Home Buku Chinua Achebe No Longer At Ease, ketika berbuat baik tak lagi mudah

Chinua Achebe No Longer At Ease, ketika berbuat baik tak lagi mudah

953
0

cover novel

Oleh: Asri Kacung

Beberapa hari lalu ketika berkeliling di pusat buku bekas Jl. Semarang Surabaya, saya beruntung menemukan novel dalam bahasa inggris dan juga beberapa dalam bahasa indonesia. Novel-novel tersebut antara lain Jon Mc Gregor If Nobody Speaks Remarkable Things, Philip K Dick The Three Stigmata Of Palmer Eldritch, Chinua Achebe No Longer At Ease dan Tahar Ben Jelloum Korupsi.

Dari sekian buku itu, entah kenapa saya tertarik untuk menyelesaikan No Longer At Ease karya penulis kesehor asal Afrika, Chinua Achebe. Selain tipis karena hanya 154 halaman, saya tertarik untuk menghirup cerita dari benua Afrika, tanah yang selama ini jarang atau bahkan mungkin belum pernah saya jajaki. Selain juga karena Achebe dalam sejarahnya pernah menolak hadiah yang mungkin hampir didambakan setiap sastrawan Nobel Prize For Literature.

Tokoh utama cerita ini adalah Obi Okonkwo, pemuda terpelajar dan pandai dari Umuofia, sebuah desa di timur Nigeria. Obi dipilih oleh Umuofia Progressive Union, sebuah organisasi kumpulan orang-orang Umuofia di Lagos untuk diberikan beasiswa kuliah di Inggris karena prestasi sekolahnya yang moncer. Di Inggris ia belajar sastra selama 4 tahun hingga kemudian harus balik ke negaranya, Nigeria. Tentu saja beasiswa itu tidak gratis melainkan harus ia kembalikan biayanya setelah Obi mendapatkan kerja.

Persoalan muncul ketika ia sudah bekerja sebagai sekretaris Scholarship Board di kedutaan Inggris. Obi begitu membenci kebiasaan sogok-menyogok dan juga korupsi di negaranya. Di Nigeria akhir tahun 1950-an orang menganggap bahwa menyogok adalah hal biasa untuk mempeorleh kemudahan dan juga hal diinginkan.

Sebagaimana komentar salah satu temannya ‘…To him the bribe is natural. He gave it and he expects it. Our people say that if you pay homage to the man on top, others will pay homage to you when it is your turn to be on top. Well, that is what the old men say.‘ (hlm 18).

Obi bahkan sempat menggerutu keras atas kebiasaan buruk orang-orang di negerinya ‘But what kind of democracy can exist side by side with so much corruption and ignorance?’ (hlm 40).

Sempat juga ia berfikir bahwa sebaiknya aparat-aparat tua itu mesti digantikan oleh yang muda saja. ‘…the public service of Nigeria would remain corrupt until the old African at the the top were replaced by young men from universities…’ (hlm 35).

Pernah ketika Obi di kantor didatangi oleh seorang lelaki yang mengaku sebagai kakak seorang siswa perempuan yang mendaftar untuk memperoleh beasiswa kuliah ke Inggris dan berusaha menyogoknya, namun ia tolak. Tak cuma kakak, sang adik perempuan itu ternyata juga mendatangi rumah Obi dan merengek lagi dan lagi untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa.

Selain persoalan korupsi ia juga harus menghadapi persoalan asmaranya dengan wanita tunangannya bernama Clara. Nigeria, di akhir tahun 1950-an juga masih begitu lekat dengan kesukuan. Jodoh dan menikah-pun harus memperhatikan soal seluk beluk keluarga dan suku serta golongan si calon mempelai.

why can’t you marry me?’

I am an osu’ (hlm 64)

Ya, Clara adalah wanita Osu, yang bagi orang Umufia tidak jelas keturunannya. Bahkan ayahnya menolak dengan tegas pernikahan obi dengan Clara dan beralasan bahwa ‘Osu is like leprosy in the kinds of our people’ (hlm 121). Bagi ayahnya, perempuan Osu itu sebagaimana penyakit Lepra, tak lebih dan tak kurang.

Menjadi sekretaris di Scholarship Board juga tak memberikan rasa aman pada ranah finansial. Selain ia harus memikirkan untuk mengembalikan beasiswa, mengirimi uang untuk biaya sekolah adik-adiknya dan keluarga di desa, Obi juga dipusingkan dengan asuransi, tagihan listrik yang membengkak dan juga biaya yang telah ia keluarkan dengan serampangan untuk membeli cincin tunangan Clara. Akankah lilitan kesulitan keuangan ini membuat Obi menerima segala jenis sogokan ?

Setelah penolakan dari ayah dan ibunya perihal hubungannya dengan Clara, disusul dengan kematian ibunya yang tak berjarak lama dan tak bisa ia menghadiri pemakamannya. Pukulan terakhir datang ketika Clara tenyata hamil dan ia harus mencari dokter untuk melakukan aborsi dan tentu saja ini juga membutuhkan biaya.

Akhir cerita yang tragis adalah bahwa Obi Okonkwo, pria baik, seorang terpelajar, sarjana lulusan Inggris akhirnya tak kuasa menolak sogokan. Nahas baginya, ia terjaring operasi tangkap tangan dan harus menjalani persidangan.

Bagi saya cerita Obi adalah bagian kecil saja dari realitas pada di sebuah negeri yang korupsi, sogok menygok telah menjadi hal biasa, bahkan telah membudaya. Sebagaimana bisa kita temui dengan mudah di negeri kita ini sampai sekarang. Pribadi yang baik yang dengan segala kesulitanya berusaha menolak untuk menerima sogokan namun terkepung oleh sekian keadaan yang tak bisa lagi ia memeprtahankan idealismenya. Menarik kiranya jika cerita Obi disandingkan novelnya Pramoedya Korupsi, atau dengan Tahar Ben Jelloum yang juga berjudul korupsi, yang bahkan oleh tahar sendiri dipersembahkan untuk Pram. Untuk dua novel terakhir ini saya mengutuki diri saya sendiri karena belum mebacanya.

*) Penulis adalah pegiat komunitas literasi Atas Angin

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here