Home Catatan Menunggu Pramoedya Masuk Kurikulum Pendidikan Kita

Menunggu Pramoedya Masuk Kurikulum Pendidikan Kita

97
0

Oleh Aw Saiful Huda

SUATU malam di akhir bulan April, saya terlibat diskusi panjang dengan beberapa teman mengenai momen-momen penting di negeri yang kaya sejarah-cerita ini. Kalau tidak percaya, mari kita tanya pada orang-orang zaman dulu yang kini masih hidup. Tentang apa saja. Terutama sejarah atau legenda tokoh, tempat atau peristiwa-peristiwa penting yang menumbuhkan nilai dan kontemplasi sosial.

Cerita dan dongeng ternyata  begitu melimpah dan begitu dekat dengan kehidupan masyarakat waktu itu. Cerita dan dongeng itu seringkali menjadi sarana atau media yang ampuh menyampaikan nilai-nilai kehidupan agar dipertahankan generasi berikutnya.

Hanya saja, ketika membicarakan ‘aset budaya’ tersebut, saya hanya bisa menghela napas panjang. Lagi-lagi saya harus mengamini pernyataan seorang kawan tempo hari di lain kesempatan bahwa budaya bangsa kita ini masih budaya dongeng, bukan budaya tulis. Tidak heran, dengan jumlah penduduk yang begitu besar ini ternyata produktivitas karya berupa penerbitan buku masih sangat kecil. Karenanya, menurut teman saya itu, perlu usaha ekstra mentradisikan literasi di masyarakat kita.

***

Oke lah, beberapa teman yang saya maksud  di atas merupakan sekumpulan sosok ‘manusia’ yang konsen di gerakan literasi. Mereka bergiat di komunitas Atas Angin- sebuah gerombolan orang yang intens mengkampanyekan literasi di Bojonegoro. Pada malam itu kami sengaja berkumpul untuk mengenang dan mengapresiasi  dua tokoh sastrawan hebat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia; Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer.

Dua tokoh nasional  itu kebetulan meninggal dunia di bulan yang sama, April. Chairil Anwar pada tanggal 28 April 1949 dan Pramoedya pada 30 April 2006.

Chairil mati muda di usia 27 tahun. Ia dikenal sebagai penyair luar biasa yang menjadi legenda. Beberapa karyanya terus digemari hingga kini. Si-Binatang Jalang ini oleh beberapa sastrawan dianggap memberi warna ‘pembaharuan’ di jagad kepenyairan nasional. Bersama Asrul Sani dan Rifai Apin, ia ditahbiskan sebagai pelopor angkatan 45.

Karya Chairil Anwar memang dianggap ‘nakal’ namun sarat makna. Persoalan sosial-budaya masyarakat sering menjadi inspirasi dalam karyanya. Begitupun  juga nilai religius sebagaimana tersirat dalam Doa, Nisan, Di Masjid, Puisi Kehidupan dan lain-lain. Karya-karya Chairil Anwar dikenal oleh khalayak ramai, terutama yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi. Karya-karyanya selalu diulas di mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Hal itu berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer. Aneh memang! Dalam kurikulum sekolah, kita tidak menjumpai ulasan tentang sosok yang satu ini. Ia seperti sengaja ditenggelamkan sejarah. Mungkin ini sebagai salah satu pembenar bahwa sejarah adalah milik penguasa.

Pram memang dianggap oleh penguasa di masanya (orde baru) sebagai orang berbahaya. Suara dan karyanya nyaris semuanya dilarang edar di masyarakat. Oleh pemerintah, waktu itu Pram dianggap sebagai tokoh komunis. Itu seiring dengan peran penting Pram di barisan depan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang waktu itu dianggap berafiliasi politik ke Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski sampai akhir hayatnya Pram tetap bersikukuh dan menolak anggapan dirinya sebagai bagian dari PKI.

Terlepas dari ‘kontroversi’ sosok Pram, karya-karyanya telah memberi sumbangan yang berharga di dunia kesusastraan Indonesia. Tidak hanya itu, karya-karya Pram telah mendapat pengakuan dunia. Banyak sekali penghargaan internasional yang diterima sastrawan yang pernah dipenjara selama 14 tahun semasa Orde Baru ini. Di antaranya nominasi peraih Nobel bidang sastra, anugerah Ramon Magsaysay Award untuk katagori jurnalisme, sastra dan seni (1995), Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI (2000), Norwegian Author’s Union Award dalam bidang sastra dunia (2004) dan masih banyak lagi lainnya.

