Home Buku KORSAKOV, SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM LINGERY

KORSAKOV, SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM LINGERY

361
0

Oleh Ashree Kacung

 543744_415935651759956_1242845873_n

dokumentasi bloggerbojonegoro, 2012

Di sinilah muncul apa yang Julia Kristeva katakan bahwa sastra menjadi ruang imajinasi dan kemikmatan dengan memainkan tanda-tanda sosial yang menekan. Sastra bisa menguak pengetahuan tertentu dan terkadang kebenaran tentang semesta yang terepresi, gelap, rahasia, dan tak sadar.

CERITA FIKSI, dengan caranya sendiri, telah menciptakan realitas yang bisa membuat pembacanya berpikir, terpukau, dan bergidik. Ia bisa saja tercipta atas resepsi penulis dengan keadaan sosial dan kebudayaan yang ada. Atau, sebaliknya, sebuah cerita mampu mengejawantah menjadi sebuah realitas sebenarnya dalam kultur masyarakat.

Kebanyakan sebuah cerita fiksi memang didasarkan pada fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat untuk kemudian diolah dengan kacamata subjektivitas penulisnya. Di dalam subjektivitas inilah, penulis meletakkan tendensi tersembunyi di balik setiap teks yang membutuhkan tafsir untuk membuka selubungnya. Selain tendensi, di sana paling tidak juga terdapat logika yang dibangun untuk menguatkan alur cerita, sehingga pembaca merasa diajak berjalan melewati lorong dan dihadapkan pada berbagai macam kesimpulan.

Jacques Derrida, bapak dekonstruksi, mengajak kita semua, sebagai pembaca, untuk mencurigai tendensi-tendensi itu. Tidak cukup hanya dengan mengkritisi logika yang “didiamkan” oleh pengarang, kita mesti menggugat lebih jauh pada proses pembentukan logika itu. Hal ini juga bisa digunakan untuk melakukan interpretasi kepada fenomena apapun, tidak melulu pada teks. Meskipun, secara luas, teks juga bukan hanya tulisan, melainkan apapun yang terhampar, semisal lukisan, patung, teater, bahkan juga simbol-simbol.

 

Subjektivitas

Buku kumpulan cerpen Korsakov dari Wina Bojonegoro adalah bentuk subjektivitas perempuan yang ditulis dengan apa adanya. Kumpulan cerpen ini paling tidak adalah hasil pembacaan fenomena feminisme yang terjadi pada konteks masyarakat kekinian yang terus direproduksi melalui berbagai macam cara. Di area produksi kultural, perempuan masa kini mualai bangkit menghasilkan karya sastra. Menulis adalah jalan untuk mendefinisikan ragam feminimitas, peran sosial, dan makna pengalaman perempuan yang spesifik dari segi sejarah dan konteks lain.

Di sisi lain, menulis juga merupakan cara untuk menunjukkan eksistensi seseorang, atau dalam kumpulan cerpen ini adalah menunjukkan bagaimana subjeknya bersikap dan mengambil pilihan. Subjektivitas adalah salah satu landasan metodologi feminis yang penting di antara beberapa lainnya. Di tengah gempuran logosentrisme yang menyanjung budaya patriarkal, subjektivitas perempuan diharapkan mampu memberi warna tersendiri dalam corak pemikiran masyarakat. Ketika perempuan sudah menemukan atau menjadikan diri sebagai subjek, dan bahkan seluruh tindakannya adalah dirinya, maka di saat itulah semua kata-kata adalah sia-sia.

Euridipes menulis tentang Medea yang berlatar Athena pada tahun 431 SM. Diceritakan bahwa Medea adalah seorang perempuan yang rela membunuh ayahnya demi menikah dengan Jason. Sehingga kemudian ia rela menerima hukuman pengasingan di Korintias bersama suami dan anak-anaknya. Kehidupan mereka berjalan normal sampai pada suatu saat Jason mengatakan ingin menikah dengan perempuan lain, yakni putrid Creon. Medea jelas tidak setuju dengan niat Jason tersebut hingga kemudian depresi. Jason yang melihat keadaan istinya ingin berjanji bahwa ia tidak akan menelantarkan Medea dan anak-anaknya serta akan mencukupi kebutuhan mereka. Medea tetap bersikukuh pada pendiriannya, bahwa ia tetap tidak setuju dengan semua yang akan dilakukan Jason.

