Home Buku Rekomendasi Bahagia = Buku

Rekomendasi Bahagia = Buku

70
0
pixabay.com

oleh tulus adarrma

BEGINI, saya bukan seorang maniak dalam hal membaca buku. Apalagi harus meresensi sebuah buku, kemudian menemukan bahan atau menciptakan hal baru dari pembacaan sebuah buku. Saya hanya seorang pembaca yang manthuk-manthuk ketika mengetahui buku yang direkomendasikan teman memang bagus dan saya merasa bahagia membacanya. Itu saja. Saya juga tidak bisa bercerita banyak soal buku. Beda dengan Kak Awe Syaiful Huda, dia begitu pandai bercerita dan mempengaruhi orang untuk membaca buku yang sudah ia baca. (Atau mungkin ada campur tangan kecenderungan? Kecenderungan dia lebih tua usianya dari saya? Katanya sih, orang-orang tua kecenderungannya bercerita. Hehe. Itu hanya katanya, tidak semua benar, juga kemungkinan tidak salah.)

Tapi, yang bikin saya merasa bahagia bukan karena soal cerita-cerita dari kawan saya itu. Saya bahagia karena di #HariBuku 2018 ini situs web komunitas literasi Atas Angin, www.atasangin.com ramai. Banyak penulis, pecinta buku dan lain orang sebagainya bercerita tentang pengalamannya membaca, pertemuan dengan buku sebagai pengalaman ketubuhan batinnya dan pengalaman lain yang menarik untuk dibaca.

Membaca tulisan kawan-kawan itu saya merasa bahagia. Imajinasi indra penciumanku melayang kemudian pada bau lembaran kertas buku. Mungkin kebahagiaan saya ini belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Moh. Tohir sebagai Mpu di komunitas Atas Angin. Setidaknya bersama dengan Danial Arifuddin, rencana untuk mengunggah tulisan tentang #AkudanBuku akhirnya terlaksana dan mendapat banyak apresiasi. Saya sebut banyak karena lebih dari sepuluh tulisan.

“Ngerti web keisi lho sueneng rasane maca tulisane dewe ning omahe dewe, dadi jeplak kanggo nulis. Yo ngroso isin bereng, ngroso kesalip, ngroso kudu iso ngimbangi. Minimal iki kanggo ikhtiar minterne awak-awak dewe disik. Nulis kanggo web iku kukira cara sing paling gampang dari sekian cara sing ada,” begitulah kalimat dengan kerendahan hati setinggi gunung yang ditulis oleh Tohir di hari buku sedunia, pada tanggal 23 April itu.

Perjumpaan saya dengan buku juga tak lepas dari komunitas Atas Angin. Sejak bergabung menjadi anggota awalnya hanya sebagai murid di Bengkel Menulis yang dikomandoi oleh pemuda berkumis tebal itu. Saya merasa jadi cantriknya, sering tidur bersama, tapi tidak pernah melayaninya. Saya mengenal dia tanpa ada ketergantungan bercerita, dia memang bersungguh-sungguh untuk mendidik, mengasuh dan sebagai ibu. Kalaupun saya ada beberapa hal yang tidak suka dengan caranya, tapi memang itulah cara dia. Hehe.

Pada paragraf ini saya mulai bingung, apalagi yang hendak saya tuliskan. Tapi ketika saya melihat kelincahan Wriskiawan begitu cekatannya dalam menulis (meskipun sambil ngobrol dengan orang lain) maka saya harus tetap menemukan ide dan melanjutkan tulisan saya. Yah, soal suka cita berburu dan menemukan buku sudah diceritakan. Soal buku dan kisah menemukan cinta, kenangan, juga sudah. (Meskipun saya juga menemukan cinta dari lembaran buku, tidak perlu kiranya dituliskan di sini).

Membaca buku dengan khusuk di zaman sekarang saya pikir memang menjadi sesuatu yang sangat berat. Kadang juga sungkan, di tengah pemegang gadget kamu masih pegang buku. Padahal membaca buku adalah ibarat memberi jeda untuk siap-siap kembali melangkah. Beberapa kendala misalnya karena kesibukan yang semakin menumpuk di usia dewasa, juga kecanggihan teknologi membuat begitu mudah mencari bahan referensi (meskipun kadang juga lebih banyak untuk bermedsos gak jelas).

Tapi hal itu juga yang membuat saya begitu bahagia ketika merasa ada panggilan lagi dari buku-buku yang sebagian sudah berada di kolong meja dengan debu dan sarang laba-laba. Mereka rasanya ingin saya ajak berdialog kembali. Kawan-kawan mungkin juga merasakan hal yang sama. Ketika kemudian saya menuruti panggilan itu, rasanya ada jeda ditengah keriuhan yang entah. Saya merasa bahagia dipertemukan dengan buku-buku. Terakhir, buku yang saya baca dan cepat sekali selesai adalah The Alchemist karya Paulo Coelho.

Saya juga punya wacana, wacana lho ya. Wacana nulis buku. Hehe…


Tulus Adarrma, jurnalis beritajatim.com, aktivitasnya khusyuk di Sayap Jendela Art Laboratory.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here