Home Buku Perahu Yang Terus Melaju

Perahu Yang Terus Melaju

612
0

Judul Buku  : Perahu Kertas

Penulis  : Dewi Lestari

Penerbit  : Bentang Pustaka

Cetakan  : VIII Januari 2011

Novel ini berjudul Perahu Kertas (PK), karya keenam Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan Dee, menyusul Filosofi Kopi dan Rectoverso. Ada yang beda pada karya Dewi Lestari yang satu ini dengan sebelum-belumnya. Pada Supernova, baik yang Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh, Akar, ataupun Petir ada kesan bahwa novel itu kelewat serius dan ilmiah banget. Sehingga bagi kalangan remaja mungkin Supernova tak terlalu diminati meski sambutannya cukup hangat di kalangan para sastrawan ternama. Filosofi Kopi dan Rectoverso sendiripun juga demikian, seperti hanya menjangkau kalangan dewasa.

Ada suara sumbing memang, yang keluar dari sementara pihak, bahwa Dee telah kehilangan naluri bersastranya dengan diterbitkannya PK. Sepintas bolehlah diiyakan, melihat bahwa memang PK tergolong novel pop yang banyak mengeksplor cerita cinta melulu. Ini nampak sekali dalam dialog-dialog dan setiap deskripsi-deskripsinya seperti kisah seputar kuliah, cita-cita, buku, pesta, pantai, cinta tak tersalurkan, dan sebagaianya. Namun justru di sinilah Dee menampakkan kepiawaiannya. Artinya selain bisa bikin karya serius, Dee mampu juga membuat karya yang ngepop khas anak muda. Bersyukur sajalah, di tengah kondisi anak muda di negeri kita yang sudah mending mau pegang buku, PK hadir di tengah-tengah itu.

Akan tetapi, kurang bijak rasanya bila hanya memandang bahwa sebuah novel pop hanya berisi seputar kisah-kisah cinta picisan saja. Ada hal lain yang musti digali dan dihayati. Hal itu mungkin berkaitan dengan human interest, nilai-nilai luhur kehidupan, problematika kehidupan, dan sebagainya.

Sedikit cerita, novel ini mengisahkan tentang Kugy dan Keenan, dua manusia dengan karakter yang berbeda yang kemudian bertemu. Tak ada yang bisa menebak, pertemuan itu ternyata membentuk sebuah kisah panjang yang dramatis.

Kugy adalah seorang gadis yang suka menulis dongeng. Sebagai perempuan kota, Kugy nampak aneh di sekelilingnya karena penampilannya yang tidak modis sekali. Selain itu dia hobi berkhayal. Dia sangat suka menuliskan dongeng ciptaannya yang bagi orang lain merupakan hobi tak lazim. Belum lagi kegemarannya menulis surat kepada Dewa Neptunus. Surat tersebut dilipat menjadi perahu dan dihanyutkan di sungai atau laut. Kugy menganggap dirinya seorang agen Neptunus.

Sedangkan keenan adalah seorang laki-laki yang terobsesi pada dunia seni rupa alias suka dan berbakat sekali melukis. Hanya saja kesukaannya di bidang melukis tidak mendapat restu dari ayahnya. Dia justru diarahkan ke bidang bisnis untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Ia dipaksa oleh ayahnya untuk kuliah bidang ekonomi.

Hingga pada akhirnya Kugy dan keenan bertemu lewat sahabat mereka yang kebetulan sepasang kekasih, Eko dan Noni. Kesamaan nasib dan pertemuan idealisme mempererat hubungan Kugy dan Keenan. Mereka berbagi mimpi dan saling mendukung. Acara nonton bareng atau makan sepulang kuliah jadi rutinitas wajib bersama Noni dan Eko.

Ada dialog menarik yang terjadi antara Kugy dan Keenan suatu kali saat mereka bertemu. Saat itu, Keenan kebetulan melihat Kugy sedang mengetik. Keenan tahu bahwa Kugy suka menulis dongeng. Akan tetapi mimpi untuk menjadi seorang penulis dongeng harus tertahankan karena terbentur dengan realitas sekeliling yang, menurut Kugy, menertawai mimpinya itu. Mungkin untuk menjadi penulis dongeng yang diakui, ia harus menjadi penulis serius dulu, baru kemudian setelah mapan baru menulis dongeng sesukanya.

“Kata Eko kamu suka nulis dongeng ya?”

“Iya, Hobi sejak kecil.”

“Tulisan kamu sudah banyak?”

“Kalau kuantitas sih banyak, tapi pembaca nggak ada. Dan bukannya tulisan baru bermakna kalau ada yang baca?” (…tertawa kecil). “Sejauh ini sih cuma dinikmati sendiri aja”.

“Kenapa gitu?”

“Siapa sih yang mau baca dongeng?”(terkekeh). “Mungkin aku harus jadi guru TK dulu supaya punya pembaca. Minimal dongengku bisa dibacakan di kelas.

“Banyak penulis dongeng yang bisa terkenal dan nggak harus jadi guru TK dulu untuk punya pembaca.”

