itu ”urat” dan bermuara menuju syaraf yang kian mengilu.

Begitukah?” sanggahnya.

***

Jika saja pagi tak perlu merangkak dan bisa tegak berdiri, mungkin aku tak perlu sibuk mempertebal alas tubuhku dengan daun-daun tembakau yang kadang menyelipkan TMV pada serat daunnya. Aku tidak mengerti mengapa dunia penuh virus, pembunuhan dan sikap liar. Aku sudah mencari tahu semuanya pada sela ibu jari yang menelusup dan mengucurkan darah kuning berbau apek. Tapi tidak sedikitpun ibu jariku paham akan apa itu tragedi. Aku lantas bertanya pada mama suatu ketika kala ufuk masih sibuk mengutuki ayam yang selalu saja berisik memperbincangkan kedatangannya.

Ma, boleh aku tahu mengapa harus patah jika sudah satu?” aku menimang anak kutu yang tadi aku pungut serampangan pada rusuk daun mangga.

Patah itu perlu, agar supaya obat kian laku,” jawab mama seperlunya.

Ma, tidakkah boleh aku bahagia? Mengapa harus begini?” aku menyeruak.

Semua yang menjadi hakmu, terkadang tidak melulu harus menjadi punyamu dan bisa kau miliki seperti harapan dan maumu itu,” mamaku masih sibuk mengaduk pasir hitam sambari aku melihatnya dengan kerlingan mata yang menyorot jengah.

Ma, aku pergi dulu. Mungkin senja nanti biar tetap kuabaikan menjadi ragu,” kataku akhirnya menyerah.

Heemmm..”

***

1 ons, 2 ons, 3 ons.. mulai kuhitung lagi sisa tangisku yang telah berhasil kukeringkan sesore tadi. Fajar tak nampak lagi sejak terakhir aku menemuinya dalam keadaan kehilangan paruhan bilik dan serambi kirinya. Akukah itu?.

Arakan PADI

Aku mengais pedih pada petak lumbung padi

Disana suara dendam bertalu dalam alu

Aku mengikis dengan jemariku sisa bedak putih halus lagi mulus

Si suci masih sibuk berona putih walau telah ditempa benci

Aku iri…

Hatiku tak setabah itu

Hatiku tak seputih itu

Hatiku kini meninta

Berubah jadi tinta

Memekat seperti tinta

Walau apa saja warnanya

Dia sudah tidak lagi putih

***

Tengah sibuk rupanya suasana dunia pagi ini. Sibuk menyiapkan amoeba baru yang akan melesakkan anak pinak koruptor, teroris dan semua yang begitu dekat dengan pembinasaan massal. Iblis, Fir’aun, Qarun, Hitler dan manusia-manusia sebangsanya itu membuat aku mendadak ingin meringis. Ngeri saja membayangkan andai saja kematianku kelak disamaratakan seperti mereka yang begitu tenar dan tercatat dalam daftar blacklist di peradapan manusia. Akankah aku?

***

Tebing itu terjal, menanjak, di puncaknya ada setetes air yang bila terteguk maka getirnya meluruhkan segala siksa yang pernah ada. Aku mencoba meraih oase yang berbuih pasir itu. Mirip ketika aku berlomba lari pada genangan lumpur. Sulit!. Sudah kuhitung berapa waktu yang aku perlukan untuk mencapainya dengan pertimbangan dilatasi setepat mungkin. Sudah kusiapkan bekal sepuluh anak sapi yang ikut aku panggang pula di atas bara api pendakian. Tapi kata “sudah”ku ternyata tak pernah memuaskan siapapun dan tak berarti apapun atau bahkan mendapat kompensasi yang impas. Tidak. Tidak pernah!. Dari awal aku mengerti itu. Tapi aku coba acuh dan kini semua yang kuprediksi akan tak acuh, meleset 1000%.

