Home Sastra Prosa MATA ITU SIPIT

MATA ITU SIPIT

421
0
 RIHOT DAMAHOM
TIBA-tiba aku merasa kenyang. Padahal baru dua atau tiga sendok nasi yang masuk ke perutku. Beberapa jam yang lalu perutku merengek-rengek dan waktu mengaso masih lama.
      Kuserahkan beberapa lembar ribuan pada kasir di dekat pintu tanpa meunggu uang kembalian. Panas matahari menyengat dan menampar wajahku begitu keluar rumah makan itu. Kepercepat langkah. Aku ingin menghabiskan sisa hari ini dengan tiduran di kamarku.
     Kulempar tas ungu mungilku begitu saja. Stelan jas yang baru sebulan umurnya tak kugantung seperti biasanya, limbung di pinggir kasur dengan lengannya menjuntai ke lantai.
     Kubenamkan wajahku pada bantal. Mataku terasa hangat dan bantalku segera basah. Dadaku kembang kempis tertahan pada empuk kasur.
***
     PIKIRANKU masih melayang-layang saat di warung makan tadi. Tak seperti biasanya, warung agak sepi. Hanya nampak empat atau lima orang saja yang makan siang tadi. Semua perempuan. Semua berkulit putih dan bermata sipit. Atau mungkin mataku yang salah. Tidak. Aku sendiri heran. Perempuan berkulit putih dan bermata sipit makin banyak sekarang. Bukan hanya nongol di film-film asing atau iklan sabun mandi saja, di sudut-sudut antrean toilet umumpun mereka selalu hadir.
     Beberapa teman sekantorku juga sama, banyak yang tiba-tiba memoles diri di salon menjadi brekulit putih dan bermata sipit. Atasanku pernah mendekatiku dan berkata:
      ”Dari semua karyawan di sini kau yang paling cantik. Apalagi kalau kau berkulit putih dan bermata sipit.”
      Kutanggapi itu dengan dingin (meski aku senang ia bilang aku cantik). Aku muak sekali dan ingin muntah rasanya. Kalau saja bukan atasanku, mungkin aku akan meludahi matanya.
     Mengapa cantik harus berkulit putih dan bermata sipit? Aku heran. Aku muak, jijik, ingin muntah. Sialan!.
     Beberapa pasang mata sipit di rumah makan tadi nampak memerhatikanku. Mungkin mereka iri dengan kecantikanku yang belum terpoles berbagai make up murahan. Atau mereka menyukai gerak bibir mungilku saat mengunyah carot head stick kesukaanku? Entahlah. Apa peduliku. Aku keburu muak dan kenyang terlebih dahulu. Atau mereka sama sepertiku, muak kepadaku? Biar saja.
      “Apa aku cantik?”tanyaku pada Bubu saat aku masih bersamanya setahun lalu.
***
BUBU. Tentu itu nama panggilan sayangku untuknya. Enak diucap dan merasuk sekali. Seperti permen yang lembut dan manis yang ingin selalu kukulum dan tak bakal bisa habis dalam mulutku.
Bubu memandangku penuh arti. Tentu saja ia tak akan langsung bilang aku cantik. Aku suka sekali ia bercerita tentang perempuan-perempuan dalam novel yang baru saja ia baca.
       “Aku terkesima dengan perempuan yang dilukiskan oleh Haruki Murakami dalam novelnya yang baru. Yang jelas aku menyukaimu. Selalu menyukaimu”.
      Kemudian ia akan memberikan novel itu padaku. Begitu selalu. Sudah puluhan judul novel darinya yang berderet rapi di rak buku di kamarku. Kata-kata tumpah ruah dan mengatakan dengan sendirinya bahwa aku memang cantik. Tak ada perempuan berkulit putih dan bermata sipit dalam novel-novel itu.
***
NAMANYA Bubu. Itu saja. Toh ia suka dan tak marah kupanggil begitu. Ia seorang kutu buku yang juga suka menulis cerita.      Ceritanya selalu dikejar-kejar oleh koran untuk dimuat di hari minggu. Beberapa cerita dipersembahkannya padaku. Aku suka sekali.
      “Kenapa kau suka buku?” aku pernah bertanya begitu.