Untuk menghentikan semua depresi yang ia alami, Medea membuat keputusan yang sangat pelik. Ia tidak membunuh Jason, melainkan membunuh apa yang saat itu paling berharga bagi Jason. Medea akhirnya membunuh sang calon suami Jason, Putri Ceon serta anak-anaknya. Jacques Jacan menafsirkan cerita tentang tragedi Medea tersebut sebagai sebuah usaha perempuan untuk menjadi subjek.

Dalam pandangan Lacan, Medea, pada jantung situasi di mana ia sudah tidak lagi memiliki apapun dan tak lagi mampu membela dirinya, dalam perang seksuasi ini ia menemukan sebuah senjata maut untuk mengalahkan Jason. Senjata maut itu adalah dengan ‘memotong’ bagian paling berharga dari dirinya yakni anak-anaknya. Inilah satu-satunya cara yang bisa dipahami oleh Jason. Di sini, kita mesti mencatat bahwa pada mulanya ia melakukan tindakan itu untuk seorang laki-laki dan dalam sebuah konteks relasi dengan seorang laki-laki.

Dalam bentuk yang lain, relasi, konfrontasi dan deadlock ini digambarkan oleh Djenar Maesa Ayu dalam Mereka Bilang Saya Monyet. Djenar menyuguhkan praktik pelampauan fantasy dalam pengalaman dua perempuan (Adjeng dan ibunya). Keduanya secara berbeda-beda memiliki dan terbelenggu dalam sebuah pengalaman traumatis tertentu. Pada mulanya, antara Adjeng dan ibunya terdapat jurang dalam memahami eksistensinya masing-masing. Jurang ini menghasilkan hubungan segi tiga antara Adjeng-ibu-Lintah. Jurang ini pada akhirnya terlampaui ketika si ibu membunuh lintah yang kedapatan sedang ‘menyedot’ darah Adjeng. Dengan membunuh si Lintah, sang ibu ke luar dan menempatkannya bersama-sama dengan Adjeng.

Kumpulan cerpen Korsakov, paling tidak, juga berusaha menampilkan cerita tentang perempuan yang mencoba keluar dari norma, tatanan hukum dan moral. Lihat misalnya dalam Prime Customer, si laki-laki jelas merasa terbunuh ketika berucap “Ya, kamu berhasil membuatnya liar. Dia begitu pede untuk selalu beredar di luar. Aku seperti kehilangan istri sekarang.” Di pihak lain ada yang merayakan keberhasilannya-perempuan itu datang, melambai. Dia terlihat sangat feminin, langsing, tersenyum segar, dan parfumnya yang lembut menggoda saraf-sarafku. Aku menyerahkan senyum terbaik untuknya. Hari ini akan kuserahkan malamku untuknya.

Atau lihat juga misalnya Perempuan yang Menanti, si tokoh perempuan dengan tegas memberikan alasan mengapa dia menjadi pelacur. “Oh tidak. Saya melakukan ini dengan sadar. Menjadi pelacur adalah sebuah pilihan hidup…”. Tak cukup dengan jawaban itu, si tokoh perempuan juga menolak dengan tegas ketika ada salah satu pelanggan yang mengajaknya menikah dengan alasan laki-laki yang meniduri lonte pastilah dia lebih lonte daripada lonte. Di sinilah muncul apa yang Julia Kristeva katakan bahwa sastra menjadi ruang imajinasi dan kemikmatan dengan memainkan tanda-tanda sosial yang menekan. Sastra bisa menguak pengetahuan tertentu dan terkadang kebenaran tentang semesta yang terepresi, gelap, rahasia, dan tak sadar.

Keberanian perempuan untuk mendobrak nilai-nilai normatifitas sosial itu kian terasa ketika membaca Arimbi Vs Basuki Episode Surat Kejantanan. Arimbi jelas adalah perempuan metropolis yang terbiasa dengan budaya seksualitas postmodern. Bagi dia, perempuan masa kini harus berani mengambil langkah untuk bisa menaklukkan laki-laki. Penaklukan itu tidak melulu harus dengan adu fisik, tetapi juga dengan cara lain. Di cerita ini, dengan tegas Arimbi menolak untuk diajak menikah oleh Basuki. Alasannya jelas, dia tidak mau membeli kucing dalam karung, harus ada bukti nyata bahwa Basuki adalah lelaki tulen. Cara paling mudah mengetahui kelelakian Basuki adalah dengan bersetubuh.