Daun tidak pernah berhenti terjaga sejak mereka mendapati angin tengah menyapa. Mereka memang suka begitu. Selalu saja genit dan lantas berbisik saling mengaku bahwa angin telah mengajaknya berdansa di udara. Kehampaan, semu, khilaf yang fatal, mereka menyukainya. Menyukai ketidakpastian abadi.

***

Pembaringan itu tak jua memberiku rasa jenak, tidak juga alas jendela itu mampu menopang segala dukaku. Aku lebih suka meneropong alam sadar manusia dalam ingatanku. Aku lebih suka duduk berlama di kamar mandi dan menyirami tubuhku. Seperti bunga, aku kini tengah dalam masa segar dan aku tahu suatu ketika aku akan turut melayu pula. Aku suka menikmati resapan air yang fana karena nyatanya mereka memang tidak pernah mampu menembus kulit ariku. Aku suka berdo’a agar supaya segala bebanku turut luntur bersama gemericik yang begitu berisik. Aku suka lupa jika tidak semua kamar adalah tempat untuk tidur walau aku suka sekali menidurkan rasa lelahku di dalamnya. Kini aku disini, di kamar mandi. Tidak duduk manis meratap di jendela, atau membekap guling dengan penuh gemas di atas pembaringan.

Pada Tuhan dan Nisan

Tuhan jika nanti telah habis masa tenggangku, maafkan aku berpulang tanpa membawa sesuatu. Dunia tempat Kau melepaskanku dulu, nyatanya benar begitu mencekam. Aku datang tanpa nama, dan pulang dengan nama. Aku tak sempat mengais ilmu pada kitab-kitab terdahulu, tidak juga sempat menambah gelar nama yang menyesaki batu nisanku. Tuhan, kelak terimalah aku, seperti aku menerima putusan dari segala rencanaMu.”

(Sasmita 3/12 detik yang lalu)

***

Rasa kantukku berintegral, melaju bersama irama Glommy Sunday yang menyumpal di sisi kiri dan Puspa Dewi di sebelah kanan. Pencampuran kedua nada itu membuat iris mataku mengatup lelah. Selalu saja ia ditimpuki rasa sesak yang menyempitkan gerak parabolanya ke segala arah. Kalau sudah begitu, retinaku suka meloncat jatuh sesuka hati. Kadang di tempat yang tepat, kadang serong ke kiri atau sesekali menggelantung di atas.

Sasmita, apakah kau sudah belajar ilmu menyentuh sekop pasir mini?” tanya mama di balik tirai yang sengaja kurajut dengan senar sarang laba-laba.

Sudah ma, dan aku sudah naik level hingga pada posisi mengangkat dan memasukkan debu-debu itu menuju terowongan buntu,” jawabku.

Kapan kiranya kau akan mampu mencipta buih pada putaran beliung?”

Entahlah ma. Mohon beri aku waktu.”

Baiklah, sepertiga detik dari sekarang. Aku harap kau akan segera siap.”

***

Aku merinduimu, Fajar. Entah mengapa perasaan tidak enak hati ini selalu saja begitu lengket. Terakhir kali kita bertemu untuk saling berjanji akan bersua lagi, ternyata hingga detik ini semua harap itu belum terkabul. Sudah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri sepenggal adegan yang sengaja telah kebanyakan orang hilangkan dalam sejarah. Jika kisah kita akan sama tragis seperti sekuel Ramayana yang selama ini begitu menipu, maka aku akan mengerti. Aku akan mengerti bahwa Fajarku adalah titisan Rama yang berlaku sadis dengan segala fitnah dan kebodohannya. Aku akan paham jika Fajarku akan sama persis bersikap dingin padaku selaku Shinta yang memelas memohon belas kasih dan kepercayaannya. Aku sebenarnya tidak berpaling, kau saja yang tidak mau tahu. Aku sebenarnya tidak ingin dendam, kau saja yang hamburkan bara api pada alisku, membuatnya menaut dan kini siap menikam. Menikammu!.

