Home Catatan Kita dan Lagu

Kita dan Lagu

165
0

SEORANG TEMAN BERKELAKAR, andaikan saja diijinkan untuk membuat agama baru di muka bumi ini, maka ia akan menawarkan sepak bola sebagai agama. “Lihatlah Bro”, lanjutnya, “aku berani jamin, orang di mesjid tak sampai separuh dari orang-orang di lapangan sepakbola untuk mendukung tim kesayangannya, merekapun toh tak salat”. Menggelitik, berani, dan mbanyol sekali teman itu.

Menanggapi celotehnya itu, aku juga berkelakar, aku akan tawarkan musik. Tapi malangnya aku tak punya argumen untuk mendukung pendapatku. Karena aku tak bisa bermusik atau bernyanyi, meski tak dapat memungkiri bahwa aku suka musik. Dan baru sekarang ini aku merenungi sedikit hal tentang musik, sebisa dan sesempit pandanganku tentunya. Dan aku beriman bahwa semua orang pasti suka musik. Dan musik, imanku lagi, merupakan satu hal penting di dunia ini dan cukup berpengaruh dalam kehidupan umat manusia di berbagai belahan negeri.

Ada suatu pendapat publik bahwa lagu atau musik kerapkali dipandang salah satu dari sekian hal yang menunjukkan kecenderungan kejiwaan seseorang. Ketika Anda memiliki kecenderungan pada musik dangdut, maka dengan sendirinya Anda akan dianggap norak dan suka terhadap sesuatu yang mengarah pada hal-hal seksuil. Jika Anda menyukai musik pop, maka Anda memiliki kejiwaan yang disiplin dan tenang dalam banyak segi pada hidup Anda.

Akan tetapi kecenderungan itu tidak lantas berlaku secara keseluruhan. Artinya ada saat-saat tertentu, tak dapat dipungkiri pula, bahwa Anda suka pop, ada pula saat tertentu dalam hidup Anda menyukai rock, jazz, dangdut, gambus, atau apa saja. Adapula dari sekian kita yang tak memiliki spesifikasi tertentu, akan tetapi cenderung mengikuti trend yang sedang booming. Anda bisa saja jatuh cinta dan gemar sekali dengan Alamat Palsunya Ayu Ting-Ting sekarang ini setelah sebelumnya Anda suka lagu India gara-gara boomingnya chaiya-chaiya oleh briptu Norman.

Kalau aku ditanya suka lagu atau musik apa, maka aku akan menjawab segala lagu yang langka. Lagu langka itu misalnya, adalah jenis-jenis musik atau lagu yang hanya memeliki kecenderungan pada seorang saja dan tak terjadi regenasi atau tak ada pewarisnya. Contoh, lagu-lagu Iwan Fals, yang alirannya tak jelas itu yang menurutku asal nyanyi saja, ia terbantu oleh lirik-liriknya yang kuat dan menyentuh kemanusiaan. Contoh lain adalah Nike Ardila yang tak ada pengikut jejaknya sekarang ini, Doel Sumbang, Gombloh, dll.

Sekarang aku sedang menyetel sebuah lagu dalam program winamp dan berhadapan dengan beberapa jenis manusia berikut kecenderungannya terhadap musik/ lagunya sendiri-sendiri. Maka aku harus mengaturnya secara baik dengan tidak memenangkan atau menuruti salah satu pihak saja. Aku tidak mengatakan bahwa lagu-lagu aliran aneh Iwan Fals itu baik dan sreg di hati setiap dari mereka, juga lagu-lagu lainnya seperti pop melayunya Stings, Exist, atau Nike Ardila, dan pop-pop Indonesia lainnya.

Sudahlah, segalanya menemui pendengarnya sendiri-sendiri. Hanya saja, memang segala yang sepintas lalu nampak tak berharga bukan berarti tak berharga secara keseluruhan, karena bisa jadi juga ia tak berharga karena kita memang tak menghargainya.

Wallahu A’lam.
By M. Thohir (Bendhot Soesastro)

Rumah Baca, 10 Januari 2012

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here