Namun dalam beberapa cerita yang lain, banyak perempuan yang memang sering dipermainkan, diselingkuhi, dibodohi, atau bahkan diposisikan pada tataran inferior. Atau bisa jadi juga karena merasa tidak memiliki kemampuan sehingga harus mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Di Atas jembatan Rolak, Namaku Giri adalah sebuah contoh kekalahan perempuan. Tokoh perempuan hamil, lalu gagal dalam proses menggugurkan kandungan dan akhirnya meninggal dunia. Meskipun ini hanya sebuah cerita, paling tidak, kita bisa berpikir bahwa keputusannya sama sekali tidak mencerminkan subjek sebagai perempuan yang mempunyai kewenangan untuk bertindak atau memilih tindakan yang lebih rasional. Untuk melihat inferioritas perempuan, bisa juga dibaca cerita yang lain seperti Namanya Maria atau Lelaki Asing yang Menemaniku NgopI Malam itu dan juga Antara Porong-Jakarta.

 

Lingery

Satu hal yang bisa kita lihat dalam kumpulan cerpen ini, dari sekian cerita pendek yang ada, rata-rata masih mengeksplorasi tema hasrat keperempuanan dengan titik tolak anatomis-biologis. Tubuh perempuan yang seksi kemudian direduksi dan ditampilkan dengan pakaian yang merangsang hasrat juga. Salah satu jenis pakaian yang beberapa kali dilekatkan dengan tubuh perempuan adalah lingery. Dalam buku ini, kata lingery disebutkan sebanyak empat kali sebagai kuasa atas tubuh perempuan. Satu kali penyebutan mungkin bisa kita anggap tidak sengaja, tetapi kalau lebih dari dua kali, kita jadi bertanya. Anggaplah bahwa penyebutan lingery ini sebagai sesuatu yang abai, paling tidak secara semiotik bisa membawa kita untuk menginterpretasikan sebagai symbol tubuh seksi perempuan yang dirasa masih memiliki kesopanan. Berbeda dengan misalnya kata lingery secara vulgar diganti dengan sempak atau bugil sekalian. Dengan demikian, paling tidak, buku ini juga adalah lingery, ia mengangkat cerita yang seksi tetapi tidak secara vulgar namun masih bisa dinikmati dan tetap menggairahkan.

Wina Bojonegoro dengan buku Korsakov ini juga menjawab apa yang jauh sebelumnya pernah ditanyakan oleh Virginia Woolf dalam A Room of One’a Own. Di buku tersebut Virginia menyampaikan atau lebih tepatnya membayangkan bagaimana seandainya Shakespeare memiliki adik perempuan yang sejenius dia, bakal jadi apa?

Sekarang kita semua tahu bahwa seorang Wina Bojonegoro mampu memberikan tulisan dan mengabarkan pencarian seorang perempuan dalam perjalanannya menjadi subjek yang bukan hanya melulu mengurusi aktivitas mengandung, melahirkan dan menyusui tetapi juga memiliki eksistensi.

Sebagai penutup, kita sebaiknya mengingat apa yang – sekali lagi – disampaikan Virginia Woolf dalam A Room of One’a Own bahwa ; “Aku takkan pernah memenuhi kewajiban seorang dosen untuk menghadiahi kalian, setelah sejam aku berbicara di sini sebutir kebenaran murni yang bisa kalian selipkan di antara halaman buku catatan dan simpan dalam saku jaket selamanya. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah memberikan pendapatku tentang satu hal sepele-seorang perempuan harus punya uang dan kamar kecil miliknya sendiri supaya ia bisa menulis fiksi.”

 

Artikel ini ditulis untuk bedah buku Korsakov Karya Wina Bojonegoro dengan tajuk “Lima Cowok Mengepung Korsakov, dua tahun yang lalu, 20 Mei 2012, di Sanggar Guna Bojonegoro.

 

Ashree Kacung,

Alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sekarang bermukim di Surabaya-Jawa Timur.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here