Home Buku Sedikit Tentang PK Karya Rajkumar Hirani | Memetik Hikmah dari si...

Sedikit Tentang PK Karya Rajkumar Hirani | Memetik Hikmah dari si Pemabuk

778
0

Oleh Vera Astanti

ORANG mabuk dianggap tidak waras. Tidak perlu didengar, karena kesadarannya tidak sedang berfungsi. Adalah PK (dibaca Peekay), yang artinya pemabuk, kisah komedi satir yang dikemas dengan apik oleh sutradara Rajkumar Hirani meraih sukses besar baik di India atau di luar negeri. Tidak selalu yang tidak waras itu dianggap tidak bermakna. PK didengar dan dipertimbangkan. Sebagai sebuah petuah, pelajaran sekaligus hiburan.

Kisah ini dimulai dengan narasi di mana ada alien yang datang ke bumi uanushka sharmantuk penelitian. Dia berangkat dengan pertanyaan apakah ada kehidupan lain selain di planet asalnya. Ditemukanlah bumi. Alien itu turun untuk mempelajari kebudayaan makhluk bumi. Alien ini (diperankan oleh Amir Khan) turun dari pesawat antariksanya dengan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Di kehidupannya memang tidak dikenal pakaian kain sebagaimana makhluk bumi. Saat berusaha mendekati seorang penduduk bumi yang berpakaian, kalungnya malah dibawa lari. Padahal kalung itu berfungsi sebagai remot kontrol untuk berkomunikasi dengan pesawatnya. Artinya dia tidak bisa pulang tanpa remot kontrol itu. Sebagai gantinya, dia mendapat radio milik pencuri itu. Peristiwa-peristiwa sepanjang pencarian remot kontrol itulah film ini berkisah.

PK, begitu kemudian alien itu mendapatkan nama dari makhluk bumi, sebab kenyelenehan dia dalam berpikir dan berperilaku. Dia belajar dari nol. Belajar bahasa, cara berpikir, dan berperilaku makhluk bumi. Apa yang dipelajarinya adalah rentetan dari pertanyaannya yang sepele, di mana remotnya. Dia bingung dengan jawaban orang-orang. Semua menjawab “hanya Tuhan yang tahu”. Dia bingung karena orang India Tuhannya beda-beda dan banyak sekali.

Kebingungannya akhirnya menemukan tempat untuk berkeluh kesah. Adalah Jaggu, perempuan cantik (diperankan oleh Anuska Sharma) yang menjadi tong sampah keruwetan pikirannya itu. Dapat ditebak, akhirnya si alien jatuh cinta. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Jaggu punya pacar dan sangat dicintainya. Pada akhir cerita nanti, PK bisa pulang. Pulang dengan kekalahan. Cintanya tak tergapai.

Jaggu memang sedang patah hati ketika bertemu PK. Dia di Belgia saat itu dan sedang jatuh cinta kepada seorang lelaki yang bekerja di Kedutaan Pakistan. Ya, lelaki itu berkebangsaan Pakistan dan si Jaggu, tentu saja, India. karena pertentangan kedua kultur itulah cinta mereka akhirnya ‘sepintas lalu’ kandas. Dia akhirnya kembali ke Delhi sebagai seorang jurnalis televisi.

Di perusahannya tempat di mana dia berada, ada larangan membawa sesuatu berbau agama sebagai topik. Agama sangat sensitif dan kerap menimbulkan keramaian jika diperbincangkan secara terbuka di masyarakat yang punya ribuan Tuhan itu. Agama masih disikapi secara konserfativ alias kuno di masyarakat saat itu. Sementara, dia sendiri adalah korban di tengah kekolotan pandangan tentang agama orang tuanya. Namanya yang aneh adalah hasil dari kekolotan itu. Juga tentu saja cintanya yang kandas itu. Seorang tokoh agama bernama Taspawi bak seorang nabi yang tahu segalanya tentang segala sesuatu tentang Tuhan. Orang tuanya adalah pengikut berat si Taspawi itu. Apa-apa ditanyakan pada Taspawi. Termasuk masa depan cintanya dengan si Pakistan. Taspawi mengatakan bahwa si Pakistan hanya main-main terhadapnya. Sebagai bukti, Jaggu ditantang untuk meminta agar si Pakistan menikahinya. Saat di gereja, di menit-menit akhir mereka harus melangsungkan akad nikah, si Pakistan ternyata tidak datang. Sepucuk surat datang di menit-menit itu, disampaikan oleh seorang anak kecil. Isinya tentang permohonan maaf bahwa pernikahan itu tak mungkin dilangsungkan. Si Jaggu akhirnya patah hati. Tapi bukan berarri cintanya padam. Saat seperti itulah dia bertemu PK.