Melihat kontribusi Pram di dunia sastra, sudah sepantasnya karya-karyanya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah. Dengan pengakuan internasional, itu menunjukkan betapa kualitas karyanya telah mendunia. Lebih dari 41 karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Suatu pencapaian yang prestisius tentunya. Namun sungguh ironis, tak banyak yang mengenal sosok Pram. Baik kalangan pelajar, mahasiswa apalagi kalangan umum. Sebagaimana kita ketahui, di pelajaran bahasa dan sastra Indonesia ada periodesasi sastrawan nasional mulai Pujangga Baru – angkatan 45 – hingga angkatan 66, namun kita tidak menjumpai nama Pram disebut-sebut.

Dengan memasukkan Pram dalam kurikulum pendidikan, bisa jadi dapat  memberi ‘sesuatu’ yang baru sebagai bagian dari warna sastra Indonesia. Bahkan bisa ‘mungkin’ menularkan rasa percaya diri bagi para pelajar bahwa ternyata karya sastra Indonesia telah diperhitungkan dunia. Sehingga ini dapat menjadi pelecut untuk ikut berkarya, mengharumkan nama bangsa.

Di Komunitas Atas Angin, karya Pram (khususnya Tetralogi Pulau Buru) – bahkan dianggap seperti ‘kitab suci’. Tentu dalam artian sebenarnya (penulis tidak bermaksud menyamakan dengan kitab suci agama-agama). Buku-buku Pram adalah bacaan wajib anggota komunitas ini. Selain nilai sastranya yang tinggi, karya-karya Pram selalu memuat nilai-nilai kemanusiaan.  Dalam beberapa karyanya, dia cenderung mengeksplorasi masalah sosial-budaya-sejarah dan identitas bangsa Indonesia.

Dengan membaca karyanya, mungkin kita bisa flashback tentang kepribadian bangsa ini, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Salah satu karyanya, Sekali Peristiwa di Banten Selata (1958) membicarakan tentang kemiskinan. Bahwa kemiskinan itu selain karena faktor sistem yang dibangun oleh pemegang otoritas (Penguasa-Pemodal), ternyata juga oleh kultur masyarakat itu sendiri. Dalam karyanya ini Pram seakan ingin mengatakan bahwa kemiskinan itu hanya bisa dilawan dengan semangat gotong royong serta  perjuangan dan kemauan masyarakat miskin itu sendiri.

***

Dalam momen mengenang dua tokoh di atas (Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer), saya menggaris bawahi; kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari mereka. Pertama, menumbuhkan kepercayaan diri bahwa sastra bangsa Indonesia bisa diterima dunia. Ini bisa menjadikan modal untuk terus progresif mengembangkan nilai-nilai sastra masyarakat Indonesia. Kedua, Sastra adalah media yang efektif sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan; sosial-budaya. Kaitannya dengan ini  Berthold Damshauser juga berpendapat, ia mengutip pendapat Theodor Fontane (sastrawan Jerman), bahwa yang paling manusiawi yang kita miliki adalah bahasa. Oleh karenanya menurut Berthold; yang paling Indonesia yang dimiliki manusia Indonesia adalah bahasa Indonesia (2013). Dengan begitu, maka bahasa menjadi parameter yang mudah untuk menunjukkan identitas suatu bangsa. Dan jika itu kita benarkan, tentu kesustraanlah yang paling dekat hubungannya dengan bahasa.

Ketiga, sebagaimana di awal saya tulis bahwa banyak di sekitar kita – di tengah-tengah masyarakat–cerita-sejarah yang penuh muatan nilai kehidupan masyarakat. Namun sayangnya banyak nilai-nilai tersebut mulai pudar dan kurang familiar bagi generasi-generasi setelahnya. Di antara pokok masalahnya adalah masih minimnya budaya tulis di masyarakat. Nilai-nilai tersebut masih dibungkus dalam budaya dongeng dari mulut ke mulut yang makin hari makin hilang dari pembendaharaan kita.

Terakhir, tulisan ini pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang Pram saja. Artinya bukan ingin menempatkan sosok Pram sebagai ‘satu-satunya’ tokoh yang patut di angkat ke permukaan. Tulisan ini memang dibuat sengaja untuk mengenang jasanya. Itu iya, akan tetapi secara pribadi saya bukanlah ‘pramis’ yang secara membabi buta menganggap (apalagi sampai mengkultuskan) bahwa Pram adalah yang paling baik. Bukan! Menurut hemat saya Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sekian banyak Pram-Pram yang lain, yaitu mereka yang sengaja ditenggelamkan oleh sejarah. Ada banyak sekali tokoh yang turut memberi sumbangan berharga  bagi bangsa ini. Mereka tak banyak dikenal hanya lantaran ideologi atau jalan perjuangannya yang ‘berbeda’.

Semoga ini menjadi pembacaan kita bersama. Salam.

————–

Penulis adalah direktur Bojonegoro Institute

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here