Home Berita Mimpi Bersama Sekolah Nulis Sindikat Baca

Mimpi Bersama Sekolah Nulis Sindikat Baca

322
0

“Manusia boleh pandai setinggi langit, namun ketika dia tidak menulis maka dia akan hilang ditelan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian “ (Pramodya Ananta toer)

Sebelumnya, (maaf) izinkan saya bercerita tentang pengalaman pribadi saya mengenai dunia menulis. Karena dari cerita inilah, ada alasan kenapa saya ikut terlibat menjadi anggota Sindikat Baca dan ikut sekolah menulis.

****

Seingat saya, kapan saya mulai suka nulis adalah semenjak kelas lima Sekolah Dasar. Hanya saja waktu itu belum menulis ide pikiran saya sendiri. Ceritanya, karena mungkin tulisan saya dianggap paling nyentrik (hehe, jadi Pe-De banget) dibanding umumnya siswa sekelas, maka sering kali saya disuruh menulis materi yang diajarkan bapak/ibu guru di papan tulis, lalu siswa yang lain mencatat tulisan tersebut. Waktu itu, saya benar-benar merasa senang, meskipun dirumah harus menulis ulang materi yang saya tuliskan tadi. Sebab kalau tidak begitu, maka saya tidak punya catatan atau tulisan. Oleh karenanya saya sering dipinjami buku pelajaran oleh bapak/ibu guru, sehingga saya pun tetap semangat.

Semenjak itu saya selalu menjadi sekretaris kelas. Bahkan setelah SMP, SMA dan saat kuliah jabatan sekretaris ini seakan selalu melekat kemanapun saya berada. Di organisasi PMII Cabang Bojonegoro saat ini misalnya saya menjabat sekretaris satu, kemudian di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) – Manajemen saya pernah menjadi sekretaris umumnya, begitu juga di organisasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) 2010/2011 – semacam lembaga MPR-nya mahasiswa STIE Cendekia Bojonegoro – saya juga menjabat sekretaris umum, meski saat ini saya ketuanya.

Puncak dari kedekatan saya dengan aktifitas menulis adalah saat menjabat Biro Pers/Jurnalistiknya KP-Lima (Komite Pemuda Lintas Agama) dan pada tahun 2011 menjadi ketua Lembaga Pers Kampus STIE Cendekia yang bernama “C-Media”. Saya semakin keranjingan menulis, apalagi saat dua kali ikut penulisan karya ilmiah Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan setiap tahun oleh Dikti Jakarta. Lha Dilalah, dua karya ilmiah yang saya kirimkan itu lolos dan didanai oleh Dikti. Barulah saya sadar bahwa menulis itu mengasyikkan. Apalagi semenjak dua karya ilmiah itu, beberapa dosen seakan percaya kalau saya itu penulis. Padahal aslinya itu hanya iseng ikut saja.

Lambat waktu, tiba-tiba saya jadi termotifasi dan selalu ingin belajar,belajar dan belajar menulis yang baik. Saya senang bisa bertemu dengan Mas Nanang Fahruddin (Wartawan SINDO), Mas Anas AG (Wartawan Radar), Prawoto dan beberapa anggota senior Sindikat Baca. Melalui mereka saya dikenalkan beberapa karya bagus. Misalnya Tetraloginya Pramodya, Buku-buku Putu Wijaya, Umar Kayam dan lain sebagainya.

Pernah juga saya berkesempatan bertemu Mbak Lan Fang (Novelis asal Surabaya) dalam sebuah forum di KP-Lima. Kata-kata dia yang terus mengiang di bawah alam sadar saya, yaitu menurut Mbak Lan Fang “Dengan membaca kita tahu dunia, dan dengan menulis dunia akan tahu kita”. Lalu saya juga pernah bertemu Mbah Zawawi Imron (budayawan Madura). Saat itu dia lagi belanja buku di pasar Wilis Malang. Melalui pertemuan tidak terduga itu saya mendapatkan beberapa wejangan tentang menulis sebagai pengabdian sosial. Pertemuan yang sempat saya abadikan melalui kamera ponsel saya itu sangat membekas dan memberi makna mendalam terhadap sosok yang dikenal dengan sebutan “si celurit emas” tersebut. Saya juga pernah ketemu Mas Gol A Gong Penulis nasional yang terkenal karyanya Catatan Si Roy. Lalu mas Jhonatan Raharjo, seorang penulis novel asli kota Bojonegoro yang pernah memenangi Festival Novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalu novelnya Lanang. Dari mereka semua saya semakin menyukai dunia literasi.

Berangkat dari itu, maka saya salut dan ingin berkarya di sindikat baca. Suatu organisasi kumunitas penggerak literasi di Bojonegoro. berharap-harap banyak darinya agar memberi manfaat bagi pengembangan minat literasi saya. Seperti kata bijak “Jika kau ini ingin jadi politikus maka bergaulah dengan politikus, jika kau ingin jadi pengusaha maka bergaulah dengan pengusaha, dan jika kau ingin menjadi penulis maka bergaulah dengan penulis”. Demikian kata bijak ini seakan memberi pemahaman bahwa stokeholder itu sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian/karakter dan orientasi kita.

Progres Sindikat Baca

Sebagai anggota sindikat baca, ada beberapa harapan yang ingin kita capai khususnya terkait dengan sokolah nulis yang kami adakan. Pertama, reproduksi dan re-generasi penulis-penulis lokal. Kedua,adanya output yang jelas berupa buku dari para penulis didikan sekolah nulis sindikat baca. Hal ini termotifasi oleh kata-kata Mas Anas “Bukan dikatakan seorang penulis jika ia tidak ‘memiliki’ buku”. Ketiga, menghidupkan dan mengembangkan komunitas ini dengan program-program yang progresif. Melaui beberapa kali catting dengan Mas Nanang, ia sempat beberapa kali mengutarakan uneg-unegnya yang menurut saya sangat urgen untuk segera diaplikasikan. Salah satunya tentang masa depan Sindikat Baca dan program Arisan Buku dan Sekolah Nulis.

Khusus untuk program Sekolah Nulis – Untuk mencapai target dari program ini, menurut saya ada langkah-langkah yang ideal guna mencapai tujuan dari program. Diantaranya; a) Harus adanya kurikulum baku. b) Ada teori dan praktek. c) Dimulai dari pengenalan penulisan dasar ala jurnalistik (seperti berita, lapsus, artikel/opini, dll) d) Membuat wadah sebagai penampung kreasi siswa-siswa sekolah nulis (Seperti menghidupkan kembali Buletin Baca, Blog/Website, dll). e) sekali waktu juga semestinya sekolah menulis ini mendatangkan beberapa penulis terkemuka agar menjadi inspirasi dan mengetahui proses kreatif mereka sehingg menjadi penulis. f) dan untuk jangka panjangnya sindikat baca membuat baca publishing (penerbit buku atau semacamnya).

Demikian uneg-uneg yang ingin saya sampaikan pada teman-teman dan khususnya gagasan ini bisa menjadi bahan sharing dengan Mas nanang, selaku pemateri tetap sekolah nulis. Tapi yang jelas bahwa menulis itu adalah sebuah proses tiada henti. Tidak bisa kita mendapatinya secara instan. Selain itu pula saya sangat setuju dengan pendapat Mas Nanang bahwa “Penulis yang baik adalah pembaca yang baik”.

 By Awe Abde Negara

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here