Menemukan PK secara tidak sengaja. Dia ingin menjadikan PK sebagai topik beritanya. Jaggu melihat ‘kemabukannya’ saat di kuil. PK mengunci sandalnya dengan gembok pada pagar di gerbang kuil. Kemudian memasukkan tongkat yang diujungnya terpadat kawat membentuk kail untuk mengambil beberapa lembar uang di kotak amal namun tertangkap basah oleh penjaga kuil. Jaggu langsung memasukkan dompetnya ke dalam kotak amal dan menyelematkan PK.

Pandangan mereka berdua tentang agama akhirnya bertemu. Ada ruang-ruang yang semestinya tidak sakral tetapi disakralkan. Yang pada intinya, masalahnya ada di soal ‘cara pikir’. Dan ada satu nama yang menjadi objek bidik. Dari satu nama itulah semua berasal. Cara pikir yang tidak semestinya tentang beragama namun dipaksakan bahkan dilembagakan.

Maka, genderang perang dengan Tapaswi pun ditabuh. Taspawi adalah salah satu pemuka agama Hindu yang memiliki jutaan pengikut. PK mengajukan pernyataan yang melawan pendapat Tapaswi yang disebutnya ‘wrong number’ atau salah sambung.

Hingga pada akhirnya program acara TV ‘Wrong Number’ ini pun meledak di seluruh Hindustan. Banyak orang mempertanyakan tindakan tidak tepat yang dilakukan oleh pemuka agama, terkhusus Taspawi. Inilah yang disebut wrong number. Wrong number ini, parahnya, menjadi semacam pemahaman yang diatelan mentah-mentah begitu saja. Tanpa diolah dan dipertimbangakan ulang.

Tapaswi, dalam film ini mengatakan hal yang seolah-olah benar. Namun terasa sekali kejanggalannya.

Misalnya, “Aku akan melindungi Tuhanku,” kata Taspawi dengan bangga. Lantas PK mempertanyakan kekuatan Taspawi sebagai pelindung. Tuhan yang Maha Pencipta, menciptakan seluruh isi alam ini kenapa perlu dilindungi oleh manusia. Dia bisa melindungi dirinya sendiri.

Banyak sekali paparan tentang penyalahgunaan dan pemahaman-pemahaman tidak semestinya yang dibongkar habis oleh PK. Jangan berpikir perdebatan-perdebatan ini nampak serius. Sikap tolol PK membuat suasana debat yang sejatinya sakral itu menjadi semacam gergeran dan humor cerdas.

Sebuah langkah berani dan cerdas oleh Rajkumar Hirani. Beberapa filmnya juga mengangkat soal yang sama, khususnya konsen Hirani tentang hubungan India-Pakistan dan hubungan antar agama.

Film ini dikemas dengan komedi segar yang menyindir tindakan-tindakan kita yang seolah-olah benar. Namun ternyata malah menyakiti pihak lain. Padahal Tuhan Maha Besar. Kita akan menikmati adegan demi adegan, ikut mempertanyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh PK. Atau kita juga akan larut dalam kisah cinta Jaggu yang mengharukan karena wrong number juga?

Pasalnya, pada saat Jaggu menunggu si Pakistan, dia terlalu terburu-buru memutuskan bahwa si Pakistan tidak datang. Si Pakistan datang ketika Jaggu sudah keluar dari Gereja. Si Pakistan juga berpikir dia sedang ditipu oleh Jaggu. Salah paham ini dipertahankan begitu saja. PK lah akhirnya yang mengurai. Dia mempertanyakan surat yang disampaikan oleh anak kecil itu. Surat itu ternyata tidak semestinya untuk Jaggu. Tetapi untuk perempuan lain yang ada di dalam gereja yang mengalami nasib serupa dengannya. Padahal, tidak ada nama dan tanda apa-apa bahwa surat itu dari si Pakistan kekasihnya.

PK yang mencintai Jaggu harus menelan pil pahit. Dia pulang tanpa apa-apa. Cintanya Platonik. Dia hanya membawa kaset-kaset suara Jaggu yang direkamnya dengan recorder radio yang dibawanya ke mana-mana itu. Jaggu tahu itu setelah tidak sengaja menyetel kaset-kaset itu. Semuanya berisi suaranya. Suara-suara dirinya saat bersama PK. Sementara PK mengatakan bahwa isi kaset adalah lagu-lagu. Tidak ada kata-kata. Tapi jelas itu adalah cinta. Sebagaimana fim India pada umumnya, penonton bisa berurai air mata mengetahui fakta itu.

)*Vera Astanti, reporter di BBC (BeritaBojonegoro.com). Mahasiswa Universitas Terbuka Bojonegoro

Catatan ini pernah dipublikasikan di beritabojonegoro.com edisi 16 September 2015.

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here