Home Buku Ritus Ziarah Buku Lawas di Thailand

Ritus Ziarah Buku Lawas di Thailand

59
0
dokumentasi penulis

oleh ashri kacung

KAMI bertemu pertama kali pada sebuah pasar malam. “Walking Street” begitulah orang Isan menyebutnya. Sebuah pasar dadakan yang penuh warna dan dinamikanya. Lampion menggantung menyinari pembeli dan penjual aneka macam barang dan makanan. Pasar sepanjang 1,5 km di depan jalan sebuah gedung Pengadilan Provinsi Khon Kaen.

Baca Aku dan Buku dalam Sepekan

Di antara bermacam keriuhan dialog tawar menawar yang ringan dan penuh gelak tawa Pasar Malam akhir pekan itu, aku melihat lelaki berkaus lusuh menata buku-buku bekas yang tak seberapa jumlahnya. Belakangan aku tahu ia membawa satu tas penuh buku untuk diperdagangkan. Bagiku, di manapun keramaian dan keriuhan jika di sana ada penjual buku rasanya seperti menemukan segelas es kopi latte yang menyejukkan di tengah hamparan panasnya kota Khon Kaen yang teramat menyengat. Dari lelaki penjual buku bekas itu, aku membeli Tolstoy, Hugo dan Orhan Pamuk. Cukup menggemberikan bisa bertemu dengan penjual yang menjajakan buku kelas dunia di tengah gempuran budaya pop yang menyesaki anak-anak muda Thailand kini.

Lelaki itu belakangan aku kenal dengan nama pendek Si, aku memanggilnya Pee Si. “Pee” merupakan sebutan untuk orang yang lebih tua di Thailand sebagaimana “mas” atau “kang” di Indonesia, sebagai bentuk penghormatan. Dengan celana pendek dan kaus kumalnya, ia menata dengan sederhana bukunya bukunya di atas tikar plastik di samping lapak yang menjual barang pecah belah.

Pertemuan kedua kami terjadi pada suatu malam setelah jeda berbulan-bulan dengan pertemuan pertama. Teman makan malamku –karena tahu aku begitu kesengsem dengan buku lawas- mengatakan ada toko buku kecil di “Lang Mor” (bahasa Thai; belakang kampus) Universitas Khon Kaen. Setelah makan steak sapi, aku mengajaknya ke toko buku yang dimaksud. Dan betapa gembiranya, pemilik toko buku kecil itu tak lain adalah Pee Si. Aku melihat puluhan buku yang rata-rata adalah buku para pemenang Nobel dan buku buku sosialis di pajangan toko mungilnya itu. Kami ngobrol soal bacaan masing masing hingga ia menyebut dua penulis Indonesia yang karyanya pernah ia nikmati, yakni Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis. Ia tentu mengoleksi karya karya Pram dalam bahasa Thai dan tahu tentang sedikit biografi kehidupan sastrawan kelahiran Blora itu yang penuh nelangsa selama di pulau Buru. Ia percaya Pram pastilah penulis besar dan terkenal di negaranya, karya-karya Pram juga lumayan terkenal di sana. Aku kemudian memilih beberapa buku untuk sementara yang bisa aku beli. Sangat banyak buku berkualitas lain yang menanti untuk aku datangi lagi.

Masih soal Pram, Pee Si kemudian mencari cari sebuah buku karangan sastrawan Thailand dan tangannya tertuju pada penulis bernama “Chart Korbjitti”. Sastrawan pemenang Sea Write Award 1982 yang konon dia ceritakan pernah bertandang ke rumah Pram secara pribadi. Buku itu ia berikan kepadaku, dan gratis. Minggu ini Pee Si akan ke Bangkok dan menanyakan padaku, adakah punya titipan buku yang ia bisa carikan. Aku kemudian menuliskan beberapa nama pengarang. Pee Si bukanlah lulusan universitas dan hanya tamat SMA, namun aku terpukau, menghargai dan mengagumi kecintaannya akan buku. Jarang aku temukan pemuda Thailand selama aku berada disini yang tahu akan buku buku berkulitas, mereka rata rata pandai bersolek.

Sewaktu aku akan balik ke asrama, Pee Si bilang, “Lain kali kita ketemu lagi dan menghabiskan beberapa batang rokok untuk ngobrol soal Antonio Gramsci.”

