Home Buku Mutan dan Alien dan Manusia Planet yang Tersesat

Mutan dan Alien dan Manusia Planet yang Tersesat

228
0

OLEH WAHYU RIZKIAWAN

Terimakasih telah mengingatkanku untuk mengingat kembali ingatan-ingatan tentang buku. Aku bukan orang yang lihai mengingat riwayat membaca buku. Terbukti, berbagai dokumentasi ingatan pada proses pembacaan buku yang seharusnya bisa dijadikan koleksi, banyak yang hilang menguap.

Tapi tenang, seturut memperingati hari buku, sekaligus memperingati hidup kembalinya web atasangin.com, aku akan menceritakan padamu tentang buku yang cukup berkesan bagiku. Sebuah buku yang, bolehlah kusebut sebagai: pemantik kesukaanku membaca buku.

Kelas 3 SD pada pelajaran Bahasa Indonesia. Pukul 9.30 pagi, di buku paket Bahasa Indonesia berwarna hijau, aku menemukan sebuah cerita tentang persahabatan seekor elang dan ayam jantan. Cerita bergambar sepanjang dua lembar halaman itu aku baca sampai selesai. Bisa dikatakan itu pertamakali aku membaca cerita sampai selesai. Aku merobek halaman cerita itu lalu kusimpan di saku belakang celana pendek warna merahku. Aku tidak tahu siapa yang menulis cerita itu. Tapi andai aku tahu, aku akan berterimakasih padanya.

Sebab, dua halaman cerita itu adalah cerita pertama yang pernah aku baca. Aku merasa, andai aku tidak bertemu cerita itu, mungkin aku tidak bakal suka dan mengenal sejumlah buku. Selain pengalaman pertama membaca, momen itu adalah pengalaman pertamaku “mengamankan” bagian dari buku— sebuah pengalaman yang memicuku terlibat dalam berbagai agenda “mengamankan” buku di episode yang lain. Meski tidak serta merta membuatku mencintai baca buku, setidaknya pengalaman ini menjadi embrio dari kedekatanku pada buku.

Semasa sekolah dasar dan menengah pertama, bacaanku tidak pernah jauh dari perihal buku-buku sejarah dan keagamaan. Bukan karena fokus dengan tema-tema itu, melainkan karena hanya buku-buku dengan kategori seperti itu yang ada di rumah. Makolah tentang Wali Songo dan lokasi ziarah adalah jenis buku pertama yang paling dekat denganku. Itu karena dulu orangtuaku rajin berziarah ke sejumlah makam para Wali. Nah, tiap pulang berziarah, bapak dan ibu sering membawa oleh-oleh berupa buku dan bacaan yang dijual di lokasi ziarah.

Buku-buku hasil ziarah orangtua itulah jenis bacaan berupa buku yang pertamakali aku baca. Kisah para nabi, riwayat para wali dan sejumlah lokasi tempat peziarahan menjadi bacaan akrab masa kecilku. Ada banyak jenis bacaan model begituan yang kala itu kerap aku baca. Tapi, seperti yang kujelaskan di paragraf pertama: aku bukan orang yang lihai mengingat riwayat membaca buku, hanya beberapa buku saja yang aku ingat. Salah beberapanya, buku yang berkisah tentang Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar dan kisah saat Nabi Yunus selamat dari ikan raksasa. Aku lupa judul bukunya apa, tapi itu buku-buku pertama yang aku baca sampai selesai.

Di usia remaja, aku bukan tipikal pembaca buku garis keras yang mampu menahan syahwat beli jajan hanya untuk bisa menabung demi beli buku. Bisa dikatakan, saat sekolah, aku jarang beli buku— untuk tidak mengatakan tidak pernah beli sama sekali. Sebab, seperti yang kamu ketahui, sebagai lelaki remaja yang jauh dari orangtua, bisa beli bakso dan tempe penyet jauh lebih mengasikkan daripada sekadar membeli buku.

Keenggananku membeli buku terselamatkan dengan keberadaan teman yang loman meminjamkan buku. Tidak loman sebenarnya, tapi dia punya usaha penyewaan komik. Darisana aku mengenal sejumlah komik seperti Get Backers, Black Cat, Great Teacher Onizuka dan One Piece. Kecuali One Piece yang sampai sekarang masih bergulir, kalau tidak salah, komik-komik itu pernah kubaca sampai volume terakhir.

Kesukaanku membaca buku sempat hilang ketika aku masuk di bangku Sekolah Menengah Atas. Alih-alih membaca buku, tiap hari aku harus berfikir bagaimana bisa lolos dari kejaran satpol PP dan guru BK yang berupaya mengganggu vakasi utopisku untuk berlibur setiap hari. Karena setiap hari harus berhadapan dengan mesin, aku jadi bosan sekolah. Kebosananku pada sekolah memicuku bosan pada apapun yang berbau buku. Entah itu buku pelajaran maupun buku absen harian. Bahkan, komik yang awalnya aku suka pun sempat kubenci karena aku berpikir ia tidak mampu menyelamatkanku dari kejaran satpol PP dan guru BK. Kondisi itu diperparah dengan sebuah adagium legendaris: “Hanya Bambu Runcing dan Kunci Busi yang Layak Dibawa Anak STM”.

