Ingin Belajar Menulis, Mulailah Menulis!

Ingin Belajar Menulis, Mulailah Menulis!

74
0
SHARE

Saya bukan seorang penulis hebat. Tanpa saya harus menunjukkan ketidakhebatan saya, anda pasti mengetahuinya. Tapi saya ingin menjadi penulis!. Ya, itulah yang saya citakan. Dan satu rumus yang selalu saya pegang, yakni penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Sejak mulai belajar menulis (ketika itu masih berstatus mahasiswa) saya meyakini satu hal bahwa menulis sulit dipelajari lewat teori. Menulis harus langsung praktik, yakni menggoreskan pena di atas kertas, atau menghadap layar komputer dan menata huruf-huruf. Cara belajar menulis paling gampang adalah dengan cara langsung menulis.

Menulis tidak perlu dimaknai sebagai sesuatu yang tinggi. Karena menulis adalah sebuah kewajaran, demikian Pramoedya Ananta Tour mengatakan dalam buku Proses Kreatif (diterbitkan KPG 2009). Saya memaknai “kewajaran” itu bahwa siapapun bisa menulis. Menulis adalah sebuah teknik menyampaikan pesan, demikian ilmu komunikasi menamainya.

Pram (dalam buku yang sama) juga mengungkapkan “syarat” menulis yakni adanya mistikum. Kata mistikum memang sulit untuk dimaknai. Tapi sederhananya adalah bahwa semua orang memiliki pengalaman batin. Tak mungkin ada orang yang tak memiliki pengalaman batin, karena setiap hari dia bergerak. Pengalaman batin itu akan bergolak di dalam diri seorang penulis, lalu berdialog dengan alam, berdialog dengan Sang Kreator, lalu menjelma sebuah tulisan.

Bagi Pram, penjara di mana dia banyak menghabiskan waktunya di sana, adalah mistikum itu. Suatu gelora yang mengetuk-ngetuk dirinya untuk menulis. Bagi saya Pram pun akhirnya bisa menghadirkan mistikum itu bagi siapa saja. Pram (dengan karya-karyanya) mengetuk-ngetuk pintu diri kita dan meminta kita menulis. Pram misalnya telah menginspirasi Tahar Ben Jellounn (penulis Prancis) menulis novel Korupsi (judul asli L’Homme Rompu), setelah membaca novel Korupsi karya Pram.

Banyak orang tertindas, menderita, merasa didzalimi, melihat ketidakadilan, merasakan kepedihan, menemukan kepahitan hidup, merasakan putus cinta, marah kepada negara, dan lain sebagainya. Tapi tak semuanya mampu menuangkannya dalam sebuah tulisan. Sehingga, meski menulis adalah sebuah kewajaran, tapi menulis juga membutuhkan kekuatan, ketelatenan, tanggungjawab, dan semangat untuk menyelesaikan tulisan itu.

Menulis adalah buah dari pergulatan batin dengan semua yang ada di luar. Pergulatan batin ini bisa dalam bentuk suka maupun duka. Ketika saya marah dengan koruptor, mempertanyakan komitmen negara memerangi korupsi, saya pun menulis “Kita Membenci Korupsi Nggak Sih?”, atau tulisan sindiran yang saya beri judul “Tuhan, Saya Izin Korupsi”. Dua tulisan itu dimuat di kolom “catatan” yang terbit di Harian Seputar Indonesia, tempat saya bekerja.

Tapi saya juga menulis sesuatu yang menyenangkan, penuh dengan kecintaan. Tulisan seperti “Beberapa Biji Kebahagiaan”, atau tulisan “Suatu Pagi di Kebun Bibit”, dan tulisan-tulisan lain kemudian saya bukukan. Buku itu saya jadikan kado ulang tahun pernikahan untuk istriku, Umi Salis Hidayati. Kado untuk pernikahan yang berusia sembilan tahun. Kado kecil yang membuat kami selalu ingin membacanya berkali-kali.

***

Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Sekali lagi. Jika kita ingin menjadi penulis, maka mari kita memulai menulis.

Suara-suara itu sering saya hadirkan ke telinga saya sendiri, dan juga kepada teman-teman Sekolah Menulis Sindikat Baca. Menulis harus menjadi keseharian masyarakat. Mari bersuara lewat tulisan, tidak hanya lewat teriakan.