Pada malam lain setelah makan Som Tum, aku datang ke toko milik Pee Si di belakang kampus. Som Tum sendiri adalah makanan khas daerah Isan (North East) yang pedasnya melebihi oseng oseng mercon Jogja atau Rawon Setan Surabaya. Som Tum, sebuah makanan sederhana yang diracik dari irisan buah pepaya muda ditambah bawang merah, bawang putih, asam dan kecap serta saus Thai dan juga terasi, adalah simbol kesederhanaan daerah Isan yang dulunya terkenal miskin. Som Tum bisa dicampur apa saja; kadang kerang, katak atau teri dan juga udang. Sederhananya, Som Tum itu mirip rujak buah yang pedas. Sering orang Isan makan Som Tum dibarengi nasi ketan panas.

Nama toko bukunya adalah Ghost Cat Book Shop. Ia terinspirasi nama itu dari ceritanya pendek Edgar Poe The Black Cat, tentang kucing yang dicungkil matanya oleh sang pemilik dan dikubur pada tembok rumah. Di dalam tokonya ada beratus buku berkualitas dunia alam bahasa Thai maupun Inggris. Malam itu aku mengambil Homer, Saul Bellow dan Gao Xing Jian. Harga ketiga buku itu harusnya 650 baht, tapi ia berikan padaku hanya 400 baht (1 baht = 400 rupiah).

Di sela-sela memilih buku itu, aku bertukar cerita tentang Metamorfosa-nya Franz Kafka yang beberapa waktu lalu baru selesai aku baca. Dan ia rampung membacanya sudah agak lama. Baginya cerita Kafka cukup rumit untuk dimengerti karena penuh metafora dan kalimat-kalimatnya penuh belokan dan liku. Tapi ia dengan ringan berkomentar, paragraf pertama dalam novel Metamorfosa itu membuatnya terhenyak, dan seluruh cerita dalam novel itu sudah terangkum pada paragraf pertama tersebut. Ia kemudian juga bercerita banyak penulis hebat lain yang pernah ia baca, sebut saja Gramsci, Rilke, Jean Sartre, Italo Calvino dan tentu masih banyak lagi.

Kemudian ia bercerita soal penulis Indonesia lainnya. Ia mendeskripsikan bahwa penulis yang karyanya pernah ia baca itu rambutnya panjang dan aku coba menebak nebak. Ketika aku sebutkan satu nama, ia mengatakan benar. Nama penulis berambut panjang yang dimaksud adalah Seno Gumira Ajidarma. Ia membaca Sepotong Senja-nya Seno dan menikmatinya. Oh ya, sambil melihat lihat buku ia membuka laci dan mengambil sebuah foto dan memberikannya padaku. Foto itu ialah potret Franz Kafka bersama anjingnya. Ia berpesan kepadaku, jika pulang dan balik lagi ke Khon Kaen bisa tolong membawakan poster Seno atau Pram.

Selepas ngobrol-ngobrol soal buku, ia kemudian menunjukkan padaku poster sebuah film klasik Thailand yang berjudul “Tong Pan”. Dia mengatakan bahwa aku harus tonton itu film. Tong Pan bercerita tentang masyarakat desa di daerah Loei, Isan yang menentang kebijakan birokrasi pembangunan Dam (bendungan air) karena akan merusak hutan yang berhektar-hektar. Film ini kemudian dilarang beredar. Penulis skenario film ini adalah sastrawan Thailand yang pernah bekerja pada dinas kehutanan dan kemudian memilih hidup di desa sampai meninggal, namanya Khamsing Srinawk. Aku membaca beberapa cerpen Srinawk dalam buku kumcernya yang penuh cerita satire, ironi dan alegori akan kehidupan petani kecil. Dialah pelopor penulisan cerpen yang bertema kehidupan keras para petani dan kaum bawah pedesaan. Untuk diketahui sebelum Srinawk, cerita-cerita di Thailand rata-rata tentang kehidupan istana dan dengan segala kemewahannya dan juga tentang para pesolek dan kisah cinta roman picisan seperti dalam banyak opera sabun. Dari film Tong Pan ini kemudian aku teringat dengan kisah Samin vs Semen yang beberapa waktu lalu pemutaran filmnya juga dilarang oleh sebuah universitas di Malang dan juga beberapa daerah lain. Petani tetaplah orang kecil yang siap kalah dan dikalahkan oleh birokrasi kapitalistik, dengan dalih membuat kesejahteraan padahal bohong belaka.

