Home Buku Membaca Kode-kode

Membaca Kode-kode

178
0
foto oky dwi cahyo

oleh oky dwi cahyo

SAYA akan membuat tulisan panjang, biar sekalian menjadi pembuktian bahwa telah terkena dampak kegiatan rajin membaca. Saya akan bercerita tentang sebuah buku yang membuat batin saya merasai energi katarsis, sehingga mengalami gelisah dan terbayang-bayang oleh isi dari sebuah buku yang pernah mencuri hati saya. Membuat awet berduka sepanjang hari karena begitu dalam buku itu telah membuat saya berpikir panjang, ngeri dan mengajak menyesal.

Aneh, membaca buku bukannya malah membuat hari-hari semakin cerah tapi malah membuat hati saya menyesal. Nah… buku apa yang telah membuat hati saya mengalami penyesalan yang begitu mendalam? yang jelas bukan buku tabungan, yang tinggal sejarah atas kekalahan saya dengan tawaran iklan-iklan.

Buku itu saya baca ketika saya masih SD, hasil meminjam dari tetangga. Buku bergenre komik dengan judul Siksa Neraka. Saya melihat gambar-gambar mengerikan, azab-azab manusia, lidahnya digeraji akibat dulu ketika hidup dia suka berbohong, punggungnya distrika dengan setrika raksasa, dan teman saya Si Koteng malah masih sempat tertawa kecil ketika ikut membaca. Disentuhnya payudara perempuan yang telanjang itu, yang nyemplung ke kolam air mendidih pada gambar.

Buku Siksa Neraka itu milik Si Koteng, beli di Terminal Bungurasih katanya. Bermula dari buku itu saya jadi ingin membeli buku. Pada kesempatan itu, ketika diajak bepergian sama orang tua naik Bus, saya tunggu-tunggu masuknya penjual buku ke dalam bus. Beberapa kali saya tidak menemukan buku yang pas ketika penjual buku asongan itu meletakkan tiga, dua buku dagangannya ke pangkuan setiap penumpang. Ada buku primbon, buku resep ramuan pengobatan tradisional, buku atlas, dan yang paling banyak adalah buku TTS, bergambar artis seksi.

Sampai pada akhirnya saya menemukan buku yang saya suka, yaitu buku kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Sulaiman, Nabi Luth, dan Nabi Musa. Buku-buku itu adalah koleksi saya pada waktu itu, yang berhasil saya beli dari beberapa Bus ketika saya diajak bepergian orang tua. Dari situ saya suka bermain ke pasar untuk mencari majalah-majalah bekas, majalah Mentari.

Setelah itu saya SMP, koleksi buku saya sudah jelas berbeda lagi, menyisihkan uang saku untuk membeli buku musik Hot Cord. Buku yang membuat saya jadi suka menyanyi dan hafal banyak lagu karena membaca lirik dan mendapatkan kunci gitarnya dari buku tersebut. Saya terinspirasi untuk membuat kata-kata puitis romantis yang bingung ingin saya berikan pada siapa, belum punya sasaran pembaca interen.

Dari buku chord musik, kehidupan saya sebagai pelajar SMP menjadi sangat bewarna, penuh mimpi dan cita-cita. Kunyanyikan lagu-lagu syair cinta di tongkrongan sambil seolah-olah saya ini sedang bernyanyi di atas panggung dan penontonnya adalah gadis-gadis cantik di sekolahan.

Menginjak ABG saya lebih sering ngeblong di perpustakaan, karena seringnya jam kosong di sekolah SMK. Saya membaca buku-buku puisi. Buku lawas dari penyair lawas pula, karena memang buku-buku di perpustakaan itu lawas-lawas. Kertasnya sudah menguning dan dikrikiti rayap. Bukan puisi tentang cinta tetapi puisi-puisi nasionalis dan kemanusian yang kadang-kadang saya heran dan merasa aneh, karena kalimat-kalimatnya sukar saya mengerti. Tapi dari situ saya menemukan ketenangan dalam setiap kata yang saya baca. Entah, padahal tak tahu jelas artinya, seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Tak sadar kekayaan kata-kata tersebut telah mengantarkan saya sekarang pada buku-buku novel tebal karya Ayu Utami, Pramoedya Ananta Toer, hingga Max Havelaar.

Namun sekarang ini begitu cepat telah ada perubahan yang menyerang pendirian saya sebagai orang yang kemarin-kemarin masih hobi membaca buku sampai tuntas. Masuk kebutuhan-kebutuhan bermedia sosial yang meramaikan dan menyubal kedalaman diri saya mulai terasa. Saya telah kehilangan ruang-ruang privasi itu. Perhatian saya lebih banyak pada facebook, whatsapp, youtube ketimbang kepada buku. Sedang saya kini sudah terlanjur sibuk mendiskusikan pemikiran-pemikiran dengan orang-orang di luar. Bagaimana saya harus tetap punya kesadaran membaca?

Pada akhirnya saya sekarang menemukan bacaan yang sesuai dengan model keseharian saya sekarang ini, saya harus tetap bisa membaca, dan saya sekarang telah memulai membaca kode-kode.


Oky Dwi Cahyo, sutradara teater. Penulis buku naskah teater Bajing Ketapang (Nunbuku, 2018).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here