Home Berita Menulis Adalah Menderita

Menulis Adalah Menderita

149
1

CERITA pendek adalah sebuah karya fiksi yang tentu boleh-boleh saja berpijak pada (hanya) daya imajinatif pengarang. Namun, cerita pendek juga bisa berangkat dari titik sejarah masa tertentu, mewakili kepedihan para korban, dan menunjukkan ketidakadilan penguasa.

Martin Aleida, pengarang yang lahir pada 31 Desember 1943 di Tanjung Balai, Sumatera Utara ini, bertahun-tahun konsisten pada jalur kedua. Yakni sastra yang berpihak pada korban. Ia pun menyebut “menulis adalah kesaksian”. Karena karya sastra yang ditulisnya, selalu bergelut dengan dunia masa lalu yakni pada satu titik sejarah geger PKI 1965. Pada tahun itu, tak sedikit korban yang ikut dipenjara meski bukan anggota PKI. Martin Aleida adalah salah satu korbannya.

Dua buku kumpulan cerpennya, yakni Leontin Dewangga dan Mati Baik-Baik, Kawan adalah dua buku yang setidaknya mampu menjadi indera untuk mengenal sosok Martin. Dalam cerpen-cerpen Martin kisah-kisah korban 1965 sering muncul menjadi kisah yang penuh dengan sisi kemanusiaan. Kisah-kisah itu seakan ingin mempertanyakan kembali “apa sih kemanusiaan itu?”

Guna lebih mengenalkan sosok Martin Aleida kepada pembaca Bojonegoro dan sekitarnya, Nanang Fahrudin dari Atas Angin mewawancarai pengarang sekaligus jurnalis ini dan menghadirkannya untuk Anda.

Dalam pengantar buku “Leontin Dewangga”, Bapak menyebut bahwa menulis adalah kesaksian. Apa maksudnya?

Menulis adalah kesaksian. Yang kita tulis bukanlah wahyu, melainkan sesuatu yang sangat erat bertautan dengan hidup kita. Pengalaman yang saya lalui membukakan pintu spiritual kepada saya untuk memberikan makna kepada hidup saya, dengan begitu juga buat sejarah, bahwa korban yang dilupakan sejarah sesungguhnya harus mendapat tempat. Kesaksian dan keberpihakan kepada korban, sebagaimana yang telah ditunjukkan waktu, adalah sikap yang telah melahirkan karya yang bermakna, yang memperkaya jiwa.

Saya bukan seorang propagandis politik jika saya berpihak pada korban 1965, yang secara sengaja dimusnahkan, dilupakan, demi berjayanya satu rezim yang menindas. Dengan cara saya sendiri, sebagai saksi maupun korban, saya menuliskan apa yang saya alami maupun yang saya dengar dari para korban melalui berbagai cara. Saya menyebutkan sastra saya adalah sastra kesaksian. Dengan sadar berpihak pada korban. Para penguasa, para jenderal, menulis sejarah mereka, tetapi yang disingkirkan, tidak hanya manusia yang tak bersalah, tetapi juga luweng, sungai dan bengawan serta rerumputan yang menyaksikan kekejian senjata dan hati yang buta, harus dituliskan! Sastra ditakdirkan untuk memikul tugas mulia ini.

Seberapa besar pengaruh masa lalu Bapak pada cerpen-cerpen Bapak?

Pengaruh masa lalu? Stigma militer terhadap kami juga menular pada cara pandang kebanyakan sastrawan, termasuk pengamat dan kritikus. Saya dilihat hanya semata-mata penulis dengan setting 1965, padahal saya juga, dalam jumlah yang tak sedikit, menulis tentang rupa-rupa nasib manusia. Ada guru, pramugari, ibu rumah tangga, penyanyi dan lain-lain.

Memang menulis tentang korban paling membutuhkan energi, menghanyutkan emosi, karena menyangkut nasib manusia yang tak bersalah, karena mereka pada saat dan di tengah-tengah orang-orang berkuasa yang brutal.

Saat menulis cerpen, apakah langsung sekali jadi atau butuh waktu lama? Bagaimana tahapan menulis cerpen yang baik?

Menulis adalah menderita. Saya bekerja keras untuk menjaga bahasa saya. Setiap kata, buat saya, adalah musikal. Begitu sulitnya membentuk kalimat pertama, paragraf pertama. Kalimat yang sudah jadi, saya baca berulang-ulang, seperti membaca komposisi musik. Kalau ada yang cemplang berarti kalimat itu harus diperbaiki. Terkadang sehari saya hanya mampu menemukan satu paragraf. Saya menulis di mana saja, kapan saja, dengan laptop. Ada cerita pendek yang selesai seminggu, tapi ada yang berbulan-bulan. Ini tentu tak baik, karena bisa kehilangan spontanitas yang justru diperlukan. Meskipun saya sudah punya ide dasar untuk sebuah cerita, namun seringkali saya dibawa arus oleh kalimat-kalimat yang saya bangun sendiri. Begitu memulai cerita, saya tak tahu bagaimana dia akan berakhir.

Buku apa yang paling berkesan bagi Bapak? Siapa penulis paling disukai?

Saya mulai menggemari sastra ketika SMP. Saya menjuarai lomba deklamasi dengan membawakan puisi Chairil Anwar dan puisi Diponegoro. Lalu saya membaca Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Utuy Tatang Sontani, dan Bandaharo. Tambah dewasa saya mengenal Ernest Hemingway, Maxim Gorky, Jack London. Cerita pendek saya yang pertama dimuat harian Indonesia Baru di Medan. Kalau tak salah ketika saya duduk di kelas dua SMA. Lalu cerita saya juga dimuat Harian Rakyat di Jakarta. Saya suka cerita pendek Pramoedya “Kemana”, cerpen Gorky “Terowongan” yang diterjemahkan Iramani. Saya terpesona membaca Jack London dalam “The Call of The Wild”, juga “Every Tuesday with Morie” yang ditulis seorang wartawan olahraga Amerika Serikat. Berulang-ulang saya tekuni The Old Man and The Sea dari Hemingway. Saya belajar dari cerpen Zubir AA, tapol yang meninggal di penjara Surabaya, kabarnya.

Menurut Bapak, lebih menyenangkan mana menjadi seorang jurnalis atau sastrawan?

 Jadi penulis sastra atau jurnalis bukan masalah menyenangkan atau tidak. Menulis sastra kita berdiri sendiri dalan menghadapi dampaknya, lain dengan wartawan ada pemimpin redaksinya yang harus bertanggung jawab.

Bagi-bagi saran dong Pak untuk penulis muda!

Kekurangan penulis muda adalah pengalaman, fisik maupun spiritual. Saya mendukung proses mencipta yang dianjurlan Lekra, turun ke bawah, mengalami seluruh proses mempertahankan hidup dari subjek yang akan kita tulis. Tidak murni, memang, tetapi akan memperkaya dan membuka pintu imajinasi, visi.

Terimakasih Banyak

Sama-sama. Salam jumpa.

 

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here