Home Sastra Prosa PURNAMA KEMBAR DI TAMAN MLIWIS PUTIH

PURNAMA KEMBAR DI TAMAN MLIWIS PUTIH

467
0
purnama kembar
MOHAMAD TOHIR
DUDUK di bongkahan batu pada taman Mliwis Putih, bocah itu menanti emaknya.
      Purnama kembar, indah menghiasi langit hitam kebiru-biruan. Cemara setinggi sebelas atau empat belas kali tubuhnya menghalangi matanya memandang langit. Malam itu, sepertinya, tak ada yang lebih indah untuk dinikmati selain langit yang berpurnama kembar.
Taman Mliwis Putih sudah sepi. Ataukah memang selalu sepi dan akan selamanya sepi? Tapi bocah itu masih saja duduk menanti.
      Beberapa saat kemudian bocah itu berlari menuju sebuah rumah yang sebenarnya lebih mirip gubuk. Di emperan, pada sebuah lincak, ia duduk dan kembali seperti menanti.
      Ia tinggal bersama emaknya di gubuk itu. Emaknya pernah bercerita, Taman Mliwis Putih adalah taman penuh cerita. Ada seorang raja, beratus tahun lampau dahulu, yang disulap menjadi burung meliwis putih oleh seorang perempuan. Di taman inilah raja itu disembuhkan kutukannya. Di batu yang sekarang tengah didudukinya itu, sang raja menyesali perbuatannya.
      “Mengapa raja itu dikutuk Mak? Bukankah raja itu pasti sakti?”
     “Karena raja itu main perempuan, Nak. Kesaktian laki-laki, entah itu raja atau bukan, tiada berarti lagi tanpa welas asih pada perempuan, Nak!”
      “Main perempuan? Maksudnya apa Mak?”
      “Besok kau akan mengerti Nak. Besok.”
      “Besok Mak?”
     “Ya. Besok. Kalau kau besar nanti.”
     “Sekarang aku sudah besar Mak.”
      Emaknya tak menjawab. Seorang laki-laki berbadan besar sudah menanti di luar rumah. Sesaat kemudian emaknya sudah menghilang, meninggalkan bau wangi menyengat yang membuat perutnya mual. Lelaki itu tentu saja bukan laki-laki yang main perempuan.
     Bocah itu tercenung memandang langit. Bulan purnama menyala kekuningan. Mengapa bulan ada dua? Bocah itu tentu saja tak tahu. Lagipula seharusnya tak berdempetan seperti itu. Namun begitulah adanya dalam cerita ini. Bocah itu tak tahu apa-apa. Ia menanti emaknya. Ingin ditanyakannya mengapa bisa ada dua bulan yang sama-sama menyala terang kekuning-kuningan. Apakah emaknya tahu? Pasti tahu, bocah itu yakin. Ia pernah melihat emaknya mengenakan kutang berwarna kuning menyala seperti rembulan itu.
***
     Taman Mliwis Putih tak serupa taman pada umumnya yang menawarkan sebuah keindahan dan romantisme. Taman itu berbau apak dan rerumputan di sekelilingnya berumbai-rumbai tak terurus membentuk semak belukar. Beberapa gumpal bebatuan tergeletak begitu saja di beberapa titik. Taman itu dikelilingi oleh pohon cemara yang menjulang tinggi sebelas atau empat belas kali panjang tubuh bocah itu.
     Di tengahnya, ada sebuah kolam yang airnya hijau berlumut. Malam hari membuat hijau lumut itu nampak semakin kelam. Mungkin kolam itu dalam dan ada buayanya, bocah itu berpikir demikian, dulu.
    “Kolam itu dulunya adalah tempat mandi para bidadari Nak. Setiap sebulan sekali di bulan purnama mereka mandi di kolam itu. Raja itu sering mengintip mereka. Namun suatu hari ia ketahuan dan marahlah bidadari-bidadari itu.”
     “Lalu?”
     “Lalu raja itu dikutuk menjadi burung mliwis.”
     “Burung mliwis itu burung apa, Mak?”
     “Seperti burungmu itu. Tapi lebih besar lagi.”
     “Seperti emprit, Mak?”
     “Iya. Seperti emprit!”
     “Emprit warna-warni yang Emak belikan itu?”
     “Iyoooo…!”
*
      Bocah itu masih duduk pada lincak di depan rumah. Pada lincak itu, dari lubang jendela, ia pernah mengintip emaknya berpelukan lama sekali dengan seseorang lelaki bertubuh besar yang mengantarnya pulang. Emaknya memang sering bepergian dengan laki-laki bertubuh besar.
      Sudah sangat malam. Emaknya belum juga pulang.
    Bulan masih menyala terang benderang, kekuning-kuningan, seperti telur ceplok yang pernah  dibelikan emaknya. Atau juga seperti kutang emaknya yang kuning menyala warnanya.
     “Mengapa Emak sering pergi?” ia pernah bertanya
     “Emak mencari laki-laki untuk Emak kutuk menjadi burung mliwis, Nak?”
     “Seperti dalam cerita Emak saja?”
     “Lhoh, iya. Cerita itu nyata, Nak!”
     “Emak bidadari dong?”
     “Emak cantik nggak?”
     “Cantik. Seperti bidadari.”
     “Apakah ayah juga Emak kutuk menjadi burung mliwis?”
    “Enggak. Kata siapa?”
    “Lalu?”
     “Ayahmu Emak kutuk menjadi tahu!”
    “Ha ha ha ha ha… Enak dong Mak. Saya suka tahu… Ha ha ha ha!”
    Emaknya lalu memeluk, sambil berbisik,
    “Emak bercanda, Nak. Menjadi emak itu nggak boleh seenaknya mengutuk Nak.
Ia ingat cerita Malin Kundang. Mengapa Emaknya si Malin Kundang main kutuk?
***
      Bocah itu mulai menguap-mengantuk. Mungkin emaknya pulang malam sekali. Atau mungkin pagi. Direbahkannya tubuhnya. Ia ingin tidur di lincak itu. Emaknya pasti menggendongnya nanti, kalau pulang, memindahkannya ke dalam. Ia ingin emaknya tahu bahwa ia ingin mendengar sebuah cerita lagi.
      Diingat-ingatnya, cerita apa yang belum diselesaikan emaknya. O, emaknya lupa mengatakan siapa nama raja itu. Sebuah cerita yang tokohnya tak bernama terasa ada yang kurang. Padahal raja itu tokoh penting. Raja itu pernah duduk melamun di batu yang didudukinya tadi. Jangan-jangan nama raja itu sama dengan namanya.
      Ah, ia juga ingin bertanya tentang purnama yang kembar itu. Rembulan adalah lambang seorang perempuan sejati, kata emaknya dahulu. Perempuan yang penuh kasih sayang. Tapi kalau kembar?
      Biarlah bocah itu tidur saja. Biarkan ia memimpikan purnama kembar itu menjelma menjadi kutang berwarna kuning menyala di dada emaknya. Tentu indah dan terang sekali. Biarkan saja ia yakin seyakinnya, pada purnama kembar itulah dia dulu mendapatkan kehangatan dan menyusu. Air susu cinta dan kasih sayang.
       Biarkan ia tak tahu dimana dan sedang apa emaknya sekarang ini. Emak yang disayanginya, yang ditunggunya, yang selalu bercerita tentang seorang raja yang dikutuk menjadi burung mliwis.
      Di sebuah titik di antara hamparan kerlap-kerlip lampu kota, pada lantai sebuah kamar, nampak kutang berwarna kuning menyala tergeletak begitu saja. Pada ranjang di atasnya, seorang perempuan tergolek lemas bermandikan keringat. Matanya sayu.
      “Kukutuk engkau wahai raja menjadi burung mliwis yang terhina!” bisiknya pada lelaki yang meringkuk di sampingnya.
      Bocah itu telah lelap di atas lincak. Purnama kembar masih menyala di langit di atasnya.
Bojonegoro, Hari Ibu
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here