Home Sastra Prosa DAHANA DI TENGAH LAUT

DAHANA DI TENGAH LAUT

236
0
Ashree Kacung
KOTAKU  dahulu adalah hamparan lautan maha luas, dimana ikan – ikan dari segala jenisnya bisa berenang dengan bebas. Sebagaimana lautan lain, ia menyimpan berjuta cerita, kenangan dan sejarah. Tentang harta yang terpendam, atau tentang kisah cinta yang teramat kelam dan membekas jadi keping – keping pualam. Mengalir, riuh tapi tak tersentuh oleh tulisan yang tiap kali tercipta bikin keruh.
      Sampai saat ini aku masih percaya bahwa peradaban kotaku adalah laut, bukan dataran atau pegunungan. Pernah suatu ketika orang – orang kotaku mencari sumber air bersih yang segar, membuat sumur galian atau mengebornya dengan rentang beberapa kedalaman. Pada tiga puluh meter dibawah tanah, air mulai membuncah lalu tiba – tiba ada serpihan – serpihan ikut keluar berbentuk mollusca, udang – udang, kecil yang mestinya telah punah. Tak kami temui air segar yang kami idam-idamkan.  Airnya asin, tanda bahwa kotaku terserak diatas lautan. Cobalah sesekali kau lakukan seperti apa yang kami kerjakan, niscaya kau akan menemui hal yang sama, asin air.
      Nama kotaku juga buah anugerah dari laut. Kesana kemari aku mencari tentang ceritanya, berbagai macam alur aku temui. Namun memang perdaban kotaku bukan peradaban tulis, tetapi peradaban cerita. Belum pernah aku temui kisah yang mengurai tentang laut dan kotaku. Kebanyakan aku mendengar tentang mitologi yang memang sulit rasanya bisa aku terima. Mitos kadang memaksa kita untuk mempercayainya agar memiliki pengaruh dalam menggayuh masa kejayaan yang di lewati penuh peluh.
      Kini akan aku ungkapkan tentang nama kota yang sekarang bukan lagi lautan, melainkan daratan dan pegunungan. Sore ketika sepasang kekasih berpisah karena sebuah pertengkaran merasa untuk perlu merenung tentang nasib  masing – masing. Sisa – sisa lautan berupa bengawan membelah kotaku, lalu menjadi penghalang sepasang kekasih ini untuk bertemu. Sang isteri memilih untuk bertahan di tanah utara bengawan di temani beberapa pasukan pengawal. Sang suami memilih untuk menjaga rumah mereka yang berada di selatan bengawan sebagi wujud pemimpin sejati teguh pada amanat pemerintahan. Bagi sang suami menjaga Negara adalah tugas mulia sebagaimana menjaga isterinya.
      Musim berputar dan bencana mulai datang, banjir melanda seantero kotaku. Tanah di utara bengawan beberapa mulai tenggelam oleh sapuan gelombang. Khawatir akan nasib isterinya, dengan penuh penghayatan dan kerinduan sang suami memintanya untuk kembali bersatu, pulang kerumah mereka di selatan bengawan. Banjir ini adalah pertanda bahwa berpisah harus diakhiri. Segenap persiapan ia lakukan guna menyelamatkan sang isteri tercinta, upacara tolak bala di gelar, larung sesaji dan tak lupa tari – tarian dipentaskan meminta restu pada pertiwi.
      Ketika akhirnya sang isteri kembali kepangkuannya, dipeluk dan diciumi keningnya dengan penuh kemesraan dan berbisik lembut ditelinga perempuannya ” Bojoku engkau telah kembali ke negoroku”. Diadakanlah pesta besar – besaran sebagai rasa syukur atas kembalinya sang kekasih, hingga muncul kata – kata “ Bojone Negoro sudah kembali” maka jadilah sebutan kotaku adalah Bojonegoro.
     Terang saja pikiranku berubah jadi nanar ketika banyak yang tidak tahu akan cerita ini, dan lebih menerima hikayat akan sebuah kerajaan namun tak lagi bisa ditemui dimana keberadaanya. Lalu yang tersisa hanya kekalahan demi kekalahan dan terus saja ditutup – tutupi. Bahkan ada yang dengan sengaja merubahnya jadi kambing hitam. Dan aku hanya punya kopi hitam. Lalu yang terserak hanya kekecewaan demi kekecewaan dan terus saja di musnah – musnahkan. Bahkan ada yang dengan sengaja merubahnya jadi gonggongan anjing. Dan aku hanya punya beberapa senar pancing.
***
      Waktu ternyata sedikit demi sedikit telah mengikis kepercayaanku tentang kota yang selama ini kusebut – sebut sebagai hamparan laut biru dulu. Manusia dengan congkaknya telah mengubah air lautan menjadi api di kotaku. Di bagian barat kotaku api menyambar – nyambar menantang langit penuh kesombongan, begitu juga kau lihat di bagian timur. Mungkin juga sebentar lagi kau lihat titik api akan menyala di bagian tengah kotaku lalu menjalar kesemua sudut. Aku bukan lagi dikepung oleh lautan, melainkan oleh api.
