Home Uncategorized Cinta dan Asketisme Seorang Penulis

Cinta dan Asketisme Seorang Penulis

387
0

Mohamad Tohir

Tulisan ini adalah klipingan (koran) saya yang saya pungut dari bungkus nasi yang tercecer, Jawa Pos, Minggu, 03 Okt 2004. Tulisan ini tak akan terlupakan selamanya karena inilah yang pertama kali memperkenalkan saya pada Pram dan membuat saya mulai menulis.

Berikut saya sajikan :

Cinta dan Asketisme Seorang Penulis

Pramoedya sedang menulis

Cinta dan Asketisme Seorang Penulis
Esai M. Ali Hisyam

“Anak muda…menulislah. Jangan pernah takut tidak dibaca atau dibuang orang. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti akan ada yang membaca dan (bahkan) menerbitkannya…” (Pramoedya Ananta Toer).

Provokasi sastrawan kelahiran Blora ini cukup indah dan menggugah. Sebuah api pemantik semangat yang demikian heroik dan mengusik. Dan sejarahlah yang kemudian membuktikan bahwa menulis adalah aktivitas yang nyaris tak bisa lepas dari hidup seorang Pram. Bahkan hingga hari ini, saat ia sudah “lumpuh” dan tak mampu lagi menulis, Pram masih setia mengobarkan semangat kaum muda di bawahnya untuk senantiasa menulis dan menulis. Ada teladan sekaligus dedikasi yang tinggi untuk mengangkat profesi penulis sebagai tugas luhur dan penuh arti.

Tepat pada prafrase di awal tulisan inilah, esai Rahmat H. Cahyono bertajuk Menulis dengan Cinta dan Kesungguhan (JP, 19-07-2004), menemukan pembenaran dan aktualitasnya. Menyitir Gibran, Rahmat melukiskan kerja menulis sebagai aktivitas yang berlandaskan cinta dan kedamaian hidup. Karenanya, ia membutuhkan kesungguhan yang optimal.

Hal yang kemudian laik diperselisihkan adalah sejauhmana kesungguhan seorang penulis dalam berkecimpung dengan dunia aksara yang ditekuninya tersebut. Di sinilah sukar ditepis bahwa menulis adalah sebuah pilihan. Karena itulah ia mengandung beban, risiko, pamrih serta kecintaan dan pengorbanan. Dalam kadar takar yang berbeda, semua itu mutlak harus ditemui dalam jagad tulis-menulis.

Oleh karenanya, tak berlebihan bila ada yang menyebut menulis adalah pilihan yang asketis. Ia betul-betul membutuhkan niat dan sikap rela berkorban yang tak main-main. Hanya kesungguhan dan elan yang spartan yang sanggup membuat seorang penulis tetap bertahan dan tidak tereleminasi di tengah jalan.

Banyak contoh yang bisa disodorkan dalam kerangka ini. M. Fauzil Adhim, salah satunya. Di usia yang masih remaja, ia sudah bernyali memproklamirkan diri sebagai orang yang siap “menyabung” hidup dengan jalan menulis. Bahkan di awal usia 20 tahun ia pun membuktikan ikrarnya dengan jalan (berani) menikah. Dan ternyata pilihannya tak bertepuk sebelah tangan. Fauzil sukses berkarir sebagai kepala rumah tangga sekaligus penulis buku seri keluarga dan psikologi Islami. Puluhan karyanya meraup best seller. Pengalaman hidup yang berkesan itu kemudian ia abadikan dalam sebuah bukunya yang laris, Indahnya Pernikahan Dini.

Di samping Fauzil, ada beberapa penulis muda yang memiliki asketisme kepenulisan yang masih kukuh terpelihara. Sebut saja Abu Al-Ghifari, Helvy Tiana Rosa, Nur Khalik Ridwan, Eka Kurniawan, Muhidin M. Dahlan hingga sejumlah penulis fiksi remaja Islami yang belakangan bertebaran bak cendawan. Khusus Al-Ghifari, penulis yang satu ini hampir seluruh buku karangannnya merupakan best seller penerbit Mujahid Press Bandung. Ia tampak selalu mempunyai energi yang cukup untuk mengulas problematika kaum muda populer dari perspektif Islam.