      Ia lantas seperti terkejut, seakan baru menerima pretanyaan itu untuk pertamakalinya. Lalu ia akan mencari jawaban dari imaji-imaji yang terserak seperti anak kecil yang ditanya oleh gurunya saat SD. Mungkin sekarang aku juga sama keran pertanyaan itu sudah pantas disodorkan padaku. Aku suka belanja buku-buku selain dia sering memberiku. Aku sudah mempunyai perpustakaan pribadi seluas ruang tahanan. Ah, kenapa ruang tahanan. Toh aku tak tahu berapa luasnya. Kira-kira segitu lah.
      “Kenapa kau suka carot head stick?” ia malah balik bertanya. Tapi aku suka dia tahu apa yang kusuka. Barangkali ia juga sama saat tadi kutanya. Ia juga sekali memandangi bibirku saat mengunyah carot head stick kesukaanku itu. Aku jadi merasa bibirku yang terindah. Buktinya beberapa kali ia berharap aku menciumnya.
***
ENAM bulan yang lalu, saat aku keluar dari kamar mandi dan tubuhku masih berbalut handuk, sebuah sandek masuk ke nomorku.
     “Sayang, mungkin kita harus mengakhiri hubungan ini. Mungkin seperti dalam cerita pada novel-novel itu, kitapun mempunyai cerita tersendiri, cerita kita.”
aku seperti disambar petir. Apakah kalimat itu adalah kutipan dari sebuah novel, aku tak tahu.
     “Ada apa, Sayang? Apakah aku menyakitimu? Apakah kau telah terbawa arus oleh cerita dalam novel-novel. Apakah kau sengaja membuat cerita fiksi dari hubungan kita selama ini? Sejauh itukah?” kuberondong ia dengan pertanyaan-pretanyaan itu.
     The message has been sending, muncul pada permukaan layar ponsel mungilku. Hingga detik ini belum ada balasan yang masuk. Aku yakin sandek itu terkirim.
***
     AKU membeli sebuah novel di sebuah toko buku baru. Novel itu terpajang di rak yang paling menonjol dan langsung tertangkap oleh mata begitu masuk toko. Novel itu karya Bubu.
     Aku membacanya. Perempuan dalam novel itu adalah prempuan berkulit putih dan bermata sipit.
     Novel yang buruk.
     Kuletakkan novel itu di meja makan di rumah makan biasanya. Kurobek-robek sampulnya, kuinjak-injak. Halaman-halamannya juga kurobek. Kumasukkan mulutku. Kukunyah lalu kukeluarkan kembali. Segan aku untuk menelannya.
     Teman sekantorku hanya bengong melihatku makan kertas.
***
AKU bertemu dengan perempuan berkulit putih bermata sipit itu. Ia pacar Bubu, akunya dengan bangga. Kuraba-raba sekujur tubuhnya dengan mataku yang menyelidik. Kuremas-remas paha, bokong, dan dadanya-juga dengan mataku yang menyelidik.
      Semua tak seindah dan sesempurna milikku. Meski aku tak seputih dan bermata sipit. Dia juga tak secantik diriku, akuku. Sama sekali tak cantik. Bibirnya juga tak seindah dan semungil bibirku dan tentu saja tak bisa mengunyah carot head stick. Aku jadi ingin muntah.
***
TENGAH malam aku terbangun. Aku dapat mencium aroma tubuhku yang terasa ketat oleh keringat kering. Mataku sulit kubuka. Sisa air mata mengerak pada bulu-bulu halus di tepian mata..
      Suara jangkerik berderik-derik di luar sana. Dari jendela kaca yang cukup lebar di kamarku, nampak dedaunan hijau kehitam-hitaman oleh gelap malam. Air yang menetes dari ujung-ujungnya menimbulkan bunyi yang nyaring ketika jatuh di genangan pada potnya.
      Hujan tak begitu deras, namun tenang dan anteng. Entah sudah berapa lama, aku tak tahu.
      Aku hanya ingin mandi.
     Air hangat dari shower membaluri seluruh tubuhku. Dari cermin yang cukup lebar di kamar mandiku, aku dapat melihat setiap jengkal tubuhku, lekuk-lekuknya, rambut-rambut halus di bagian tertentu, sedikit bekas luka, dan warna kulitnya yang putih. Ya, aku berkulit putih. Apakah aku juga bermata sipit?
New Village, August ’12
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here