Home Uncategorized ONCE UPON THE NAME OF DARMAN

ONCE UPON THE NAME OF DARMAN

299
0

SAYA (Mohamad Tohir) mengobrak-abrik folder-folder dalam brangkas data saya dan terkejut menemukan sebuah file word bernama ‘Sungai mengalir deras’. Saya tertawa sendiri melihat dan membaca isinya. Saya teringat malam itu, kami keroyokan menulis cerita pendek. Tak ada kesepakatan apa-apa tentang akan diapakan cerita itu. Yang pasti, kata kuncinya adalah bengawan solo. Kami tertawa dan saling umpat karena apa yang kami tulis tolol sekali. Kami yang adalah  Ashree Kacung, Awesh, Danial, saya sendiri, dan Jacobs dengan tuts-tuts computer yang sledeng, mengetik dengan kocak (kadang, tanpa disentuh, tuts-tuts itu berjalan sendiri). Maka, pembaca jangan heran dengan ketikan yang morat-marit di sana-sini (yang sudah lumayan rapi berarti sudah diedit). Naskah ini belum selesai dan harus diperbaiki secara serius. Tapi menikmatinya dalam kondisi aslinya ternyata kesannya istimewa. Ya, dinikmati saja sambil ngakak!

Once Upon The Name Of Darman

SUNGAI mengalir deras. Kali ini juga tak ada banjir. Darman mulai menyeberangkan perahunya dperti biasa. Beberapa penumangnya mem ang ada yang kahawatir akan derasnya aliran. Nam un m au ta m au para penyeberang itu harus memaka perahu. Belum ada jembatan penyeberangan. Belum ada juga gelagat untuk membangun jembatan. Bagi orang seperti darm an, setiap hari dia hanya berdoa bahw tak aan ada orang yang bereinginan mem bangn jem bata. Jelas yang dipikirkannya adalah soal mata pencaharian.(Kacung)

Tambangan tem pat darman menambang,  adalah satu-satunya jalur pintas untuk menuju ke kota.  Darman   juga  meruakan satu-satunya penam bang perahu di tambangan itu. Setiap hari, para pelajar, pedagang sayur,  pegawai kantoran hingga pekerja bangunan yang bekrja di kota, m em anfaatkan jasa perahu darman untuk  menyeberang. Tak pelak, Darman pun mnjadi satu-satunya orang yang diharapkan kehadirannya di tambangan itu tiap pagi, tiap siang, tiap sore, bahkan tiap waktu.(Danial)

Sebenarnya bagi lelaki seperti Darman, tentu tak susah-susah amat mencari pekerjaan. Banyak yang bertan ya-tanya m en gapa lelaki setampan darm an hanya nj ekutet hilir m u dik m elintasi sungai. Ya, Darman memang tam pan. Wajahnya kearab-araban. Hidungnya itu, mana ada yang menyamainya. Sungguh, kalau mau, ia tak kurang sangar un tuk menjadi seorang dosen, guru, atau apa saja yang penting ngantor. Aku termasuk orang yang bertanya-tanya itu. Hanya saja, ada-ada saja jawaban orang-orang. Ada yang bilang itu dilakukannya karena rasa bersalahnya karena ia pernah mencelakai seorang penumpang hingga tewas tenggelam. Ada yang bilang lagi ia kualat karena waktu mahasiswa dulu pernah main-main dengan salah satu titik keramat di tepian sungai itu. Ada yang bilang ia dikawin oleh peri sungai itu.(Mohamad Tohir)

 

***

Lngit mendung. Seharian matahari tak m enampakkan batang hidungnyga. Ia seperti bersem bunyi. Meski begitu tetap saja Darm an selalu saja siap di perahu tuanya. Namun siang ini, raut muka dia tidak seperti biasanya. Murung. Seperti lngit yg saat ini berhias mendu  ng.

“Man, nglamun  wae. Nek njungkel nek nggawan mboh lho !” kata Godek pada sahabatn ya itu.

Darman yang disentil omongan Godek tetap membisu, meskti sempat men yun ggin gkan  sen yum kecutn ya seben taar. Godek adalah sahabat keciln ya dulu mulai SD hin gga SMA. Kin i Godek bekerja sebagai buruh proyek perbaikan  jalan  di kotan ya. (Awe)

Ah, bagi darman omongan godek hanyalah gurauan belaka. Dianggapnya kalimat godek sebagai angin limbung yang salah alam at.  Justeru yang jadi pikiran darman saat ini adalah soal keresahan yang dirasa-rasakan selama menj  adi penamb ang. Kenapa nama su ngai kebanyakan dinamakan sesuai daerah hulu. Dan kenapa tidak dinamakan sesuai nama daerah aliran sungai saj a. Kebetulan daerah hulu sungai ini adalah solok, maka nam anya adalah  sun gai solok. Padahal sungainyga mengalir melintasi enam daerah berbeda. Brojo adalah nama daerah darman, yan ju ga menjadi aliran sungai solok. Darm an berpikir kenapa tidak dikasih saja nama sungai brojo. Namun diam –  diam perkataan godek masih jga nancap dipikran darman. (Kacug)