Dus, penulis asketis selalu berkreasi dengan cinta. Cinta yang luar biasa terhadap dunia kepenulisan itu sendiri. Beragam motivasi diri dan desakan lingkungan telah mendorong mereka sebisa mungkin berkarya. Malah tak jarang mereka mesti mengasingkan diri. Sehingga dunia tulis, dalam derajat tertentu, kadangkala sama halnya dengan memasuki wilayah yang “sepi” dan “menyendiri”. Kita bisa melihat bagaimana sastrawan Ahmad Tohari lebih memilih tinggal di Tinggarjaya, Banyumas, sebuah kawasan sunyi yang lebih memberinya peluang untuk berimajinasi; penyair D. Zawawi Imron lebih suka “bersembunyi” di pelosok terpencil Pulau Madura. Bagaimana pula Goenawan Mohamad melawan keriuhan Jakarta dengan khusyuk menenggelamkan diri bercengkerama dengan pena.

Maka, boleh dikata, menulis tak cukup hanya bermodal minat dan bakat, namun juga harus ditopang oleh tradisi, lingkungan dan (bahkan) “tekanan” keadaan. Tak sedikit penulis yang menulis karena terpaksa. Kendati akhirnya kelak ia bisa eksis dan katarsis di sana. Simaklah penuturan Muhidin M. Dahlan, “Tenaga saya terlalu ringkih untuk bekerja, retorika saya terlampau kaku untuk bicara. Maka, menulis adalah jalan yang terpaksa, dan satu-satunya…”

Ada sejumlah penulis yang tetap produktif kendati sambil nyambi aktivitas lain, namun jumlah kalangan ini tergolong langka. Remy Sylado, Emha Ainun Nadjib, Jalaluddin Rakhmat, Seno Gumira Ajidarma, Hermawan Kertajaya, Rheinald Kasali, Anand Kresna, Andreas Harefa ataupun Iip Wijayanto adalah duta dari segelintir penulis yang juga aktif di profesi lainnya. Di kelompok ini, kita bahkan amat kesulitan mencari sosok yang refresentatif mewakili dunia kampus. Bila harus menyebut, mungkin hanya Abdul Munir Mulkhan yang secara fenomenal mampu produktif berkarya sembari mencuri peluang di sela-sela waktu padat kegiatan akademik.

Sekali lagi, dengan cinta para penulis asketis berkarya. Mereka rela berkorban, memikul risiko walaupun acap harus bertaruh nyawa. Sejarah mencatat, cukup banyak penulis yang etosnya justru lebih menyala-nyala kala harus menulis di dalam penjara.

Buya Hamka adalah contoh jitu untuk kasus ini. Justru dari balik jeruji besi, penulis serba bisa asal Sumatra Barat ini sanggup menyelesaikan karya monumentalnya berupa senarai tafsir Al-Azhar sebanyak tak kurang sepuluh jilid. Demikian pula Syamsuddin As-Syarakhsy yang berhasil merampungkan kitab Al-Mabsuuth (sebanyak 15 jilid) saat ia dikurung di sebuah sumur pengap dan gelap yang disediakan rezim penguasa waktu itu. Syarakhsy dengan telaten mendiktekan gagasan-gagasannya pada seorang juru tulis yang setia ditunjuk mendampinginya.

Pengarang besar Rusia, Fyodor Dostoyevsky pun pernah mengalami nasib “nista” yang serupa. Tulisan-tulisannya yang dinilai berbahaya oleh pemerintah komunis kala itu, serta-merta mengantarkannya ke gerbang bui di semenanjung Siberia. Dalam keadaan miskin dan serangan penyakit epilepsi, toh ia tetap mampu merawat semangat dan mematangkan talenta kepenulisannya dengan baik.

