Home Informasi PANCAWARNA, SEBUAH BUKU PUISI

PANCAWARNA, SEBUAH BUKU PUISI

667
0
Foto : vera sri astanti

Laporan : Mohamad Tohir

Foto : vera sri astanti
Foto : vera sri astanti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ajari aku menulis

jangan ajari aku membaca

 

Itu puisi. Itu puisi, dua baris, meluncur dari kedalaman suara Gampang Prawoto, penyair, 43 tahun, dalam sebuah diskusi buku kumpulan puisi PANCAWARNA (Praktek Mandiri, 2015) yang dia adalah salah satu kontributornya. Yang dibacanya itu adalah karyanya sendiri, jenis puisi 2 koma 7 (baca; dua larik tujuh kata), yang tergolong bentuk baru di Indonesia ini.

Buku itu didiskusikan oleh redaksi majalah Atas Angin (diterbitkan Komunitas Lesung) bersama para penulisnya, di Cendrawasih, Jl. Kolonel Sugiono Gg. Cendrawasih, 57, Sumbang-Bojonegoro, pekan lalu (08/08). Seperti judulnya, PANCAWARNA, yang menyiratkan jumlah lima, penulis buku itu berjumlah lima. Mereka adalah Santo’s Pak’e Zerli, Tofik Widodo, Gampang Prawoto, Herry Abdi Gusti dan Yonathan Rahardjo.

“Di facebook, banyak yang mengira bahwa ini adalah buku tentang akik,” kata Herry Abdi Gusti. Sebelum buku ini terbit dan naik cetak, memang informasinya telah menyebar terlebih dahulu melalui media sosial. Anggapan itu wajar, sebab ini seiring dengan demam akik yang melanda masyarakat Indonesia, juga Bojonegoro. Meskipun bukan sesuatu yang baru sebenarnya, sebab sebelumnya Gampang Prawoto pernah menerbitkan buku dengan judul senada. Diterbitkan oleh Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), 2013 lalu, kumpulan geguritan itu berjudul Puser Bumi (salah satu jenis akik). Bahkan saat itu belum ada demam akik seperti saat ini. Yang menggembirakan,. buku itu mengantarkan Gampang memeroleh penghargaan Karya Sastra Terbaik dari Balai Bahasa jawa Timur 2014 lalu.

PANCAWARNA adalah karya para penulis yang tergabung dalam Sanggar Membaca dan Menulis Indonesia (SAMMIN), sebuah gerakan literasi di ujung timur Bojonegoro yang telah bergerak sejak setahun yang lalu. SAMMIN berbeda dengan Samin, sebuah komunitas atau masyarakat di ujung Barat Bojonegoro (Kecamatan Margomulyo). “Meskipun, kalau diotak-atik, tetap sambung,” gurau Herry. Misalnya, Samin berjuang dengan tanpa kekerasan, maka puisi juga demikian.

Pada Kata Pengantar, penerbit mencatat demikian : “Masyarakat SAMIN di Kabupaten Bojonegoro tetap eksis dengan kelebihan dan kekhasan budayanya sementara indutrialisasi minyak menggerus Bojonegoro dan perikehidupan masyarakatnya yang kemakmuran dan kesejahteraannya banyak yang berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang disedot dan diindustrialisasi.

Ada nilai baik yang muncul, diserap dan bertahan di ujung barat Bojonegoro itu menggugah alam bawah sadar para pegiat SAMMIN di ujung timur Bojonegoro itu untuk menggelisahi sejauh mana budaya akan bertahan bila tidak ada upaya pendukung budaya itu termasuk dengan seni.

Maka puisi pun menjadi pilihan dalam langkah mereka kali ini…”

Penerbit antologi ini adalah Praktek Mandiri (PM), sebuah penerbit lokal milik Yonathan Rahardjo. Yonathan mendirikan penerbit itu dan mendaftarkannya di PNRI (Perpustakaan nasional Republik Indonesia) dengan melampirkan surat ijin prakteknya sebagai dokter hewan. Meskipun bukan penerbit besar, Yonathan membuat kontrak dengan para penulis dengan sistem royalti 10 %, sepanjang 5 tahun. “Prinsipnya adalah memuliakan pengarang, ” tegas Yonathan.

Menyandingkan Zainul Muttakin dan Danial Arifuddin –keduanya adalah penyuka puisi, diskusi berjalan gayeng, tidak berkesan formal dan kaku. Mereka bicara dengan kapasitasnya sebagai pembaca buku karya pertama SAMMIN tersebut. Banyak hal yang diangkat sebagai diskusi. Mulai dari kesan pembacaan, proses kreatif, prinsip penerbitan, dan soal perpaduan antara sastra Jawa dan sastra Indonesia.

Begitu….

Tunggu tulisan berikutnya Puisi (adalah) Pemberontakan

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here