Home Berita Merasakan Kembali Altruisme Rumah Bambu Romo Mangun

Merasakan Kembali Altruisme Rumah Bambu Romo Mangun

746
0

1308822Penulis: Asri Kacung

Saya akan membincangkan tiga cerpen Romo Mangun (YB Mangunwijay) dari buku kumpulan cerpen pertama dan terakhirnya, Rumah Bambu. Ada tiga cerpen yang membuat saya merasa diingatkan kembali tentang hal-hal yang luput dari pengamatan kejadian sehari-hari dan bagaimana manusia-manusia sederhana itu bertarung melawan hidup. Tentu dengan caranya masing-masing.

Benang merah -jika memang bisa disebut dengan istilah demikian- dari ketiga cerpen tersebut adalah pekerjaan untuk menyambung hidup dan juga membahagiakan orang lain.

Mengapa saya menghadirkan kembali cerpen Romo Mangun, tak lain adalah usaha saya sendiri untuk sebisa-bisanya mengalami, atau kalau tidak ya membayangkan, bagaimana orang kecil hidup pada tahun 80-an. Selain bahwa saya akhir akhir ini agak jenuh dengan cerita yang banyak ditulis yang berpusat pada tokoh utama orang pertama ataupun dari sudut pandang orang pertama aku, saya ataupun kami. Penceritaan dengan gaya tokoh pertama punya kecenderungan untuk membatasi cerita yang berkisar dan bertujuan pada glorifikasi kepahlawanan diri sendiri, begitu individualis, minimalis kadang kadang pragmatis dan fragmentis. Dan saya memang tak begitu suka dengan cerita heroik seberapapun logis dan koheren cerita itu dibangun.

Sekali lagi ini adalah resepsi saya atas cerita-cerita yang menurut saya memberikan kesan mendalam tentang lingkungan pedesaan, kesederhaan bahasa, cara berfikir dan tingkah-tingkah spontan dan natural dan bisa jadi tidak mengada-ada.

Tokoh-tokoh utama dalam cerpen ini dengan kebesaran hatinya rela untuk menderita, malu, capek namun tetap bisa berbagi kasih dengan orang dekatnya masing-masing. Mereka tak hidup di apartemen-apartemen mewah, rumah-rumah gedong, atau mengunjungi mall atau kafe yang nge-hits, terkenal dan bonafide, melainkan tempat-tempat biasa yang bersanding dengan comberan, pinggir kali, jalanan dan gubuk reyot.

Baiklah, cerita pertama berjudul ‘Tidak ada jalan lain’ (tanpa tahun) dengan Baridin sebagai tokoh utama. Baridin digambarkan sebagai ‘pemuda penganggur yang serba kalah karena lemah lembutnya dalam kancah pertarungan nasi dan nafkah’ (hlm 3). Yang ingin dihidupkan dalam cerita ini adalah usaha Baridin untuk menepis rasa ‘kalah…dalam pertarungan nasi dan nafkah’.

Suatu waktu Baridin dengan segenap keberaniannya menyatakan untuk menjadi petarung kehidupan. Tak main-main, ia akan keliling kampung menjadi pengamen dengan berdandan menjadi perempuan. Tentu saja ia menjadi bahan olok-olok para tetangga, tukang becak dan simbok-simbok bakul di pasar.

Baridin dengan segenap ketiadaanya meminjam ubo rampe kesana kemari. Misalnya ‘Maka dari paguyuban gadis-gadis saleh dan alim itu ia meminjam simbal blek yang gemerincing gembira emping-emping bleknya bila dilambai-lambaikan’(hlm 3-4). Setelah berkeliling ia disapa dengan mesra menggunakan kalimat yang juga aduhai ‘diganjal apa den bagus tetekmu itu?’ ‘supermi’ seloroh seorang pilot becak sambil ketawa serong sekali’ (hlm 5).

Setelah keliling kampung ia pun mampir ke tempat Ruyem. Di sana ia meminjam wig dan kutang. Ruyem dengan entengnya bilang ‘sudah setengah hari bergoyang pantat cuma sekian? Kau lebih kere dariku’ (hlm 6). Adegan yang menurut saya cukup natural adalah ketika Ruyem mencengkeram kontol Baridin, hingga si empunya menjerit. Kejadian itu memang biasa saja, karena Ruyem adalah pelacur. Dan saya kira itu hanya guyonan kepada Baridin, dan untuk memberi semangat pada Baridin bahwa meskipun ia tak punya apa-apa ia masih punya anu itu.

Sesampai di rumah dan memberikan uang hasil ngamen pada simboknya, ia pun menerima umpatan lain karena mampir ke rumah Ruyem si pelacur. Simboknya bilang ‘harus saya cuci dulu dengan karbol. Nanti seisi rumah dengan segala cindil-nya terkena penyakit kotor Ruyem’ (hlm 8).

