Home Sastra Prosa Lelaki Berkacamata Hujan

Lelaki Berkacamata Hujan

722
0

Kacamata hujan memagut erat di pangkal hidung mancungnya. Di luar kebiasaan lelaki itu menyeret lamunan menekuri tumpahan malam. Sebenarnya niatan memaksa tak pernah hadir di benaknya, tuntutan keadaanlah yang memaksa merodikan tatapannya buat mengitari serta selinapi lekuk liku dimensi kegelapan. Namun, hilir mudik kerja paksa ternyata tetap pecah tanpa berhasil menangkap titik-titik hitam yang menyusun wewayangan. Lukisan abadi yang selama ini dia rindui.

Sebagai penikmat seni, khususnya lukisan romantik, ada keinginan besar yang belum mampu diwujudkannya; mengabadikan lukisan abadi menjadi karya lukis di atas kanvas yang bisa dinikmati semua orang. Tapi, dia tak yakin apakah ada yang mampu, sedangkan sederet maestro romantik semacam Eugene Delacroix, Jean Baptiste Camille Corot, Rousseu, atau Raden Saleh, dia tahu, bukan sekedar menerka, mereka tak mungkin ada yang sanggup memindah eksotisme sosok lukisan abadi yang dia rindui. Entah ini anugerah atau semacam kutukan, hanya lewat kacamata hujan keindahan lukisan abadi bisa disaksikan. Dan itupun cuma dirinya yang mampu.

Jadi, wajar jika kali ini dia didera kecemasan. Tatapan yang telah diasah setajam dan seruncing bayonet, bagi lelaki berkacamata hujan, kali ini tak hanya tidak bisa merobek kepekatan. Ketajaman dan runcing tatapan cuma menggores dalam rekaman hamparan warna kelam yang ditumpahkan langit. Bentangan tirai legap. Tak tembus pandang.

Tanda kebuntuan itu mulai membuntuti sejak malam purnama; musim kamboja putih berbunga. Orang-orang lebih suka menyebutnya bunga kuburan. Bayangan abadi; kekasih pujaannya benci dengan aroma bunga ini. Setiap kali menghirup seperti diintai malaikat maut, katanya. Dan malam purnama tepat di malam Jumat lalu, saat dia, lelaki berkacamata hujan didera rindu dendam, tanpa dia sadari udara malam itu dipenuhi dengan aroma bunga kamboja putih. Sebuah firasat, kau tahu, akan sulit terbaca sebelum peristiwanya terjadi. Itu juga yang dialami oleh lelaki berkacamata hujan. Dia pun terlambat menyadari setelah semua menorehkan sayatan.

Seperti julang merapi tertutup kabut; mungkinkah lensa kacamata hujan tertutup daki sehingga gelap? Aus karena usia, kejadian yang tak perlu dirisaukan. Dia percaya itu sebab kerinduannya makin rimbun, tumbuh, dan berbunga. Kelegapan pasti bukan karena itu. Maka, mengekor adat sebelumnya, jika lensa kacamata hujan mulai terasa buram, dia memutuskan mencipta kabut embun dari hembusan napasnya. Hah! Haah! Haaah! Gagal. Bening lensa kacamata hujan tetap bersih. Cling! Minus tempias kabut embun. Permukaan lensa masih licin. Tiada kelembaban. Tempias kabut embun tak berhasil dia ciptakan.

Cinta pertama digurat tempias kabut embun. Lakon remajanya itu terjadi saat masih SMA. Kadang cinta datangnya terlambat, dia merasakan ada desakan indah baru pertama kali dan bagi cinta pertamanya saat duduk di kelas dua. Apakah ini sudah masuk dalam hitungan terlambat, sementara generasi masa kini anak-anak Taman Kanak-kanak sudah pandai bilang cinta melalui lagu-lagu kasmaran bahkan ada yang cenderung cabul konsumsi orang berumur. Tapi, dia tak memusingkan apa terlambat atau tidak. Baginya rasa cinta datang tepat pada waktunya. Karena tak ingin kehilangan momen saat rasa cinta datang, maka dia membuat tempias kabut embun dari hembusan napasnya di jendela kaca ruang kelas. Dengan meminjam gaya teaterikal yang dipelajarinya setiap mengikuti ekstra kurikuler di hari Kamis, dia menulis kata cinta yang diguratkannya dengan menggambar daun waru tertusuk anak panah tepat di tengahnya ke tempias itu. Kau tahu kejadian selanjutnya, satu dari teman wanita di kelasnya; kekasih pujaannya mengeja lalu tersenyum berbunga-bunga.

Lelaki berkacamata hujan dikejar-kejar rasa resah. Tempias kabut embun kehilangan daya guna. Artinya, dia mesti segera menemukan ritual lain yang bisa mengembalikan kekeramatan kacamata hujannya. Tanpa kacamata hujan kenikmatan dan keindahan lukisan abadinya tak dapat dia reguk. Lukisan abadi yang dia rindui tak mungkin dipeluknya lagi. Dan itu akan menyiksa seumur hidup bahkan tak tahu sampai kapan berakhirnya. Sementara, kau tahu atau coba kau bayangkan, bagaimana laranya diburu kerinduan yang merajam-rajam perasaan.

