Home Buku Kisah Egizha

Kisah Egizha

50
0
sumber: senpai-knows.com

oleh vera astanti

MALAM itu cukup dingin. Sebagai penonton sekaligus kekasih seorang musisi, aku duduk pada deretan kursi terdepan di kafe milik pemerintah itu, menikmati angin sekaligus musik secara langsung. Tubuhku terasa haus, mulai menggigil, merindu.

Baca Aku dan Buku dalam Sepekan

Bahkan aku harus menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan air mata yang akan jatuh. Hidungku terasa mampet. Rasa sakit ini bertambah parah ketika para musisi itu mendengungkan lagu-lagu sendu. Duuuh.

Untuk menghilangkan rasa sesak di dada ini, aku mulai merekam perform musisi. Dan sedikit mereda ketika kekasihku, si violinis, tersadar bila kurekam. Dia menatap kamera dan tersenyum lebar. Duh Gusti, aku ada di mana?

Tambah gemetar  ketika lagu yang mengalun adalah Menghitung Hari. Jemariku mulai gatal ingin menulis. Menulis banyak kisah yang panjang, yang adegan-adegannya sudah memenuhi kepala. Perlahan ada satu dua butir air mata yang jatuh. Tentu saja aku cepat menghapusnya.

Semua gelaja-gejala menyebalkan ini disebabkan sebuah surat singkat tentang kerinduan kepada buku. Dikirim melalui WhatsApp oleh Tulusno, kawanku di Komunitas Atas Angin.

“Untuk calon pengantin,” katanya.

Aku ingin tertawa sekaligus menangis. Apa aku harus melakukan keduanya? Tunggu, aku masih ada di kafe pemerintah. Nanti… nanti… nanti. Sabar dulu.

Buku. Entah sudah berapa lama aku tak menyentuhnya, membaui aroma kertas dan memeluknya ketika tidur, atau menginjaknya ketika sedang berjalan di kamar. Dulu, mereka  berserakan begitu saja di lantai. Merenggang lelah setelah dibaca. Atau bila belum selesai, buku itu terbuka dan terbalik begitu saja, tengkurap, tanpa lipatan atau selipan buku di halamannya sebagai pembatas.

Sekarang?

Semua buku-buku itu tidak ada di lantai, di meja atau di tempat tidur. Semuanya tersembunyi di dalam lemari. Dan berdebu.

Surat menyebalkan itu membuatku resah berhari-hari, membangkitkan rasa bersalah dan rindu yang sama besarnya. Mereka menjelma sebagai beban di atas punggungku. Berat sekali.

Mataku mulai berkaca-kaca lagi.

Tidak ada harta yang paling berharga bagiku selain buku. Semasa remaja dulu, aku sanggup menahan keinginan ke kantin agar uang saku terkumpul banyak untuk membeli majalah atau komik. Aku juga menolak keras bila buku-buku pelajaran berakhir di penampungan sampah. Aku senang mengoleksi kertas soal ujian, menjilidnya, menjadikannya sebagai harta karun.

Aku paling betah berada di rental buku. Berjam-jam berdiri sambil membaca komik, aku rela. Menahan lapar demi menuntaskan bacaanku di sana, aku mau. Langsung memacu sepeda pancal ke rental buku, setiap ada acara ‘pulang pagi,’ aku gembira.

Buku. Buku. Buku.

Lebih dari separuh hidupku, aku selalu bersamanya. Dia yang paling tahu bagaimana aku sedih, marah, kecewa atau bahagia. Bila marah, akan ada tulisan yang tebal, sampai kertasnya jebol. Bila bahagia, ada semacam gambar bunga-bunga dan cinta di setiap lembarnya. Bila sedih, akan banyak harapan dan doa yang tercecer di sana.

Dia adalah temanku yang sabar. Sabar diperlakukan semena-mena.

Ada banyak buku yang memiliki kesan berbeda di dalam hidupku. Akan tetapi, yang paling aku rindu adalah menulis di buku harian. Kalau menganggap buku harianku berisi dengan kisah berangkat sekolah dan berakhir di tempat tidur. Tebakanmu keliru

Sebagian besar buku harianku berkisah tentang cerita-cerita yang tak pernah ada.  Bahkan aku sering menuliskan kembali adegan anime ke dalam kertas bergaris itu. Dan kegembiraanku bertambah ketika menempelkan stiker-stiker tokoh anime favorit yang tak sengaja kutemukan di penjual mainan depan sekolah.

Bila tidak menemukan stiker, yang kulakukan adalah mengkopi sampul komik favoritku dan menempelkan di sana; buku tulis rahasia. Buku itu memuat cerita imajinasiku meski tak pernah selesai. Aku masih ingat kenapa nama emailku Egizha. Email itu kugunakan sampai sekarang. Egizha adalah tokoh perempuan cyborg yang kuciptakan; suka bermain piano dan berusaha menyelamatkan dunia. Musuh bebuyutannya adalah saudaranya sendiri. Namanya sedikit rumit, tetapi pernah kugunakan sebagai kata sandi; Zizaniota.

Cerita selanjutnya, hmm, aku tidak ingat. Sepertinya aku harus membongkar koleksi kardus-kardus di atas lemari, atau di dalam karung, mencari jejak Egizha dan Zizaniota di sana, dan kembali melanjutkan kisah mereka. Aku jadi tidak sabar untuk segera memulainya.

Selamat hari buku sedunia. Aku mau menolong sayurku yang gosong ketika menulis ini. Sampai jumpa.

23 April 2018


Vera Astanti, ibu rumah tangga tangguh. Membaca banyak cerita. Menulis banyak cerita. Pengelola Keuangan Komunitas Atas Angin.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here