Home Catatan Puisi, Futsal dan Kenangan yang Tercecer

Puisi, Futsal dan Kenangan yang Tercecer

1454
0

OLEH W. Rizkiawan

Perkenalan saya dengan Ilham semakin mempertebal keyakinan saya bahwa futsal adalah puisi: kerumitan yang mencandu tiada henti.

SAYA memang tidak telaten bermain game, baik online maupun offline. Namun, itu tidak berlaku pada permainan yang berafiliasi dengan gerak fisik. Hampir semua permainan dengan gerak fisik saya menyukainya– Kecuali memainkah hati perempuan sih—  terutama sepakbola dan budaya turunannya: futsal.

Kesukaan saya pada sepakbola kerapkali membawa saya terlibat pada kompetisi amatir. Bahkan, saat kelas 3 SD saya sudah diperhitungkan sebagai striker berbahaya pada kompetisi Tarkam Cup U 10 di kampung. Meski tanpa piala, di rumah saya banyak sekali kenangan yang terbingkai dalam pigura.

Pemahaman sepakbola saya berubah pada kisaran 2005 – 2007. Saat kali pertama saya mengenal futsal: saudara muda sepakbola. Selain futsal sedang booming, permainan itu terpaksa saya akrabi karena memang sudah tidak ada lagi lapangan bola di kampung saya.

Bagi saya, awalnya futsal adalah sepakbola manja. Diperuntukkan kepada orang-orang yang malas berlari dan hanya suka menendang bola di depan gawang lawan saja. Namun saya keliru. Ternyata futsal lebih rumit. Ibarat karya sastra, sepakbola adalah cerpen. Sedangkan futsal merupakan puisi. Meski berukuran lebih kecil, butuh energi lebih besar untuk memainkan futsal daripada sepakbola.

Jika pada sepakbola kita bisa berpeluk jeda seusai mengumpan bola, di futsal hampir tak ada jeda. Passing pendek menjadi semacam paragraf tanpa titik. Posisi pemain pun tidak bisa istiqomah pada disiplin posisi yang sama. Berputar dan berubah-ubah. Seperti puisi, lebih sulit dipeluk daripada artikel, cerpen maupun angan-angan. Eh….

Dan gara-gara futsal ini pula, akhirnya saya mengenal sosok petarung lapangan sintetis bernama Ilham. Iya, Ilham Khatulistiwa—sang penyair berurai air mata yang kerap memeluk angan-angan tanpa jeda— itu. Perkenalan saya dengan Ilham semakin mempertebal keyakinan saya bahwa futsal adalah puisi: kerumitan yang mencandu tiada henti.

Saya mengenal Ilham pada 2012 (semoga Ilham memiliki ingatan lebih baik daripada saya) saat bermain futsal di jalan Hayam Wuruk. Waktu itu, saya usai bermain dan beristirahat di pinggir lapangan. Ilham dan  timnya baru saja masuk ke lapangan untuk bermain. Karena kekurangan pemain—entah siapa yang menyuruh memanggil saya—akhirnya saya diajak untuk ikut bermain lagi.

Itu saat pertamakali saya bertandem dengan Ilham, sang ahli drible bola. Ilham memiliki kemampuan dribling bola diatas rata-rata. Dalam pertandingan itu, saya melihat secara sadar dengan mata-kepala, Ilham menggiring bola dari belakang sampai ke depan pertahanan lawan dan sukses menjadikannya sebuah gol!

Selain memiliki kemampuan mendribling bola yang memukau, waktu itu Ilham sedikit gondrong dengan karet bekas nasi goreng mengikat kepalanya. Siapapun yang menonton pasti berkesimpulan bahwa Ilham saudara lelakinya Tohir. Eh, maksud saya Lionel Messi. Tak diragukan lagi, bahkan sayapun juga ikut mengamini.

Kemampuan Ilham menggiring dan menguasai bola seolah seimbang dengan kesukaan saya melakukan passing datar dan menjadi gelandang(an) yang mengkoordinir zonal marking (penjagaan area pertahanan). Berbagai macam passing yang saya lempar selalu bisa dikonversi Ilham sebagai sebuah gol. Saya menutup pertandingan itu dengan tendangan jarak jauh hasil umpan Ilham. Sontak, tim dadakan itu memenangi pertandingan.

Seusai bertanding, Manager Ilham, yang waktu itu memperkenalkan diri sebagai Pak Arif, memanggil saya. Meski baru pertama kali bertemu, kami ngobrol cukup lama. Dan entah karena melihat duet maut saya bersama Ilham atau gol pamungkas yang saya lesakkan tadi, Belio mengajak saya untuk bermain menjadi satu tim. Sejak saat itulah, saya dan Ilham kerap terlibat duet-duet maut.

Saya dan Ilham menjadi semacam suksesor Leiceser City. Riyad Mahrez dan Jamie Vardy. Passing pendek maupun panjang, selalu bisa disulap Ilham menjadi gol penentu kemenangan. Meski saya dan Ilham berbeda ideolohi—saya memegang kepercayaan Liverpool dengan sedikit amalan bermain ala spanyol-Itali dan Ilham meyakini Arsenal dengan mahzab bermain britania raya murni—kami tetap solid.

Selain bermain di jalan Hayam Wuruk, kami juga kerap diajak bermain keluar kota. Yang masih saya ingat, kami pernah mengobrak-abrik lapangan sintetis Tuban dan Jombang (Kediri?) Namun sayang, meski permainan kami tetap solid, untuk kedua pertandingan itu, tim kami menelan kekalahan.

Kami kalah dengan masalah yang sepele. Untuk di Jombang, kekalahan terjadi karena saat bertandang kami naik mobil ambulan. Berdesak-desakan dengan tabung oksigen. Sesampainya di lapangan, kami semua mabuk perjalanan gara-gara menghirup bau obat-obatan. Kiper kami lemas menjelang pingsan. Pertandingan belum dimulai dan kami sudah menyerah.

Kekalahan di Tuban juga sama. Tim Tuban menyewa pemain dari Papua. Nah, selain berpostur besar, pemain ini juga sangat terampil menendang kaki lawan. Alhasil, kaki kami juga ditendangi satu persatu karena dianggap bola. Kami kalah karena lawan kami tidak bisa membedakan mana yang bola dan mana yang kaki lawan. Gara-gara pertandingan itu, saya sempat dibekap cedera selama dua minggu.

Beberapa tahun kemudian, saya dan Ilham masih terlibat main bersama. Namun hanya bermain untuk iseng-iseng saja. Dan pertemuan kamipun juga tak terlalu intens. Selain disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, latihan futsal juga mulai jarang diadakan. Kami pun lama tidak bertemu.

Sekira dua tahun lalu, saya terkaget ketika bertemu Ilham di Rumah Baca. Sosok yang dulunya sangat garang di lapangan sintetis, kini berubah menjadi kalem dan penuh rima saat berbicara. Saya menduga, Tohir sang Dewa Aksara telah menyabda Lionel Messi itu menjadi penyair dan distributor kata-kata.

Sejak saat itulah saya menyadari bahwa Ilham merupakan manusia pertama yang mampu mempuisikan futsal dan me-nendangpassing-kan kata-kata menjadi sair yang tidak jarang membuat dek Pratiwi dan Wulida berurai air mata. Duh…

—————————————————–

W. Rizkiawan. Bercita-cita jadi pemain Liverpool FC.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here