Tapi, tunggu! Lensa kacamata hujan nyatanya tampak bening. Jernih. Bukankah ini aneh, transparan tetapi tak tembus pandang. Air tak menjabat air itu keniscayaan. Kabut embun hembusan napasnya enggan menempel di kacamata hujan. Apa hembusan napasnya telah menjadi api? Ya. Udara yang terhela napasnya memang nyala api diolah paru-paru  mendegupkan detak jantung, lalu dibuanghembuskan menjadi karbon dioksida. Bukan lagi akrab, lensa kacamata hujan kerab berciuman dengan tempias kabut embun napasnya. Jadi benar. Hembusan napasnya telah menjadi api, terhembus padam seketika tepat menerpa kacamata hujan.

Banyak orang mengira, mungkin termasuk kau, bahwa bingkai, tangkai, dan lensa kacamata hujan terbuat dari fiberglas atau tak mungkin jauh dari bahan logam anti karat dan kaca anti gores. Anggapan yang keliru. Kacamata hujan sesuai dengan namanya memang tercipta dari hujan, air hujan tepatnya. Karena dari air hujan tentu saja kacamata hujan itu bentuknya juga cair.

Jadi, kalian salah jika menganggap kacamata hujan sama dengan kacamata pada umumnya; keras; padat. Kacamata hujan elastis dan cair, untuk itu tak mungkin patah. Namun, perlu diketahui, kacamata hujan tercipta dari hujan yang bukan hujan.

Transparan tapi legap bukanlah hal yang aneh. Hanya saja menurut lelaki berkacamata hujan tidaklah wajar. Ini soal kebiasaan. Bicara takhayul di kalangan yang tak biasa ngomong tentang itu dianggap tak wajar, sebuah kemuskilan. Seperti uang suap, masih ingatkan, dulu amat dikecam dan dicemooh. Tapi, kini semua telah menjadi kebiasaan dan hal itu pun dianggap biasa bahkan secara gamblang dihias sedemikian rupa menariknya.
“Hari gini menolak uang suap dianggap luarbiasa. Tak wajar. Aneh dan kewajaran itu soal kebiasaan, kawan”.

Dan lelaki berkacamata hujan merasa tak wajar karena kebiasaan ritus kacamata hujan mandek dari adat kewajaran. Ini yang membuat dia merasa cemas. Pasti ada yang salah. Entah ada pada dirinya atau pada kacamata hujannya.

Tanda cinta pertamanya tanpa kacamata hujan, cuma perlu bantuan tempias kabut embun di permukaan kaca. Beda dengan tanda kasih bagi lukisan abadinya, kekasih paruh jiwanya itu, setelah tujuh hari kematiannya memberikan tanda cinta.

“Jangan bersedih. Ambillah kacamata hujan yang akan kutitipkan hujan saat purnama tepat malam Jumat dan seratus hari kematianku. Tataplah malam purnama tanpa bulan dengannya. Jika kerinduanmu padaku masih tumbuh, kau akan tetap rasakan kenikmatan dan keindahan itu persis tatkala masih bersamaku.”

Hujan di malam purnama tanpa bulan mengirim kacamata hujan. Kekasihnya menepati janji. Lelaki itu tak tahu bahwa hujan yang turun bukanlah hujan. Tetapi, deras airmata tangis sang kekasih. Sejak saat itu, ketika selubung rindu menggunung, dia selalu bercinta dengan lukisan abadi, kekasihnya yang menari gemulai di malam purnama tanpa bulan. Kekasih yang menganggap diri masih keturunan Ken Dedes. Sementara lelaki berkacamata hujan cukup yakin meneguhkan diri bahwa dia pun sebenarnya berdarah Ken Arok. Dan kacamata hujan keris Mpu Gandringnya.

Kecemasan makin menghantu. Benarkah dia telah melanggar amanat? Atau rasa rindunya telah mati. Mengapa kacamata hujan jadi gelap. Dia telah sengaja lupa dan ragu-ragu mengakui ingatan kehidupan jiwanya akhir-akhir. Masihkah ada kerinduan tumbuh di hati. Yang dia rasakan setelah hari berlalu tanpa rasa, tiba-tiba kerinduannya menggelegak mengumbar gairah rindu tak terkira. Rindu ini rindu yang asing baginya, tetapi lagi-lagi ia ragu atau tak sanggup mengakuinya. Lelaki berkacamata hujan memandang bulan purnama bergayut cemerlang. Di sana sang pemberi tanda cinta kacamata hujan menangis tanpa airmata tahu persis apa yang terjadi sesungguhnya.

Sarwo M Djantur, perupa tinggal di Bojonegoro. Buku kumpulan cerpennya, Mencuri Kisah dari Pembaringan (GusRisFoundation, 2013)

dikutip dari blokbojonegoro.com, Minggu, 29 September 2013 08:00:19

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here