***

Selanjutnya akan sedikit aku kisahkan tentang pasangan penjual buku pemilik Ghos Cat Book Shop. Mereka berdua bertemu ketika sedang berlibur untuk memanjat gunung Phu Kradueng di provinsi Loei saat musim dingin empat tahun lalu. Kemudian keduanya merasa saling nyambung dan saling kontak. Lalu melakukan backpack keliling beberapa daerah Thailand. Sampai pada suatu ketika selesai melancong mereka berdua kehabisan uang dalam perjalan pulang dari Chiang Mai ke Khon Kaen. Waktu itu di saku mereka hanya tersisa uang 2 baht (800 rupiah) uang yang bahkan tak cukup untuk sekadar membeli segelas air. Dari peristiwa kehabisan itu kemudian muncul ide untuk menjual buku yang mereka bawa dalam perjalanan, dan hasilnya lumayan. Sejak ada pengalaman menjual buku untuk meneruskan jalan-jalan itulah, keduanya kemudian berkomitmen untuk menjadi penjual buku bekas. Tak sembarang buku yang mereka hadirkan, hanya buku buku berkualitas saja yang akan mereka sediakan. Karena keduanya merupakan pembaca berat fiksi, maka buku buku yang mereka jual tak jauh jauh dari tema fiksi dan ilmu ilmu sosial lain.

Kali lain aku merasa cukup terenyuh ketika sejoli penjual buku itu baru saja kembali dari Bangkok untuk kulakan beberapa buku dan mengabarkan padaku bahwa dia mendapatkan kumpulan tulisan Franz Kafka. Apa yang membuatku agak sedih adalah ketika dia mennyebutkan nominal harga pada buku yang aku pesan. Aku periksa bukunya dan kelihatan masih baru, diterbitkan tahun 2014 dan ketika aku raba dekat barcode, di sana masih ada sisa lem tempelan harga yang sebenarnya. Waktu itu ia hanya memberikan buku itu seharga 100 baht (40 ribu rupiah), tapi aku punya keyakinan bahwa harga aslinya lebih dari 100 baht. Ya memang akhir akhir itu aku suka dengan Kafka, meskipun mungkin agak telat. Awalnya ketika ada teman Thailandku yang sedang liburan ke beberapa negara di Eropa. Salah satu Negara yang dikunjungi adalah kota Praha, Republik Ceko, tanah kelahiran Kafka. Aku langsung saja memesan kepadanya untuk membawakanku buku apapun yang pernah ditulis Kafka. Dan akhirnya memang ia mendapatkan Metamorphosis bukan di Praha, melainkan ketika ia sedang berada di sebuah toko buku di Perancis. Sejak itu kemudian aku makin suka dengan karya-karya Kafka, meskipun sebelumnya memang aku pernah membaca juga tulisan-tulisan orang lain tentang Kafka dan beberapa cerita pendeknya.

Ada juga pemilik toko buku lawas lain yang pernah aku temui di beberapa acara pameran. Namanya Muna, seorang perempuan lulusan Fakultas Sastra. Aku pertama kali ketemu ketika dia ikut pameran buku akhir tahun di Jubilee Golden Hall, gedung multifungsi di dalam komplek Universitas Khon Kaen. Sebenarnya pada awal awal tinggal di Khon Kaen aku agak pesimis untuk mendapatkan buku buku lawas dalam bahasa inggris yang sesuai seleraku. Beruntung dari salah satu dosen kemudian mencarikan beberapa informasi tentang beberapa toko buku lawas dan juga mengontak beberapa dari mereka. Dari dosen ini jugalah aku tahu bahwa Muna mempunyai booth/stand pada waktu pameran buku. Baru baru ini aku mendapatkan kabar bahwa Muna mengimpor langsung buku dari inggris, kontainer bukunya  saja datang beberapa minggu lalu. Ada ratusan buku buku yang ia tunjukkan kepadaku. Dan kabar baiknya ia akan membuka toko resminya tak jauh dari kampus. Aku memang banyak menemuinya hanya pada saat pameran.

