Home Buku Hanya Bermodal Cinta

Hanya Bermodal Cinta

88
0
pixabay.com

oleh shinta ar

BERKENALAN dengan buku untuk ukuran seseorang yang cukup “perhitungan” sepertiku memang tidak mudah. Hidupku dulu, nyatanya memang tidak semudah hidup anak Nia Ramadhani yang bisa minta ini itu semau-maumu. Itu mengapa rasanya berat sekali bagiku untuk menabung beli buku mengingat uang jajan masa SDku yang hanya seribu. Mau minta? Mana boleh, terlebih untuk buku fiksi yang kata budheku tak berguna; hanya habis baca sekali saja, nanti disimpan, dimakan rayap dan ilmunya hampir tidak ada.

Baca Aku dan Buku dalam Sepekan

Jujur saja, aku memang bukan golongan holic pada buku berbau ilmu. Rasanya jenuh jika harus membaca buku yang isinya to the point seperti Matematika, tidak ada kata pengantar atau cerita manis yang membuat pikiranku lebih realistis. Tidak ada kalimat-kalimat mesra atau sesuatu yang lucu yang bisa membuat aku tertawa di balik sajian rumus-rumusnya. Semua serba serius. Terlebih jika otak sudah dipenuhi dengan bahasan-bahasan ilmu politik yang faktanya tetap penuh taktik.

Itu mengapa aku lebih suka buku diktat Bahasa Indonesia yang di dalamnya aku lantas mengenal Tuti-Maria. Selain itu aku juga bisa belajar drama, wawancara dan segala ilmu bahasa yang kurasa “ini aku banget!”

Berawal dari kesukaanku membaca berbagai potongan cerita yang ada di diktat Bahasa Indonesia, kegemaranku membaca berlanjut berkat koleksi majalah Bobo dan Mentari milik saudara sepupuku. Saudara sepupuku ini memang cukup terfasilitasi termasuk soal langganan majalah yang begitu hits di masanya. Di dalam majalah tersebut, aku suka mengikuti kisah Bona dan Rong-Rong, Abunawas, cerita Kurcaci hingga cerita bergambar khas ala majalah Mentari dan Bobo. Pikiranku yang dramatis ternyata sangat terpengaruh dengan cerita-cerita fiksi cerpen hingga cerbung yang juga tersuguh dalam majalah ini. Kalau sedang banyak waktu luang, aku suka iseng membaca bagian humor hingga bagian kolom surat pembaca dan sahabat pena.

Baca Buku Setan di Taman Bungkul

Namun, seiring bertambahnya usia, fasilitas buku “lungsuran” itu tidak lagi kudapat berkat saudara sepupuku yang tak lagi punya gairah untuk membaca seperti sebelumnya. Bacaanku pun berlanjut pada surat kabar yang sering dibawa pulang budheku. Budheku memang langganan membeli surat kabar. Katanya, sebagai teman baca di jalan mengingat jarak tempuh tempat mengajar budheku yang mesti menempuh rute Madiun-Kertosono setiap harinya.

Dalam surat kabar, aku mulai mengenal banyak ragam berita mulai dari berita politik, kriminal hingga gaya hidup. Namun yang paling  menarik perhatianku kala itu, jujur saja, hanya soal ramalan zodiak dan teka-teki silang. Hal ini karena cerpen  dan puisi yang banyak dimuat di surat kabar, bagi pikiran SDku, susah dimengerti arah bicaranya. Belakangan aku tahu kalau model cerpen seperti itu nyatanya lebih bermutu dibanding cerpen-cerpen drama remaja yang ujungnya hanya membual soal cinta saja.

Karena merasa kurang bahan bacaan mengingat kutipan cerpen yang sedikit pada diktat Bahasa Indonesia dan tidak menemukan bacaan fiksi yang spesial di surat kabar, aku lantas beranjak menuju perpustakaan sekolah. Sebuah tempat suram yang kebanyakan isinya hanya deretan buku diktat pelajaran yang sangat membosankan.

Beruntung di perpustakaan SDku, aku masih menjumpa beberapa buku cerita anak mesti kedaannya terbilang lebih kumal dan hampir tidak terawat. Dari buku cerita masa SD tersebut, 2 yang paling kuingat yaitu tentang kisah seorang anak yang menemukan bukit belerang serta yang satu lagi buku berjudul Liku-liku Kehidupan yang menyoal tentang kisah seorang anak perempuan yang iri dengan saudara sepupunya yang yatim piatu dan diangkat anak oleh orang tuanya.

