Home Sastra Prosa Puisi-puisi Ce

Puisi-puisi Ce

172
0
pixabay.com

oleh chusnul chotimmah

Kenampakan

Kurekatkan satu
per satu
tali sepatu,
dengan begitu
dapat kulempar taliku
saat sabit,
saat matanya menyipit
seperti mengemu senyum
di ujungnya
yang lancip. Ya,
di senyum matanya.

Simpul tali,
simpul senyum,
aku tertawa geli.
Hari-hari menali
adalah hari-hari merekatkan diri.
Waktu-waktu mengikat
adalah waktu-waktu penuh berkat.

Tapi,
tetap kutunggu purnama.
Saat ia begitu
dekat. Lekat.
Dan, di bola matanya yang bulat,
aku menenggelamkan diri
sampai dasar.
Ia gelap,
dingin,
dan tak bercahaya.
Aku lupa untuk apa
tali ini kubuat.

Mei 2018.

 

Sekembalinya Rindu pada Sang Empu

Pernah kuhanyutkan rindu pada sungai deras,
yang alirannya bermuara pada laut lepas,
yang berombak besar, mengikis apapun yang berkeras

Lalu ombak membawanya kembali,
menepi,
bersama terumbu karang yang patah
dan puing-puing sampah.
Sampai akhirnya, digulung badai yang marah,
datanglah ia kembali bersama air bah.

Mei 2017


Chusnul Chotimmah, aktif dalam komunitas Bojaksara. Beberapa puisinya diterbitkan dalam Kitab Puisi Bojaksara “Sekembalinya Rindu pada Sang Empu”.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here