Di akhir cerita Romo Mangun menulis dengan sederhana kalimat berikut‘bahwa kedamaian bagi orang punya dan tak punya memang tidak sama akarnya’ (hlm 9).

Cerpen kedua berjudul Hadiah Abang (September 1980) dengan tokoh utama Gondek, remaja miskin yang tak lagi memikirkan sekolah. Hingga suatu hari Gondek menghilang begitu saja untuk menjadi kernet colt ke arah Magelang. Pulang dari berdinas ia ketemu adik perempunya ‘Bluluk yang sedang mencuci ketel dan panci-piring memandangnya terbengong dengan kedua mata jengkol lalu mendesis ’Kau dicari bapak. Rasakan nanti’ (hlm 24). Gondek memberi hadiah pada Bluluk dari hasil “berdinas”nya, yang disangka oleh adiknya sebagai hasil mencuri.

Cerpen ketiga berjudul Pagi Itu (tanpa tahun) dengan tokoh utama Mbok Ranu, perempuan miskin yang tinggal digubung reyot dan harus berbagi ruang dengan lelaki “pendatang” yang tak jelas asal usulnya, Sendok namanya. Mbok Ranu adalah pembuat cucur dan harus bekerja sampai dini hari untuk menggoreng. ‘Cucur? Siapa makan cucur! Priyayi terang tidak (hlm 58)’.

Bagi Mbok Ranu rona rona kehidupan tak lain sama dengan cucur. Ia mengukur penghasilan juga dengan takara cucur. ‘Penghasilan cucur juga cuma dua kilo beras sehari’(hlm 61). Bahkan soal pasangan hidup ia bilang ‘ya suami adalah cucur gosong’ (hlm 61).

Apa yang membuat saya tergetar adalah ketika Sendok dalam sakit dan di tengah rasa dingin ingin merokok. Dengan sinis Mbok Ranu menjawab ala kadarnya bahwa mesti kemana malam malam begini untuk mencari rokok. Toh Sendok bukan apa-apanya, suami juga bukan. Sendok hanyalah lelaki yang menumpang hidup di gubug Mbok Ranu dan bekerja sebagai tukang becak.

Namun apa yang dilakukan Mbok Ranu berikutnya bikin bulu kuduk saya merinding. Malam malam dan tanpa sepetah katapun ia ucapkan pada sendok, melangkahkan kaki tuanya lalu ‘digerayangilah saku saku pahlawan ronda. Betul. Ada tiga batang’ (hlm 63).

Dari ketiga cerpen diatas kiranya teramat jelas sisi altruisme tokoh utama. Baridin dengan menahan malu merubah dirinya menjadi perempuan untuk ngamen dan membantu menyokong hidup simboknya dan juga ingin menunjukkan bahwa ia bisa bekerja dan mencari uang. Meskipun ia harus menahan tangis ketika simboknya harus mencuci baju ngamennya hanya karena mampir pada Ruyem, padahal mungkin tanpa bantuan Ruyem ia tak punya modal untuk ngamen dan juga menahan malu.

Begitu juga dengan Gondek yang rela dikira mencuri padahal bekerja menjadi kernet colt untuk bisa memberi hadiah pada adiknya. Tak soal jika ia akan dimarahi bapaknya, yang ia pikirkan adalah bagaimana ia meringankan beban si bapak dan menghadirkan kebahagian buat sang adik.

Tidak beda dengan Mbok Ranu yang harus menahan pegal, nyeri dan capek juga di tengah dingin malam, menggoreng cucur hingga pukul tiga dini hari, tanpa isitirahat lalu pergi menjajakan cucur di pasar hingga siang, baru ia bisa duduk santai. Namun segala kelelahan itu bisa ia tepis dengan memberikan rasa aman bahagia bagi Sendok meskipun hanya lewat tiga batang rokok hasil “operasi malam”nya di pos ronda.

Tulisan ini akan lebih panjang dan mungkin juga membosankan jika saya harus menambahnya dengan cerpen lain dengan ekspresi dan nada yang sama misalnya pada judul Cat Kaleng, Colt Kemarau, Sungai Batu ataupun yang lainya. Tapi, paling tidak ketiga cerpen tersebut dengan kesederhanaan tokoh utamanya mampu menjadi embun –bagi saya- di antara kegersangan hidup yang mungkin saja apokaliptik dan distopik ini.

Menjadi manusia kata Jean Watson adalah dengan ‘to be present to what is presenting itself in one’s life’, ya…dengan berusaha hadir terhadap apapun yang menghadirkan diri dalam rentang kehidupan seseorang. Dengan membaca apa yang dilakukan oleh Baridin, Gondek dan juga Mbok Ranu kita bisa merasakan kehadiran mereka yang tanpa pamrih ditengah gerusan kehidupan kekinian yang terus tereduksi oleh pola-pola kehidupan yang bersifat transaksional.

*) Penulis adalah pegiat komunitas literasi Atas Angin, dan kini sedang menempuh studi S-2 di Thailand

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here