Dalam konteks Indonesia, profil yang paling layak diungkap, barangkali adalah Pramoedya Ananta Toer. Masa tahanan dan isolasinya di Pulau Buru, bukan saja membuat nyali pemberontakan Pram terhadap rezim Orde Baru kian berkobar. Kandidat peraih Nobel ini malah menjadikan masa pengasingannya itu sebagai “waktu terindah” untuk menulis dan menyempurnakan beragam karyanya, mulai dari memoar hingga novel-novel tebal yang mencapai puluhan jumlahnya.

Pelbagai contoh kasus dan panorama perbukuan di atas, seyogyanya semakin menyadarkan para penulis untuk bersungguh-sungguh sekaligus kritis dan mawas diri dengan kebersediaan menulis sebagai sebuah pilihan. Di sini, ikrar “menulis untuk hidup” maupun “hidup untuk menulis” tidak berhenti sebatas kredo semata, melainkan harus dibuktikan secara nyata dalam bentuk asketisme kepenulisan yang tahan uji.

Menulis, dengan demikian, setidaknya termotivasi oleh tiga hal. Pertama, sebagai pengeruk keuntungan finansial. Lazimnya, motif semacam ini dijadikan sumbu pemicu bagi penulis pemula untuk selalu bergairah menekuni dunia tulis.

Kedua, sebagai bentuk dari tanggung jawab. Baik itu secara sosial, moral ataupun yang lainnya. Kecuali dalih dakwah, alasan pelestarian rantai sejarah sering disebut-sebut sebagai motif utama dalam hal ini. Dapat dibayangkan, seandainya satu generasi saja tidak ada yang sudi menulis, maka sejarah jelas akan terputus. Tak heran bila beberapa penulis sampai rela – meminjam istilah Sindhunata – ber-“matiraga”. Demi pentingnya sosialisasi pesan, kadangkala pula penulis harus menyiapkan nama samaran untuk menjaga diri. Pada titik ini, privasi bisa lebih penting dari sekadar popularitas sebagai penulis.

Ketiga, sebagai penyemai nilai. Menulis, di sini berfungsi sebagai media komunikasi yang sangat menjanjikan untuk bertukar-pandang dengan khalayak pembaca.

Barangkali untuk saat ini, penulis asketis yang sangat patut diteladani generasi kita adalah Kuntowijoyo. Sejarawan yang saraf motoriknya lumpuh akibat kanker otak ini, hari-hari ini masih tetap setia menulis. Dengan dua telunjuknya (kanan-kiri) yang lemah, Pak Kunto tetap saja menulis. Amat pelan dan begitu lama. Namun siapa bakal menyangka, kita masih saja bisa bersua dengan tulisan-tulisan beliau di sejumlah surat kabar terkemuka. Baik artikel maupun cerpen. Tentu saja Pak Kunto menulis tanpa pamrih apa pun, kecuali aktualisasi diri dan tanggung jawab asketis.

Demikianlah. Penulis asketis tak pernah patah arang hanya karena aral yang menghadang. Ancaman, keterbatasan sarana, sakit ataupun cacat tubuh bukanlah rintangan dalam menghasilkan karya. Ajip Rosidi tak putus asa saat perpustakaan pribadi yang ditinggalkannya di Jakarta bocor dan ribuan koleksi bukunya lantak jadi bubur. Ia tetap tegar, kembali memburu buku, membaca dan tetap menulis.

Maka, pantaslah kita mengamini kata Pram, “Menulis adalah tugas nasional”. Siapa pun anak bangsa, bila ia mampu menulis, maka –atas nama kecintaan terhadap budaya tulis– tetap dan teruslah menulis… []

*) M. Ali Hisyam, pustakawan, bergiat di Kelompok Bening Taman Kata Jogjakarta

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here