Kedekatanku pada buku sempat terbangun kembali saat aku bertemu dengan Sir Arthur Conan Doyle. Gara-gara mendengar ocehan-ocehan Dr. Watson, aku jadi sering baca buku lagi. Dengan gaya berkisah yang asik, mendebarkan, dan sarat akan teknik-teknik memecahkan masalah, aku pun membaca serial Sherlock Holmes dengan harapan bisa lihai mengelabuhi guru saat ingin membolos. Dan itu memang terbukti. Hehe

Selain Sherlock Holmes, satu buku lain yang benar-benar membuatku kesengsem pada buku adalah novel Oliver Twist karya Charles Dickens. Novel tipis berwarna biru mangkak terbitan Pustaka Jaya ini sempat membuatku meneteskan air mata (untuk tidak mengatakan menangis) saat membacanya hingga halaman terakhir. Sebenarnya, itu tangisan kedua. Tangisan pertama saat membaca buku adalah ketika aku membaca kisah Raden Said yang diusir oleh orangtuanya gara-gara dituduh mencuri beras. (sebagai mantan anak STM yang pernah bolos sekolah selama hampir 4 bulan untuk mengonsep tawuran, seharusnya kisah cengeng ini tak kuceritakan padamu).

Aku benar-benar jatuh suka pada Charles Dickens dan ArthurConan Doyle. Sejak pertamakali membaca karya mereka, aku langsung memposisikan dua penulis itu sebagai penulis idola. Namun, kesukaanku pada novel mereka juga berdampak buruk. Kemana-mana, aku selalu berusaha menceritakan pengalamanku membacanya. Banyak teman yang bosan bertemu denganku gara-gara aku selalu bercerita tentang pengalamanku membaca dua buku itu. Sejak saat itu, aku merasa hidup di zaman yang salah. Aku menjadi mutan atau alien atau manusia planet yang tidak punya teman bercerita.

Baca juga Aku dan Buku dalam Sepekan

Jika pernah menonton video clip Boulevard of Broken Dreams, kau bisa membayangkan aku seperti Billie Joe Armstrong yang berjalan sempoyongan melintasi lorong sepi tanpa teman, sambil membopong sebongkah cerita di kepala yang ingin kubagi pada siapapun yang mau mendengarkannya. Dan aku menyesal pernah jatuh cinta pada buku, sebelum akhirnya bertemu dengan para alien lainnya.

Pada saat itu, Prawotcghkr-08 adalah nama kode alien pertama yang kutemui. Aku lupa kapan waktunya. Namun, yang kuingat, aku menemuinya di sebuah perpustakaan dengan koleksi pas-pasan yang buku-bukunya pernah kucuri lalu kukembalikan lagi karena tidak tega melihat koleksinya tiap hari kian berkurang. Sepertiku, Prawotcghkr-08 adalah alien yang lucu dan suka bercerita. Kami sempat bercerita dan berbagi bongkahan kisah yang ada di kepala. Darinya, aku mengenal nama kode alien lain yang lebih tua seperti Nananxzhb-07 dan Nasfckdchke-06. Tapi aku hanya bisa berkomunikasi dengan Prawotcghkr-08. Dua nama lain hanya sempat kukenal dari kejauhan dan enggan kukenal lebih dekat karena aku khawatir mereka bisa memakan alien yang lebih kecil.

Komunikasiku dengan Prawotcghkr-08 sempat hilang karena aku harus meninggalkan kota selama beberapa tahun untuk meditasi dan bertapa dan selama itu pula aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengan para alien ataupun mutan. Saat pulang ke kota asal, aku kembali sendirian dan tidak menemukan teman hingga sebuah siang yang cerah mempertemukanku dengan alien lain yang lebih unik. Tidak seperti Prawotcghkr-08 yang dengan mudah bisa kubaca kode namanya melalui dahinya, hologram di dahi alien yang satu ini kodenya berubah-ubah. Kadang terbaca Lugit-0468Zfjj, kadang terbaca Rohit-78981BHBH, dan kadang terbaca Rihot-18987HBHB. Saat memperkenalkan diri, dia mengaku bernama Tohir Roh. Sebagai seorang alien jenis predator, dia memiliki telinga yang sangat bagus. Kepadanyalah, aku banyak berbagi trik tentang cara mencuri buku yang baik dan syar’i.

**
Sebenarnya, ceritaku tentang Lugit-0468Zfjj atau Rohit-78981BHBH, atau Rihot-18987HBHB masih sangat panjang. Tapi karena aku takut Tulus Budiman, orang yang memintaku menulis tulisan ini mengantuk, akhirnya aku harus mengakhiri tulisan ini. Sebab, saat Tulus Budiman memintaku menulis untuk web atasangin.com, aku menyuruhnya tidak tidur dan terus memantau WA sembari menungguku mengetik di ponsel.

 


Wahyu Rizkiawan, ayah muda, anak baru satu, kemana-mana tapi tak pernah pergi ke mana-mana.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here