***

Mereka yang datang dengan memikul tas penuh ilmu dari pelayaran sungai yang berdermarga di pucuk altar rumahku, selalu saja merancau tentang hasil candi perkasa yang berhasil mereka rajut ditengah kuasa ibu Fajar. Sambari menuntaskan lelah dan sibuk menunggu hitungan air asin yang bersemburat menghiasi sekujur porinya, orang-orang itu memesan satu dua teguk beliung panas rasa pahit dengan warna kecap dan nuansa manis.

Jika iri adalah ulasan yang pas untuk kugantungkan labelnya pada hatiku, maka seperti itulah aku. Ibu Fajar selalu saja menyertai rasa sumringah yang merekah begitu saja pada sisi senyum lelah mereka. Segala sinar yang Ibu Fajar miliki seutuhnya telah pernah mereka rasai dan kecup hasilnya dengan angka-angka hingga mencapai titik galat. Candi kotak yang mereka cipta dengan ventilasi berordo dua sampai tiga itu adalah pembuktian karya karsa mereka pada dunia. Sedang aku? Aku hanya baru bisa menakhlukan sekop pasir mini diusiaku yang kini tengah mendewasa.

Aku ini adalah anak mama yang tinggal di gubuk serba mini dengan taraf hidup cukup mini dan kemampuan yang dibatasi terlalu mini. Bersama Fajar aku menyisakan sedikit bara semangat yang lebih sering redup daripada menyala terang. Aku mengibaratkannya dalam permen karet mini yang sering menyapa deretan biji jagung yang tumbuh subur menjadi stalaktit dan stalakmit di mulut gua yang pemiliknya adalah aku. Aku berharap gubug mini milik mamaku yang sepenuhnya bergatung pada putaran-putaran beliung yang menguap panas dengan menyembulkan aroma khas ini, nantinya akan mampu berubah menjadi candi-candi berordo dua sampai tiga, seperti yang banyak orang ceritakan ketika mereka berkunjung melepas lelah.

Aku menggantungkan segala mimpiku seperti Neptunus merindukan bulan yang sebenarnya senantiasa berjalan beriringan dalam lingkup jangkauannya. Aku sering mengkhayalkan Matahari, sang ibu Fajar dengan segala restunya akan mau menerimaku untuk berjalan menyusuri pencerahannya, menjejak tanah, mengguncang dengan segala daya gempa, membangunkan cacing-cacing malas dari tidur gelap mereka dan mengisi batok tempurungku dengan apa saja yang bisa aku telan, sembunyikan dan sita hingga kenyang.

Aku selalu berharap akan mampu mendapat apa yang seharusnya menjadi hakku. Aku berencana untuk bisa bangkit dari kamar mandiku dengan tergesa dan setengah berlari mencium mama, memberitahunya bahwa aku akan membawa pulang batu nisan dengan tulisan penuh gelar di atasnya.

Tapi kini aku harus melawan takdir dengan pasrah. Mendapati diriku begitu kejam pada ruh yang telah bersenyawa dengan ragaku selama ini. Aku begidik membayangkan posisiku pada sesi pengadilan amal kelak. Akankah aku berbaris tepat di depan atau belakang Fir’aun atas kebengisanku ini?.

Jadi ketika senja datang, aku merasa seluruh waktuku kembali habis melayang diserap langit, ditelan purnama, dienyahkan gulita. Kadang Fajar, ingin rasanya aku bisa selalu kau antar pergi menuntut ilmu setinggi kupu-kupu, untuk kemudian kau jemput dengan sumringah di akhir senja.

Shinta Dewi Damayanti, Lahir di Madiun, 2 Nopember 1994, penyiar Surya FM.

                                                                                                                                                                                       Cerpen ini adalah salah satu yang terangkum dalam RUMAH EUREKA yang segera terbit akhir tahun 2013 ini.

 

 

 

 

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here