Home Catatan Cinta dan Perasaan-Perasaannya

Cinta dan Perasaan-Perasaannya

1504
0

Anas Ag.

SAYA INGIN MEMBINCANGKAN CINTA, karena hampir semua tema dalam karya sastra baik puisi, cerpen maupun novel bertema cinta. Lebih menukik lagi, sesungguhnya saya sedang jatuh cinta. Saya sedang dilanda, seperti yang disebut Amir Hamzah, rindu dendam. Cinta bukan sekadar pertemuan dua hati, tapi juga cinta dengan Tuhan, alam dan apapun yang ada disemesta ini.

Aku Ingin Mencntai Mu
Aku Ingin
-Sapardi Djoko Damono

Ada dua penyair di Indonesia yang sangat lihai menulis tema cinta. Yakni, WS Rendra dan Sapardi Djoko Damono. Keduanya mengungkapkan cinta dengan gaya dan bahasa yang berbeda tapi tetap indah. WS Rendra mengungkapkan dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna tapi tetap puitis. Sapardi menulis dengan gaya lirisnya tapi tetap indah.

WS Rendra dalam buku Empat Kumpulan Sajak (1994) menulis sajak-sajak cinta kepada istrinya, Sunarti. Sajak pertama dalam buku itu berjudul Sajak Cinta. Saya kutip:

Kutulis surat ini, kala hujan gerimis, bagai bunyi tambur mainan, anak-anak peri dunia yang gaib. Dan angin mendesah, mengeluh dan mendesah. Wahai, dik Narti, aku cinta padamu.

Indah bukan? WS Rendra menggambarkan suasana yang romantis. Ada gerimis seperti mainan anak-anak, lalu ditutup dengan ungkapan perasaan Rendra kepada istrinya. Dalam sajak itu Sunarti juga digambarkan sebagai putri duyung. Dan diujung sajak Surat Cinta ini ditutup dengan Wahai dik Narti, kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku. Kalimat ini dalam puisi Rendra ini cukup populer karena kerap digunakan oleh para lelaki yang ingin melamar kekasihnya.

Ada juga saja cinta yang ditulis Rendra berjudul Surat Cinta yang Ditulis pada Usia 52 (1990). Saya kutip beberapa bait dalam dari sajak itu, kau bagaikan lumut dalam tempurung kepalaku, kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca. Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut, gampang sakit kepala dan, temperamenmu sering tinggi. Kamu sulit menghadapi diri sendiri. Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu kamu takut kepada dunia. Juwitaku lepas dari kotak-kotak analisa cintaku kepadamu ternyata ada

Aha, bagi saya dua bait itu cukup menukik menggambarkan suasana hati seorang yang dilanda asmara. Kekasih bagaikan buku yang tak pernah tamat dibaca, dia akan terus dibaca. Rendra menggunakan kata buku dan baca. Buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Sedangkan baca adalah upaya untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu. Mencintai bukan sekadar masalah hati. Namun, dia harus bisa membaca pikiran dan hati kekasih. Cinta, kata orang bijak, bukan hanya butuh pernyataan verbal tetapi juga tindakan dan sikap nyata. Maka cinta, kata Rendra, adalah pelaksanaan dari kata-kata.

Sedangkan Sapardi, sungguh saya tak bisa lepas dari sajak aku Ingin (1989). Simaklah sajak itu; aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Anda yang sedang jatuh cinta akan merasakan kalimat yang liris dan puitis dalam sajak Aku Ingin. Kata kunci dalam sajak itu adalah cinta dan sederhana. Ya mencintai dengan sederhana. Anda bebas menafsirkan mencintai dengan sederhana dengan cinta apa adanya. Atau mungkin kata Tuhan, jika mencintai jangan berlebihan dan jangan membenci juga berlebihan. Cinta dengan proporsional dan benci harus juga harus seimbang. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer adil sejak dalam pikiran (Bumi Manusia,2010). Tidak berlebih berarti proporsional.

Perasaan cinta tapi tanpa kata cinta tersirat dalam sajak Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono. Simaklah tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan juni, dirahasiakan rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu. Ada tiga bait dalam sajak itu. Tak satupun dalam tiga bait itu ada kata cinta. Namun, sajak itu sangat kuat menggambarkan perasaan-perasaan cinta. Perasaan rindu akan datangnya rintik hujan di bulan Juni. Dulu, Juni adalah musim kemarau. Maka jika ada hujan pada bulan Juni maka itu adalah berkah. Seperti embun cinta yang menetes dalam hati yang gersang.

Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu

Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya

Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

Cintaku kepadamu telah mewaktu

Syair ini juga akan mewaktu

Yang jelas usianya akan lebih panjang dari usiaku dan usiamu

(Sajak Cinta Ditulis pada Usia 52, 1990, Rendra)

 

Anas Ag. Redaktur Sastra Jawa Pos Radar Bojonegoro

Diambil dari samudrabanyubening.blogspot.com

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here