Home Buku Buku Setan di Taman Bungkul

Buku Setan di Taman Bungkul

94
0
pixabay.com

oleh nariendra d pramesti

TAK ada yang salah soal mendung, kecuali bila ia tiba-tiba datang tepat ketika aku bersiap-siap berangkat ke jalan yang jauh sekali. Siapapun pasti tak senang merasa gelisah, sama halnya menyetir ketika mendung, selalu was-was kalau tiba-tiba hujan itu datang mengguyur. Tapi syukurlah, di kota seperti Surabaya ini, mendung tak lebih dari harapan palsu saja karena langit kami sangat pelit air. Sehingga mendung tak lebih dari ajang untuk langit menampakkan sisi lainnya.

Aku tiba di Taman Bungkul dengan selamat dan tentu saja; kering. Teman-teman sudah berkumpul dari sore tadi, membuka lapak baca gratis untuk pengunjung taman. Melihatku datang, beberapa dari mereka memintaku untuk menjaga lapak selagi mereka istirahat dan makan. Jadilah aku menjaga lapak sendirian. Buku-buku itu terjejer rapi di depanku, kecuali satu; Kumpulan Budak Setan. Buku kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, Intan Pramaditha, serta Ugoran Prasad ini memberikan kesan mistis bahkan hanya dengan membaca judulnya saja. Kalau diingat-ingat, sepertinya kumpulan cerpen ini banyak disebut-sebut dalam festival bahasa yang kupanitiai tahun lalu. Didorong rasa penasaran dan tekanan karena sepi yang hebat sekali, maka dengan tenang kujelajahi rimba aksara itu dari lembar ke lembar. Sesekali aku menurunkan buku dari pandanganku dan mulai memperhatikan sekeliling.  Tiba-tiba aku  bersyukur membaca tulisan semacam ini di keramaian, sehingga perasaan ngeri yang menancap tiap sampai pada ending cerita selalu dapat kukendalikan dengan baik.

Eka Kurniawan benar-benar memukau. Aku jatuh cinta padanya 17 kali dan lewat  buku ini ia membuatku jatuh cinta lagi yang ke 18 kalinya. Begitu pula dengan dua penulis lainnya. Walaupun nama mereka masih asing untukku, namun ciri khas yang dimiliki tiap individunya memiliki kekuatan tersendiri untuk membuat pembaca terkontaminasi perasaan ngeri. Dan pelajaran terbaik dari buku ini adalah, sesuai judulnya, Kumpulan Budak Setan berisi kisah tentang setan, dan manusia-manusia brengsek.

Hari Buku Sedunia kali ini terasa istimewa. Yuk baca buku!


Nariendra D. Pramesti, alumni SMA Negeri 2 Bojonegoro. Kini dia belajar sastra Indonesia dengan khusyuk di sebuah kampus ternama Surabaya.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here