Toko buku lawas lain yang biasa aku kunjungi adalah dekat pasar tradisional Bang Lamphu. Letaknya diseberang Kantor Pos Khon Kaen. Pada awalnya ketika bersama dengan teman-teman belanja ke pasar tak sengaja aku melihat toko buku ini dan mencoba masuk untuk mencari beberapa buku buku dalam bahasa inggris, karena memang aku sama sekali tak bisa membaca buku dalam bahasa Thailand. Beruntung toko buku ini mempunyai satu blok khusus buku-buku dalam bahasa inggris yang letaknya agak di belakang. Suatu kali aku kesana dan tak sengaja bertemu dengan teman Thailandku lain yang juga sedang mencari beberapa buku. Ia kemudian membayar buku yang aku pilih. Sebuah hal jamak ditemui di Thailand ketika sudah berhubungan baik maka orang Thailand akan sangat baik terhadap kita.

Cukup sulit memang untuk mencari buku-buku lawas dalam bahasa inggris, karena memang hanya beberapa toko buku yang menjualnya. Meskipun Khon Kaen merupakan provinsi ke empat terbesar di Thailand, namun tak banyak orang asing yang hidup di sini. Juga memang kebutuhan akan bacaan dalam bahasa inggris tentu kecil, karena selain sulitnya orang Thailand melafalkan bahasa inggris, juga bisa jadi karena efek dari rasa nasionalisme yang tinggi untuk menjunjung bahasa nasional. Kebanyakan buku-buku dalam bahasa inggris ini bisa didapatkan dengan mudah di Chiang Mai atau Bangkok. Di Khon Kaen sendiri memang ada beberapa pameran buku yang frekuensinya tak terlalu sering. Pernah juga aku mendapatkan beberapa buku lawas ketika sedang pergi ke Complex, sebuah gedung pusat jualan makanan dan beberapa kebutuhan mahasiswa di depan perpustakaan pusat Universitas Khon Kaen. Aku sempat tanyakan kepada penjualnya, apakah ia punya toko di Khon Kaen. Ia jawab tidak, karena ia berasal dari Bangkok dan keliling ke beberapa provinsi untuk jual buku. Waktu itu penjual buku ini sedang bermukim selama dua minggu dan menjual buku-bukunya di pasar malam dan juga complex. Buku buku lawas ini memang harganya jauh dari buku yang dijual di toko buku yang berada di mall atau tempat lain yang hanya menjual buku baru. Pernah aku mendapatkan buku yang aku cari-cari dan harganya hanya 50 baht atau seharga dengan segelas kopi.

Sedang kalau di bangkok setidaknya ada dua kawasan yang amat terkenal dengan surga buku bekas bagi para pelancong berkantong tipis. Pertama adalah pasar tradisional Catuchak. Pasar itu meningatkanku tentang kawasan shoping centre di Jogja atau Kampung Ilmu di Jalan Semarang Surabaya. Kedua adalah kawasan Khaosan Road, yang terkenal dengan para turis backpacker yang sering singgah untuk menikmati kota Bangkok. Dari KBRI di Bangkok kita bisa menuju dua tempat tersebut dengan menggunakan Taxi seharga antara 150-200 baht atau bisa juga menaiki Skytrain. Kalau di Bangkok jangan sampai meminta taxi dengan harga borongan, karena harganya akan jauh lebih tinggi daripada menggunakan meter.

Di kawasan pasar Catuchak suatu kali aku bertemu dengan Somjit, bapak pedagang kaki lima penjual kopi yang memukau dengan bahasa inggrisnya yang aduhai fasihnya. Ia pernah bekerja beberapa tahun di Arab Saudi, di perusahaan teknik dan sempat mencapai level supervisor. Di masa tuanya ia aku  pikir hanya bermain-main saja dengan berusaha menjadi penjual kopi dan beberapa gorengan. Aku teringat ketika dengan senang hati ia membagikan kisahnya dengan kami waktu itu. Cerita serangkaian hidup seorang Somjit pada sebuah sore sehabis hujan selepas lelah berjalan-jalan di Bangkok sebelum aku pulang ke Bojonegoro itu masih kuingat.

Cerita ini pernah dimuat di Jurnal Atas Angin Volume 7 (2015).


ashri kacung, dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Pendidikan S2nya di Universitas Khon Kaen Thailand (lulus 2015).

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here