Menulis juga bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Bahkan, kini menulis bisa mendatangkan uang yang tak sedikit. Banyak penulis yang mendadak menjadi sangat kaya setelah karya-karyanya laris di pasaran. Sebut saja JK Rowling yang menjadi salah satu orang terkaya tahun 2011 dengan kekayaan mencapai 1 miliar dollar Amerika. Kekayaan itu sebagian besar berasal dari buku-buku Harry Potter karyanya.

Di Indonesia, beberapa penulis yang begitu populer seperti Andrea Hirata dengan novel Laskar Pelangi nya, konon mampu meraup keuntungan Rp3,6 miliar. Waw!. Sebuah angka yang begitu fantastis.

Uang memang salah satu alasan kenapa seseorang menulis. Dulu tujuan mencari uang, mungkin tabu. Dan sampai saat ini sebagian penulis tetap meyakini bahwa menulis untuk mengejar materi adalah tabu. Mereka menulis agar suaranya didengar, mereka menulis untuk menyuarakan kehidupan. Kalaupun dapat uang, maka uang tersebut tak lebih sebagai hasil ikutan saja, bukan tujuan utama.

Tapi apapun pandangan tentang itu, faktanya bahwa menulis bisa mendatangkan uang. Menulis bisa menjadikan seseorang kaya. Bahkan menulis ternyata juga bisa membuat penulis menjadi artis. Salah satunya adalah Habiburahman El Shirazy setelah menulis beberapa novelnya.

Dan satu hal lagi, dengan uang hasil menulis bisa menambah langkah kebaikan bagi sesama. Ahmad Fuadi penulis novel Negeri 5 Menara misalnya. Dari royalti novel tersebut Fuadi mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri 5 Menara di Jakarta. Sebuah langkah bijak dari menulis.

Lalu bagaimana dengan saya?. Ah, saya tak pernah mengerti dunia para penulis ketika awal-awal belajar menulis (saat masih mahasiswa). Saya hanya tahu bahwa menulis di media massa akan mendatangkan uang dari kampus. Waktu itu, jika kami bisa menulis di media massa, maka kami akan dapat uang Rp50.000/tulisan. Sedang di sisi lain, kiriman uang dari orangtua mulai dikurangi. Oleh karena itu menulis adalah satu-satunya cara agar saya bisa mendapatkan uang dengan cepat.

Saya pun menulis dan menulis, dalam bentuk resensi buku atau artikel. Waktu itu saya berpikir sederhana, bahwa saya menulis agar saya bisa memegang uang untuk makan. Meski terasa konyol, namun dari sebuah keterpaksaan menulis itulah, saya banyak belajar bagaimana bisa menulis dan dimuat di media massa. Hingga saat ini menulis menjadi sebuah keseharian, di luar pekerjaan sebagai jurnalis.

Belajar menulis membuat saya selalu menyenangi membaca. Dan menyenangi membaca membuat saya sadar bahwa kemajuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh budaya membaca. Oleh sebab itulah, tahun 2009 saya dan Anas AG (wartawan Radar Bojonegoro) mendirikan Sindikat Baca dan menerbitkan buletin Baca!. Dalam perjalanannya banyak teman lain yang bergabung di antaranya Prawoto (waktu itu guru SMAN 2 Bojonegoro).

Kini Sindikat Baca memiliki Sekolah Menulis di samping program-program gerakan membaca lainnya. Sekolah Menulis itu bukan suatu kelas formal dengan kurikulum sangat ketat. Bukan. Sekolah Menulis adalah sebuah forum yang anggotanya memiliki kesamaan minat, yakni menulis. Sekolah Menulis adalah sebuah taman yang siapa saja bisa belajar menikmati senja.

Sekolah Menulis menjadi bukan apa-apa jika tak ada karya tulis di sana. Sekolah Menulis harus melahirkan penulis, yang pada suatu saat nanti menjadi seorang penulis terkenal. Dan siapa tahu penulis terkenal tersebut adalah anda. Salam!.

Surabaya, 23 Maret 2012 Nanang Fahrudin (Tutor Bengkel Menulis Sindikat Baca)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY