Home Catatan Menulis Itu Gampang

Menulis Itu Gampang

196
0

JUDUL INI ADALAH YANG JUGA dipakai Arswendo Atmowiloto (nama aslinya Sarwendo) pada bukunya tentang teori menulis.

Pada mulanya makan itu mudah. Namun bila berbicara lebih jauh harus bagaimana mencarinya, memasaknya, hukum agamanya, cara makannya, muatan gizi dan vitaminnya, ukuran perutnya, nampaknya menjadi susah dan mengerikan. Sebagaimana menulis yang katanya gampang tadi. Seperti makan, menulis bisa menjadi sulit dan menakutkan hanya gara-gara berfikir soal teori dan taktis-taktis melulu. Hanya kembali pada prinsip yang penting nulis atau menulis bebaslah kesan sulit dan seram jadi menyusut. Menulis bebas, atau yang penting nulis, tentu bukan lantas boleh atau harus ngawur dan serampangan. Bukan itu tentu maksudnya. Sebagaimana makan tadi, bukan berarti asal makan saja; sehari tujuh kali, kenyang baru makan, atau makan makanan ayam, dan sebagainya. Bukan. Bukan itu.

Dalam pengajaran menulis, cara ala jurnalistik seringkali dikedepankan sebelum melangkah ke sesi lebih jauh lagi. Barangkali ini adalah bentuk kesadaran atas hal tadi, bahwa menulis bukan berarti asal nulis. Itu pulalah yang bisa ditemui di Kelas Menulis Sindikat Baca pertemuan kedua kemarin Sabtu.

Mas Nanang Fahrudin, tentor kelas menulis, mengatakan bahwa jurnalistik adalah sesuatu yang dasar dalam memulai menulis. Karena pada dasarnya menulis hanyalah soal cara berkomunikasi. Komunikasi dianggap sempurna ketika pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan sampai dan bisa diterima.

Seentara itu, jurnalistik berbicara seputar apa yang terjadi, siapa pelakunya, mengapa terjadi, bagaimana terjadinya, di mana lokasinya, dan kapan waktunya. Pokok-pokok itulah pada intinya yang membentuk sebuah komunikasi. Sebuah tulisan tentu akan lucu dan tak berarti bila tidak membahas apa-apa, tokohnya siapa, kapan waktunya, dan seterusnya. Karena itulah jurnalistik dikatakan dasar dalam memulai menulis tadi. Karena mau atau tidak mau menulis adalah bagian dari komunikasi itu sendiri.

Lebih lanjut lagi, juga mengutip Mas Nanang Fahrudin, bahwa penulis (komunikator) yang baik selalu mengandaikan diri sebagai pembaca (komunikan). Sebagai pembaca tentu kita tidak ingin membaca sebuah tulisan yang tidak jelas membahas apa, pelakunya tidak diketahui, yang justru terkadang membuat kita ingin marah atau bahkan bingung dan tertawa kegelian. Komunikasi gagal ini bisa terjadi karena penulis tidak memperhatikan ke enam pokok tadi atau bisa juga memang penulis tidak ingin menulis dan tidak tahu apa yang ingin ditulis.

Itulah mengapa, dalam penulisan berita ada istilah segitiga terbalik. Pokok-pokok tadi, sedang terjadi apa, yang terlibat siapa, diamana, kapan, dan bagaiamana terjadinya, ditulis padat pada paragraf pertama. Paragraf berikutnya baru ditulis data-datanya, sumber-sumbernya, yang kesemuanya menguatkan paragraf pertama tadi. Ini dimaksudkan untuk memudahkan pembacanya.

Keenam pokok tadi, sering disederhanakan orang—agar lebih mudahnya—dengan 5W1H, akan membantu kita untuk menciptakan sebuah komukasi yang baik dan berhasil. Komukasi yang baik itu sendiripun, bukan sekadar setelah komukasi sempurna lantas selesai dan dilupakan begitu saja. Komunikasi yang baik, merujuk pada pasca komunikasi yakni bagaimana komunikasi yang terjadi bisa memberikan efek pengetahuan, rasa, dan perubahan.

Pertemuan yang akan datang, sebagai persiapan bahasan, peserta dengan sukarela diharap 1)membuat catatan tentang pendapat atau ide bagaimana baiknya kelas menulis, dan 2) membawa (bisa download dari internet) catatan pengarang tentang proses kreatifnya mencipta karya[ben].

Salam,..  M. Thohir (Bendhot Soesastro)

Dari Munginsidi, 26 Maret 2012

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here