Home Berita Kisah Mbah Zul dan Tumpukan Buku-Bukunya

Kisah Mbah Zul dan Tumpukan Buku-Bukunya

170
0

oleh Nanang Fahruddin

USIANYA sudah tak muda lagi. Mungkin untuk menggambarkan lebih tepat lagi, saya lebih baik menggunakan ‘sangat tidak muda lagi’. Betapa tidak, usianya setahun lagi 90 tahun. Tapi hari-harinya dihabiskannya dengan tumpukan buku-buku bekas di lapaknya yang mungil di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta, tak terlalu jauh dari Malioboro.

Kita akan mudah berjumpa dan ngobrol dengan Pak Zul, begitu ia akrab disapa. Tiap hari ia berangkat diantar anaknya jam 9 pagi dan akan dijemput pada pukul 9 malam. Muhammad Haslin, anak ragilnya lah yang bertugas mengantar jemput. Tapi seringkali ia juga ikut menemani berjualan buku sang ayah.

Saya sering menjumpai Haslin dan Pak Zul berada di lapaknya. Saya mencari-cari buku yang saya butuhkan. Paling baru buku yang saya beli dari lapaknya adalah Individual and Society in Java, A Cultural Analysis karya Niels Murder terbitan Gadjah Mada University Press. Dan buku Menuju Kesehatan Madani karya Rosalia Sciortino terbitan Pustaka Pelajar. Sebelum dua buku itu, banyak sekali buku yang saya beli dari Pak Zul.

Kenapa Pak Zul nggak berada di rumah saja dan menghabiskan masa tuanya dengan santai di rumah? Jawaban Pak Zul seakan menunjukkan ke kita bahwa bahagia itu nggak selalu yang berlaku umum di masyarakat. Atau kebahagiaan seseorang itu nggak selalu sebagaimana yang kita pikirkan.

“Kehendak anak-anak begitu semua. Mereka kasih belanja saya. Tapi saya nggak mau. Senang begini hiburan. Ini kerja saya hiburan. Ada yang jual senang sekali. Ada yang beli senang sekali. Kalau ada yang belum pernah lihat, dibaca, senang sekali,” katanya.

Nah, betapa senangnya Pak Zul bersama buku-bukunya. Ia merasa bahagia jika bersama dengan buku, mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Ada orang jual buku ia beli, dan ia bahagia. Ada orang beli bukunya ia bahagia. Bahkan ada orang yang hanya baca-baca saja dan nggak membeli ia juga merasa bahagia.

Ia mengaku nggak sekadar mencari uang dari buku, melainkan mencari hiburan. Ya, anda pasti juga sering merasakannya. Memegang buku, membaca buku, mendiskusikan buku, dan merasa sangat senang sekali.

Prinsip hidup Pak Zul boleh jadi usang di tengah-tengah gerusan teknologi informasi. Yakni di rimbun media sosial yang tiap hari beranak pinak menjalari kehidupan mayarakat sampai ke ruang privasi. Pak Zul mengajari kita semangat belajar yang luar biasa tinggi dengan selalu membaca buku. Salah satu tujuan hidupnya berjualan buku adalah agar tidak terputus dengan buku.

Anda mungkin mengira Pak Zul akan berhenti saat anak-anaknya kini sudah sukses. Ternyata tidak, ia mengaku akan tetap berjualan buku sampai pada masanya nanti ia benar-benar nggak mampu lagi melakukannya.


Nanang Fahruddin, pemburu buku lawas, tinggal di Jogjakarta untuk menyelesaikan studi.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here