      Di tengah – tengah serbuan api, sebenarnya aku ingin merubah diriku menjadi api. Bukan sifat api yang membakar namun api yang menyejukkan seperti ia dirasakan oleh Abraham. Toh akhirnya keinginanku itu musnah karena api yang membakar Abraham telah melampaui batas – batas hukum sebab akibat. Ghazali bahkan jauh – jauh hari sudah menuliskannya untuk menentang orang – orang yang begitu percaya akan adanya sebab – akibat.
      Rasanya kini penduduk kotaku berselimutkan api, bahkan telah menjadi sebenar – benarnya api, tak terkecuali juga kau. Mulutmu yang manis menjulur, aku lihat adalah jilatan api. Liurmu telah membakar pasar – pasar kecil kotaku, lalu merubahnya jadi gundukan api. Abu – abu berserakan terbang turun menjadi api. Paru – paru kembang kempis terlahap api. Jalan – jalan, pematang sawah, rerumputan, pepohonan, api menciptakan api.
      Mesti bagaimana lagi, kisah romantisme sudah tak terdengar lagi bahkan semburatnya hanya berupa api. Lautan masa lalu tak cukup lagi menawarkannya.
      Kemudian, sambil memandangi sisa – sisa bengawan yang masih mengalir ingin aku tuliskan pesan untukmu bahwa, sungguh apiku tak lagi mampu membakar apimu, karena sesungguhnya apimu sedang menyamar jadi air ditengah lautan apiku. Api yang menyamar jadi air adalah dirimu yang menyamar jadi malaikat ditengah gemuruh api keteduhan. Aku tahu bahwa api tak bisa mengalahkan air seperti Ramses yang tak mungkin mengalahkan Musa. Bila air tak dapat di kalahkan oleh semua, maka sesungguhnya ia adalah wujud peradaban, tetapi dirimu bukan air. Dirimu juga sepertiku yang adalah telah menjadi api.  Bila api tak mampu menjadi api lalu menyamar jadi air disitulah aku melihat kerapuhanmu. Mulut – mulut yang mengharapkanmu adalah air mujarab justeru mendapatkan laknat berkat wujud samaranmu.
      Ah, tetapi dirimu makin nyaman saja menjadi air sehingga lupa rupa aslimu yang adalah api. Airmu yang adalah api tak bisa menyembunyikan sifat ingin memiliki dan memberangus semua benda yang kau langkahi. Airmu yang adalah api tak bisa kau tutupi dengan sedikit gerimis pada sisa-sisa waktu yang berubah jadi hujan tangis. Tanah ini tak bisa kau lumuri dengan airmu, kalaupun ada, sejengkal itu adalah kaum yang tak tahu bahwa kau sesungguhnya adalah api. Di bangunan yang sudah penuh api mengapa kau justeru menjadi air, oh aku tahu karena rupanya dirimu sangat dekil dan tak punya keberanian melawan api. Otakmu memang penuh air, bukan tirta perwita sari tapi justeru air mani. Di dengkulmu ada air tapi bukan pelumas sendi melainkan tumpukan asam urat yang malah bikin nyeri.
      Botol – botol bergelantungan berisi air masuk melalui selang ke pembuluh darah menuju seluruh tubuh. Menggantikan cairan yang selalu keluar lewat muntah lebih dari dua puluh lima kali dalam semalam. Sebab tubuh itu menelan racun pembunuh serangga yang disemprotkan pada padi – padi belia usianya. Awalnya tubuh itu merengek minta kendaran roda dua pada orang tuanya, disanggupi seharga dua belas juta namun kau tahu, tubuh itu menyangkal dan meminta sembilanbelas juta. Air dalam botol yang juga wujud dirimu rupanya telah juga menyamar jadi racun berwarna biru yang keluar lewat mulut dengan selang lambung masuk lewat lubang hidung. Tapi air dalam botol itu juga merubah dirinya jadi api yang siap membakar tiga lapis otot lambung.
      Sekali lagi aku ingin membakar dirimu dengan segala kekuatanku serta sepasukan hormon yang siap melesak bagai peluru menembus rambut pubis atau jembutmu, tapi tiap kali dirimu menyamar jadi air, pelorku jadi lesu kalah oleh pistol dagingmu itu. Amboi, kukira lemak, daging, serat , otot, villi – villi, tendon, bursae memang penuh dengan air samaranmu, sehinga mereka kuat mengangkat brankar demi sepeser lembaran yang derajatnya tak lebih mulia dari secangkir kopi pangkon dikota sebelah.
      Maka dengan puji – puji Hephsitos, Vulcanus, Kagutsuchi,  Agni, Josiah kukutuk kau atas nama kejancukanku wahai api yang menyamar air,  bahwa di setiap mililiter air di tubuhmu adalah tetes – tetes keringat yang kau hisap dari mereka yang tergelepar mencari kesembuhan dan kebahagiaan.
Bojonegoro, 2012
 *Dahana  = Api (Jawa Kawi/Sansekerta)
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here