Berpindah tingkat ke SMP, aku mulai rajin berkunjung ke perpustakaan. Kala itu, aku gandrung sekali dengan buku-buku ensiklopedia yang membahas ilmu alam secara lebih gamblang dan realistis. Bukunya yang tebal dan full color, membuat aku selalu tertarik membaca setiap sub temanya. Di masa SMP ini aku juga mulai keracunan buku-buku karya Kahlil Gibran berkat salah satu temanku yang sering mempromokan buku ini.

Tahun berlalu, sampailah aku di bangku SMAku, hingga titik ini, aku belum pernah sekalipun beli buku fiksi dengan uangku. Entah mengapa selalu ada saja alasan untuk tidak melakukannya. Di masa SMA ini, falisitator bahan bacaanku tidak hanya sebatas koleksi buku perpustakaan tetapi juga buku novel teen-lit dan novel-novel hits milik teman-teman sekelasku yang terlanjur kaya.

Di masa ini aku berkenalan dengan Ayat-ayat Cinta, Sepatu Dahlan, Tetralogi Laskar Pelangi lengkap, Twilight Saga komplit, Winter in Tokyo hingga Angel and Demon yang tak jadi kubaca karena bagiku tidak menarik. Hahaha.

Sejujurnya, aku orang yang mudah terprovokasi soal buku apa yang baiknya kubaca. Misal, aku akan membaca sebuah buku hanya karena sang provokator pandai untuk menyampaikan ringkasannya. Dan belakangan kuakui, sosok provokator baca buku yang paling sukses dalam semesta pustakaku adalah Mohamad Tohir.

Bagi para pecinta literasi di Bojonegoro, mungkin sosok Tohir ini bukan sesuatu yang wow lagi, tapi sungguh sangat super WOW, WOW,WOW. Berkat jurus marketingnya, aku sukses membaca Bumi Manusia, Rumah Kaca dan lantas berhenti bosan di Jejak Langkah. Aku juga sempat membaca The Da Vinci Code tapi urung karena otakku tak kunjung juga mencintainya. Aku hampir tamat membaca The Alkemis tapi aku kembali malas karena kisah cinta lebih menarik untuk kuhisap habis.

Maka jadilah aku khatam lagi beberapa buku yang penuh romansa dan sesuai dengan seleraku seperti Sang Penari, Burung-Burung Manyar, Ranah Tiga Warna lengkap, Cantik Itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Perahu Kertas dan sebagainya. Dari kesemua bacaan yang pernah kubaca, aku memiliki ketertarikan khusus pada karya Eyang Mangun, Burung-Burung Manyar yang hingga kini kisahnya masih jadi juara dalam semesta pustakaku.

Kembali mengenang pada titik saat aku mengenal Tohir. Di masa itu, aku mulai sedikit mandiri mengoleksi buku, mulai dari usaha ikut kuis berhadiah buku, meminta sumbangan buku dari Tohir atau beli sendiri dari sebagian uang gajiku. Namun bagiku, ternyata sensasinya tidak seperti saat aku pinjam buku. Ketika meminjam, aku merasa ada kewajiban mengembalikan, sehingga aku harus lekas tuntas membacanya. Beda dengan milik sendiri yang rasanya bisa kubaca nanti-nanti. Inilah yang kian memperparah keadaanku untuk kembali enggan beli buku.

Ah, tidak terasa aku sudah curhat sepanjang ini. Maaf ya! Aku sudahi dulu tulisanku sebelum terburu tebal jadi otobiografi. Hahaha. Selamat hari buku. Jangan ragu beli buku. Jangan seperti aku. Tapi harus yakin baca buku, yakin seperti aku. Terlepas dari selera bacaan dan kepemilikan, buku ada untuk dibaca. Tidak perlu sama seperti gaya orang lain. Toh buku yang sama juga membosankan kan?

——————

    Shinta Ar, ibu rumah tangga. Petani hidroponik sukses. Buku pertamanya kumpulan cerpen Rumah Eureka (2014).

 

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here