Home Buku Pintu Menuju Kehidupan Lain

Pintu Menuju Kehidupan Lain

76
0

oleh chusnul cotimmah

AKU ingin membagi sedikit cerita tentang perjumpaanku dengan buku. Sebetulnya, aku juga tidak begitu ingat bagaimana tepatnya aku mulai menyukai buku. Mungkin sejak aku masih balita, atau mungkin sejak aku mengenal bangku taman kanak-kanak.

Aku ingat sewaktu masih sangat kecil, kakak seringkali dibelikan majalah Bobo oleh ayah, majalah anak-anak yang sedang popular di jamannya. Melihat cerita-cerita bergambar, anak kecil mana yang tak tertarik? Dan aku salah satunya. Dari majalah bobo, aku mulai suka mengobrak-labrik lemari kakak sepupu yang berisi komik-komik. Semakin banyak gambar di dalamnya. Aku jadi makin tertarik. Saban malam, selepas tragedi belajar dan tangis-tangisan, aku lari ke rumah Bu Dhe, pergi ke kamar kakak sepupu, dan menyembunyikan diri di antara tumpukan komik. Sebetulnya, bukan tumpukan juga, sih. Hanya ada satu rak kecil komik, tapi bagi anak kecil seusiaku waktu itu … rak buku itu surga. Aku merasa terselamatkan. Sayangnya, ingatanku tentang komik apa saja yang kubaca waktu itu sudah agak pudar, karena aku tak begitu paham ceritanya. Kisah dokter yang menemukan satu metode penyembuhan yang ternyata lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, kisah gadis yang melintasi waktu dan kembali ke jaman kerajaan, dan banyak lagi yang tak sanggup kuingat satu per satu.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, aku masih merasakan betapa nikmatnya pergi ke rental komik dan meminjamnya untuk jangka waktu tiga sampai tujuh hari. Tarifnya pun beragam. Komik-komik baru dipatok harga lebih mahal dengan jangka waktu peminjaman yang lebih sedikit, sedang komik lama dipatok dengan harga yang lebih murah dan jangka peminjaman yang lebih lama. Dengan uang saku yang cukup untuk dibelikan telur kocok, gulali, dan mainan bongkar-pasang, aku akhirnya memilih berpuasa jajan sembari menunggu tarif sewa komik baru itu turun, yang berarti komik itu sudah tidak baru lagi.

Baca Aku dan Buku dalam Sepekan

Selain komik, sewaktu SD, aku sedang gemar-gemarnya dengan mata pelajaran IPA yang diajarkan dikelas 4. Waktu itu aku masih kelas 2 SD, dan kakak kelas 4. Pelajaran kakak terlihat lebih asik, aku menjadi penasaran. Beberapa kali, aku mengambil buku IPA milik kakak tanpa sepengetahuannya. Ada satu kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini, “bumi serupa bola raksasa yang mengambang di luar angkasa.” Kalimat itu membuatku bertanya, “Kenapa bumi tidak jatuh?” dan pertanyaan itu kuajukan pada guru ketika di kelas. Hasilnya, semua teman menertawakanku. Beberapa bahkan mengingat pertanyaan itu sampai kami sudah kuliah.

Semasa SMP, aku masih belum lepas dari komik. Waktu itu sedang trend komik Naruto. Aku mengikutinya. Saban hari menyisihkan uang saku yang tak begitu banyak itu untuk kemudia dipakai patungan membeli komik Naruto di toko buku Salemba (di lantai 2 komplek supermarket Bravo). Masa SMP juga merupakan masa di mana aku pertama kali menikmati bacaan selain komik dan buku pelajaran, yaitu novel teenlit dan metropop. Masa di mana aku untuk pertama kalinya berkenalan dengan Tom Sawyer karangan Mark Twain. Novel tebal itu kubaca berulang kali di perpustaan sekolah, yang kemudian membuatku dianugrahi juara 3 pengunjung setia perpustakaan. Aku menjadi akrab dengan Bu Dwi, penjaga perpustakaan sekolah meski seringkali terkena denda karena telat mengembalikan buku … bahkan di satu kesempatan, aku menghilangkan buku yang kupinjam dan menggantinya dengan yang baru.

Begitu kira-kira perjumpaanku dengan buku, dan kisah yang menjadi awal kencanku dengan buku-buku lainnya. Aku agak tidak bersepakat dengan kalimat “buku adalah jendela dunia” karena buku adalah pintu, yang bebas kita masuki tanpa pernah mengetuk dan meminta ijin, yang membawa kita pergi melihat satu dunia ke dunia lainnya, yang membawa kita melihat kehidupan lain, bahkan hidup di dalamnya. Sekali lagi, selamat hari buku, kawan-kawanku! Sudah baca buku apa hari ini?

23 April 2018


Chusnul Chotimmah, punya perhatian tinggi pada masalah feminisme, minat di bidang jurnalistik, menulis cerpen, esai dan puisi. Aktif di Komunitas Bojaksara, juru bicara Ngaostik.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here