“Keenan, umurku sudah 18 tahun, kuliah di jurusan sastra, kepingin jadi penulis serius. Orang-orang di lingkunganku kepingin kepingin jadi juara menulis cerpen di majalah dewasa, atau juaralomba novel Dewan Kesenian Jakarta, dan itu menjadi pembuktian yang Sah. Dan isi kepalaku Cuma Pangeran Lobak, Peri Seledri, Penyihir Nyi Kunyit, …. Di umurku, seharusnya aku nulis kisah conta,kisah remaja, kisah dewasa… Setidaknya aku harus jadi penulis serius dulu. Baru nanti setelah mapan, lalu orang-orang mulai percaya, aku bisa nulis dongeng sesukaku.”

“Jadi kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli, begitu?’

Nampak benar kegelisahan seorang Kugy yang bergelut dengan dunia sekelilingnya yang dirasanya tak bersahabat dengan mimpi-mimpinya.

Hal ini juga terjadi pada Keenan yang juga tak mendapat dukungan baik dari sekelilingnya. Kepiawaiannya melukis bahkan harus direduksi secara halus dengan dimasukkannya Keenan ke Fakultas Ekonomi oleh sang ayah dengan harapan menjadi penerus perusahaannya kelak.

“Mungkin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”kata Keenan menimpali komentar Kugy bahwa seharusnya dia masuk Seni Rupa.

Perasaan berbeda mulai muncul di antara Keenan dan Kugy. Namun, mereka berdua memilih menyimpan perasaan tersebut. Apalagi, saat itu Kugy sudah punya pacar. Suasana menjadi kian rumit ketika Eko dan Noni mencomblangkan Keenan dengan seorang perempuan metropolis yang cukup cantik dan fashionable. Masih dalam kegamangan perasaannya, Keenan memilih untuk mengikuti arus meski sejujurnya ia menolak rencana Noni dan Eko. Itu saja sebetulnya karena alasan karier bahwa Wanda, nama perempuan itu, mampu mengegolkan lukisan-lukisannya untuk dipamerkan di galeri ayahnya (Wanda). Sementara di sisi lain, Kugy merasa beringsut dengan hubungan Keenan dan Wanda yang secara kasat mata tak main-main. Ia betul-betul shok dan minder dengan dirinya sendiri di hadapan Wanda yang dirasanya memiliki segalanya. Kugy sedikit-demi sedikit menjauh dari kehidupan Keenan.

Cerita berlanjut dan semakin seru ketika Keenan merasa bahwa mimpi-mimpinya telah disambut oleh kenyataan. Lukisan-lukisannya banyak yang laku meski tanpa ia ketahui sebenarnya dibeli oleh Wanda sendiri. Optimismenya mengobarkan idealismenya hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kuliah demi konsistensi di bidang lukisan. Dan dapat ditebak saat petaka itu datang, yakni ketika ia tahu dengan mata kepalanya sendiri bahwa ia telah ditipu dan dimanfaatkan oleh Wanda. Ia kecewa bukan main. Hancur sudah segala mimpinya. Gelap sudah segala masa depannya. Terlanjur ia tergiur oleh bayang-bayang sesaat. Terlampau berani ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Dan terlambat sudah ia tak mempedulikan perasaannya pada Kugy yang saat ini sudah semakin menjauh dan memulai hidup baru dan bahkan sudah menjalin hubungan baru dengan seorang pengusaha.

Namun pada akhirnya, setelah melewati beragam liku-liku yang sama sekali tidak instant, mereka bertemu. Mereka kembali bersama menulis dongeng dan melukis. Mereka bersama membuat karya atau buku bareng, cerita anak dan dongeng yang dilengkapi dengan sebuah ilustrasi.

“Ke mana pun hidup membawa kita berdua, saya harus jujur, karya kamu menjadi inspirasi terbesar saya. Kalau boleh, saya ingin terus berbagi karya dengan kamu. Kugy, Kecil,
mau nggak kamu nulis dongeng lagi?”

Kugy menelan ludah. “Aku mau, asal kamu mau melukis lagi.”

Cerita-cerita itu sebenarnya merupakan sebuah refleksi buat kita bersama tentang betapa pentingnya sebuah mimpi dan ini harus dibayar mahal dengan rintangan-rintangan yang menggiurkan dan menipu. Kadang kita terhenti di tengah jalan. Kadang ada juga yang tetap bertahan namun skalanya menurun. Ada juga banyak yang harus mengikuti arus dulu untuk kemudian ketika saatnya memungkinkan, kita membuat ombak dan gebrakan yang dahsyat sekaligus. Tapi yang jelas, perahu harus tetap melaju.

Persoalan-persoalan yang diangkat adalah persoalan anak muda. Tentang cita-cita yang kadang-kadang saling tindih dengan persoalan cinta. Juga persoalan tentang mahasiswa kemarin sore yang bingung dengan orientasi akademisnya karena tak nyambung dengan bakat, hobi, dan sesuatu yang semestinya itu adalah hal paling urgen dan menuntut untuk dikembangkan. Juga persoalan tentang anak muda yang harus menghadapi kenyataan hidup antara mencari kerja demi eksistensi dan mempertahankan mimpi demi idealisme. Itulah yang dihadapi Kugy dan Keenan. Itu juga yang dihadapi anak negeri kita.

Kampungbaru, 20 Juni 2012

Mohamad Tohir, Pegiat sastra dan budaya di Bojonegoro

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here