Sambil mengayuh dayung perahunya untuk membawa Godek menyeberang, sambil juga membawa keresahan akan nama sungai yang telah lama dianggap miliknya sendiri, Darman sekuatnya berkeras menghapus pikirannya dari ngiang perkataan Godek. Sebenarnya, perkataan Godek memang hanya celoteh iseng yang lumrah, tapi hal ini tidak berlaku bagi Darman. Celotehan itu seakan mengundang kembali bayang-bayang masa lalu yang kelam. Sebuah kenangan hitam yang selalu ingin ia buang. Andai saja kenangan itu bisa diperlakukan seperti benda mati, tentu sudah ia masukkan ke dalam peti. Lalu dihanyutkannya bersama deras aliran sungai hingga bermuara di samudera. Tapi kenangan itu hidup seperti parasit. Setiap kehadirannya selalu mengambil jatah hidup dari inangnya. Seperti itulah kemunculn kenangan itu mengambil jatah sebagian kehidupan Darman. (Danial)

Sudah dua bulan ini Godek tinggal di rum ah Darman, semenjak menjadi buruh perbaikan jalan. Dua bulan itu pula ia menyadari Darman yang setiap hari membawanya pulang perg  k  e kota bukan lah Darm an yang i  a kenal seaktu kuliah dulu. Ia tak  enyangka Darm an  m e nj adi tu ang perahu seperti itu.

“Ini adalah sungai purba Dek. Sungai  ini,  kau ta hu, dahulu  adalah lintasan para pedagang dari  berbagai pen juru. Hanya saja, entah sebab suatu apa, su ngai ini  terasa ma ti”, godek  m asih ingat Darm an ber kata em ikian sekitar lim a tahu n lalu. “Skripsiku tentang ini Dek!”

Pada sebuah gundukan yang din  a ungi rindang pohonan, di seberang sungai sana, Darman m erebahkan tubuhnya. Terbayang kembali saat itu. Saat yang men  yebabkan ia m en j  adi seperti yan  g nampak sekarang ini . m en j adi seseorang yang bukan  seperti yang Godek k enal dulu.

Berawal ari obsesin y a m en enu luri sun gai terpanj ang  itu yang m enyim pan bany ak m isteri yan  g belum terungkap, Dfarman m eni n  ggalkan segalanny  a di Jayaraya. Ia sering berkata sungai ini adalah sungai tua yang m enyim pan banyak rahasia. Lihat saja, dari sekian su ngai yang ada hanya sungai ini yang di sebut sebagai bengawan.

Suatu hari terjadilah peri syiwa itu. Saat itu sedang banjir besar-besaran. Berm  aksud m e nyelam atkan seorang perem puan kam  pung yang hendak tenggelam , ia maalah m en celakainya.  Perem puan itu tewas  tenggelam . Dfarm an  m erasa  bersalah dan bersumpah akan m engabdikan sum u r  hidupnya di sungai  itu m enja di  penam bang.

Satu obsesi m asih di pendam   darm an. Keinginan m ulia yang akan menj ai sejarah.keinginan yang musti  di ber sihkan dar i  par asit. Ya,  Parasit bisa jadi berben  tuk on  sesi, kei nginan dan   harapn . darm an adalah inang, penambang, peneliti topogragfi  ungai yang gagal dan bersenggam a engan peri. Darm an m erasa terus di gerogoti segala parasit. Airm atanya tum  pah ,  kopinya jadi tak berarom a.

Dayun  g perahu pelan – pelan di gerakan, arus m asih juga  deras. Awan bergulun g – gulun g.                                                                                                                                                                                                                                                                                     Angin       berkelebat keras tak tentu. Kekhawatiran m enjadi – men jadi. Meski pagi , peluh m entes i ahi dfarmah. Penumpang salin g tatap tak brsuara. Gemuruh falam  hati m ereka. Tiba – tiba tangan – tangan sling brpaut satu ngan yang lain.

“saksikan lah wahai semesta, kupen uhi panggilanku untuk m engabadi bersa ma peri . tapi kalian harus penhi  kein gin  a  n    ku paling mulia.                                                                      Bahwa sungai ini          har us kalian nam ai sebagai s ungai  brojo, bukan sungai solok”  pekik darm an lantang.

“hai Man ,tapi dimana kau berada tanpa diriku? Bagaimana hal hal lainmenygertaimu tanpa pertolonganku”,  sahut suara keluar dari dayung gyan g memain kan   air keruh n ya. Ya sungai memang menjadi suatu tempa yang suci bagi daman

Daman men n duk dalam dalam smpai kedasar sun  ai, tan  pa sadar air matan yapun keluar dan tiba tba   menjelma seoran g bayi berbadan ikan, lalu meren gek memaksa peri a gar perahu darman  dibalik u ntuk dijadikan temprung. Bagin ya Demi air matan ya perm in taan  bayi itupun  dituruti oleh darman

Ki ni daman  tak lagi jadi juru sampan , dia men ikmati sisa sedikit umur ditepi su ngai ya ng keruh

Darm an yang telah  jauh dari kota dia ben ar-be nar tidak i ngi n men getahui apapu n lagi ten ta ng dirin ya. Ingin diam . Bahwa kehidupa n yan g telah di jalan i berahu n-tahun telah usai dan  hilan g. Darman haus da n kerin g di titik perubahan . mimpin ya basah. Hatin ya basah. Terhisap dalam kejen uhn  . bagai spon  yang men yerap hingga dirin ya pen uh air. Darma n da n  perhungya lelah pada aliran ya n g dijelaja h sampai ujun gn ya. Men galir dan  mengarus kedepan  selaman ya. Namun  tetap masih ada masih tetap sama walau mome n  nya baru.

Philokopi,

Ashree Kacung, Awesh, Danial, Mohamad Tohir, Jacobs,  tanpa tanggal

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here