Home Catatan MATINYA TUKANG KLIPING

MATINYA TUKANG KLIPING

527
0
 mohamad tohir
MASIH INGAT TOKOH MINKE DALAM tetralogi Pramoedya Ananta Toer? Sepintas kita dibuat terbuai dengan perjalanan hidup tokoh itu dalam keempat roman sastrawan ulung kelahiran Blora itu. Semua tampak nyata dan hidup dalam peta sejarah kita di awal-awal masa pencarian format bangsa. Minke, dalam roman ini, betul-betul menggeser Soekarno, Hatta, Syahrir yang telah nyata-nyata diakui kiprahnya dalam kenyataan sejarah kita. Memang, pada akhirnya kita tersadar bahwa apa yang ditulis Pram itu hanyalah fiksi alias tak nyata, khayalan dan imajinasi pengarangnya. Dalam buku-buku sejarah kita, tak ada yang namanya Minke seperti yang diulas panjang lebar dan atraktif oleh mantan tapol Pulau Buru itu.
Tengoklah dulu Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Sah-sah saja kita bilang bahwa itu fiksi. Namun pernah suatu ketika dalam pernyataannya tak ada maksud Andrea untuk membuat novel. Yang dia lakukan hanyalah membuat catatan-catatan kenangan masa kecil yang selalu membekas di hatinya. Hanya karena beberapa saran teman-teman yang membacanya karena catatan itu layak dianggap sebagai novel, maka pada akhirnya naskah itupun masuk ke penerbit. Sah saja kita bilang bahwa novel Andrea ini fiksi, tetapi kesan ini akan pudar dengan sendirinya ketika kita datang ke Belitung dan tak sengaja bertemu dengan A Kiong dan Harun yang sekarang mbuka warung kopi. Atau kita bertemu dengan Bu Muslimah guru teladan, Lintang si Newton, Mahar, yang semuanya ternyata bukan sekadar tertulis di buku belaka. Saya ingin bilang bahwa tak selamanya karya fiksi itu seratus persen fiksi.
Kembali pada tetralogi Pram. Dalam pengakuannya pada Sang Pemula, bukunya yang lain, tokoh Minke yang sebenarnya plesetan dari monkey itu adalah Raden Mas Tirto Adhisoeryo. Agak asing bagi kita mungkin satu nama itu. Padahal pada masa itu, Serikat Dagang Islam yang berkontribusi besar untuk pembentukan format bangsa ini tak bisa dilepaskan dari peran Tirtoadisueryo sebagai salah seorang pendirinya. Selain itu, beliau adalah kali pertama pribumi yang memiliki dan menerbitkan Koran sendiri. Agak remang-remang memang bagi kita yang agak buram ingatan sejarahnya untuk mencoba mengingat “Medan Piyayi”. Nah, itulah nama Koran yang digawangi RM. Tirto Adhisoeryo alias Minke itu.
Proses kreatif dalam melahirkan keempat roman itu, bukanlah asal-asalan dilakukan oleh Pram. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana Pram bisa menghidupkan kembali tokoh yang nyaris dilupakan oleh sejarah ini. Mungkin kita akan terkejut bila menyadari bahwa tetralogi buru itu selain berwujud naskah, ternyata telah ada dalam memori Pram dalam bentuk hafalan atau lisan. Pram membacakannya di luar kepala kepada teman-teman sesame tahanannya di Buru sebelum naik cetak. Sebagai sejarahwan, daya ingat yang unggul amat dibutuhkan di negeri yang konon gagap pada sejarahnya sendiri ini. Dan Pram memiliki itu.
Menjawab pertanyaan itu, kita akan tercengang ketika melihat kenyataan bahwa tetralogi itu adalah pemberian ruh pada klipingan koran. Ceritanya, saat ndosen di Res Publica(sekarang Universitas Trisakti), Pram yang hanya lulusan SD sempat kelabakan menghadapi mahasiswa. Pram tak kurang akal, diwajibkannya setiap mahasiswa untuk mengumpulkan koran-koran lama akhir abad 19-awal abad 20, era Kebangkitan Nasional. Dari situlah Pram bersinggungan dengan Medan Priyayi dan menemukan satu nama penting yang hamper terhapus oleh sejarah, dialah minke alias Tirto Adhisoeryo itu. Lewat tangan Pram, nama itu berhasil dihidupkan kembali dari liang lahat yang buram dalam tetralogi yang juga menjadi masterpiece karyanya itu.
“Hampir semua karya-karya saya berasal dari klipingan koran”, kata Pram suatu ketika.
Sosok yang beberapa kali masuk kandidat peraih Nobel Sastra ini memang diketahui rajin mengkliping. Bahkan sebelum meninggal 2006 silam, Pram sempat menggagas proyek besar menyusun sebuah ensiklopedi geografi Indonesia dari klipingan koran yang katanya sampai limabelas meter tinggi tumpukannya. Sayang, kerja belum selesai, Pram keburu meninggal.
Singkat saja, tulisan ini sebenarnya hanya ingin melirik tentang mengkliping yang menurut Zen Rahmat Soegito adalah jalan yang paling mungkin ditempuh di negeri yang konon tak pandai merawat masa silam ini. Di sini, seakan-akan mengkliping menjadi sebuah cara untuk memperpanjang ingatan dan mengikat bangsa ini dalam sebuah mata rantai waktu antara yang dahulu, yang sekarang, dan tentui saja masa mendatang.
Pemberangusan ingatan akan sejarah bangsa sendiri yang telah diupayakan secara apik dan halus ole horde baru sudah cukup menjadi teguran bagi kita. Selama berpuluh tahun itu pula, kita dijejali dengan cerita dan filem rekayasa yang seolah menempatkan sang jenderal orde baru sebagai superior. Padahal hal lucu mengiringi semua itu, surat mahapenting supersemar yang asli tak ada yang tahu rimbanya. Padahal dari surat itulah semua berawal.
Di tingkat lokal, Bojonegoro misalnya, kesadaran akan sejarahnya sendiri patut pula dipertanyakan. Hingga saat ini kita seakan terbuai dalam kebanggaan klaim bahwa Bojonegoro adalah bumi Angling Dharma, padahal tak ada bukti kuat yang bisa dijadikan pedoman bahwa kota ledre itu adalah bekas kerajaan Malowopati-nya Angling Dharmo itu. Yang ada hanyalah cerita demi cerita tanpa diketahui ujung pangkal sumber aslinya.
Bisa jadi, entah oleh sebab apa, di masa mendatang apa yang dilakukan Mbah Harto itu akan terulang lagi dan kita akan kembali terbuai dengan sejarah dan cerita palsu yang menempatkan musuh sebagai superman bangsa. Atau dalam skala yang lebih rendah dari itu, kita tak lagi bisa mengingat masa lalu hanya gara-gara situasi negeri yang kian hari kian ruwet memang seakan menuntut kita untuk melupakannya saja. Maka, mengkliping selayaknya dipandang penting di sini, sebagai sebuah ikhtiar membangun Indonesia yang sadar akan sejarah dan memiliki ingatan yang kuat. Atau paling tidak, mengkliping bisa meminimalisir rezim penguasa yang sepanjang masa kita ketahui kerap melakukan penggelapan sejarah. Ingat, orang-orang seperti Soeharto masih banyak di negeri kita. Bahkan kita belum melewati separuh masa dimana kita berada dalam keseragaman sejarah yang palsu dan konyol. Kita patut was-was bukan?
Pesantren Buku, 17 November 2011
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here