Home Event Buku Diary & Hari Buku

Buku Diary & Hari Buku

356
0

Awe Abde Negara*

Buku Diary dan Hari Buku

MALAM makin larut. Hujan deras berangsur-angsur mulai mereda. Tapi langit masih menyisakan rintik-rintik hujan yang terus mengalun tiada henti. Bak melahirkan suara artistik dari melodi alam yang memecah keheningan. Sesekali suara geluduk bergemuruh. Menimbulkan efek getaran, lalu memantul pada segembok jiwa hingga membuat ciut nyali dari kepongahan para pemilik hati.

Malam benar-benar terasa beku, sepi ! Tidak terdengar gembrembyeng suara kendaraan yang biasanya lalu lalang melewati jalan Mangunsidi, depan rumah Airin. Ataupun suara riak-riuh gelak tawa orang-orang yang sedang ganyeng ngopi di warung Mak Tamirah, samping rumahnya. Maklum, ibu penjual kopi yang umurnya sekitar 55 tahun itu seringkali ditemani anak bungsunya yang punya paras cantik dan manis sehingga mampu menarik pelanggan-pelanggan setia yang ngopi diwarung lesehannya itu. Namun malam ini, warung Mak Tamirah tutup. Begitupun semua penghuni malam seperti tenggelam dalam kebekuan dan keheningan yang disebabkan hujan turun sedari sore.

Meski suasana tidak begitu bersahabat. Airin tetap tidak bergeming dari posisi duduknya. Sambil bersandar pada dipan ranjangnya, sambil sesekali membenarkan jaket yang dikenakannya dan kadang juga mengusap-usap rambut pendeknya. Sepertinya ia baru saja habis potong rambut. Gadis dengan rambut pendek dan berkaca mata itu terus membaca penuh serius, membolak balik lampiran sebuah buku diary yang bersampul hitam pekat. Pada sampul depan dan belakangnya tertempel stiker. Satu stiker berwarna merah putih dengan di dalamnya terdapat tulisan “INDONESIA KU !” menempel pada sampul depan. Sedang satu stikernya lagi tertempel pada sampul belakang, berupa lambang Sindikat Baca dan terdapat sebuah slogan dibawahnya, “Free Market Of Idea’s”.

Ia membacai buku diary itu penuh penghayatan dan pemaknaan yang mendalam. Tersirat dari mimik wajah serius dan sesekali helaan nafas panjang, itu menunjukkan ekspresi spikologi dan interes dirinya atas apa yang dibacanya. Maklum buku diary itu adalah milik Irfan Kumbara, seorang sahabatnya yang telah meninggal setahun yang lalu, atau tepatnya dua hari setelah Irfan memberikan diary itu pada dirinya.

“Rin, saya harap kau mau menjaga buku diaryku ini. Buku ini hanya coretan tak berguna, berisi catatan-catatanku selama menjadi aktivis pergerakan mahasiswa. Ia adalah kawanku yang setia. Apalagi saat-saat aku dalam sunyi”, berhenti sejenak. “Sunyi memang sering menimbulkan bunyi. Bunyi yang keluar dari dalam hati”, kata Irfan sambil memperlihatkan, lalu menyodorkan diary itu pada Airin yang tiba-tiba bengong, bingung dan sekaligus salah tingkah.

“Kenapa kau memberikannya ke aku ??…dan bukankah buku itu selalu menemanimu dimanapun kau berada ?? ..tapi jujur aku terharuuu, suka dan memang sedari dulu ingin membacanya…” Jawab Airin gugup dan polos. Lalu ia pun tersenyum untuk menutupi sikap canggungnya itu.

“Entahlah…akhir-akhir ini, saya selalu bermimpi buruk. Sepertinya akan terjadi sesuatu padaku. Tapiiiii..(berhenti sejenak sambil memandang dalam-dalam pada gadis disampingnya itu). Hmmm,..Semoga saja tidak terjadi apa-apa…” Jawab Irfan dengan tersenyum lembut. Mendapat jawaban seperti itu, Airin hanya bisa tersenyum nyengir lalu mengangguk-angguk, meski sebenarnya masih tak faham dengan omongan sahabatnya barusan. Ingin rasanya ia mendebat kata-kata Irfan, tapi segera diurungkan. Ia tak inggin berdebat. Ia lebih ingin mendengarkan dan menikmati cerita-cerita Irfan yang selalu mengagumkan. Atau bicara tentang tokoh-tokoh yang dia kagumi, dan pastinya akan selalu merujuk pada beberapa buku terkenal.

Obrolan pada sebuah malam, di sudut taman alun-alun Bojonegoro ini, ternyata menjadi obrolan terakhir Airin bersama Irfan. Sekembali ke Malang, dua hari kemudian Irfan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Malang, seusai pulang demonstrasi. Mahasiswa di sebuah kampus swasta di malang ini jadi korban tabrak lari seorang pengendara mobil yang tak pernah diketahui identitasnya.

Kini genap satu tahun kematian Irfan. Airin membuka-buka kembali diary sahabatnya itu. Sepertinya ada secerca rasa kangen atas sosok Irfan. Ia tidak bisa memungkiri kenyataan – meskipun setiap kali mengingat Irfan, dia selalu menjadi sedih, merasa kehilangan. Gadis manis ini benar-benar tidak bisa melupakan sosok genius ini, yang selalu memberinya support untuk menciptakan tradisi membaca dan menulis. Melalui Irfan ini pula, Airin masuk dalam sebuah komunitas penggerak literasi di Bojonegoro, kota kelahirannya. Bahkan kemudian Airin merasa tergerak hatinya. Kini ia memiliki taman baca anak-anak di gasebo depan rumahnya, sebuah asa yang dulu pernah  ia gagas bersama Irfan.

//..Saat pedang KEBIJAKAN sudah terhunus. Kilatan tajamnya menyilaukan. Aku hanya mlongo saja kawan. Tak bisa berbuat apa. Karena menyadari diri, aku hanya bersenjatakan pena TUMPUL dan otak yang lagi KETUL. Bagaimanakah kini, aku harus melawan…// ( 8 Des 07).

Demikian sebuah tulisan dalam diary yang lagi dibacanya. Sebuah catatan dengan memakai tinta tebal berwarna merah, seakan menambah nilai mistikum dari catatan itu. Airin memang sudah hapal betul sepak terjang Irfan. Mulai dari karakternya yang prinsipil, egois meskipun kadang lembut, jiwanya yang suka tantangan dan pemberontak pemikiran hingga sampai pada kisah asmaranya. Ia seorang aktifis gerakan mahasiswa yang vokal dan sering berdemonstrasi. Tapi pemuda yang doyan rokok itupun  tetap menghormati Airin yang memandang sebelah mata bahkan sering mendebat bahwa demonstrasi itu hanya kesia-siaan belaka. Melalui Irfan ini, Airin kemudian dikenalkan dengan tokoh-tokoh penulis karya sastra terkenal. Seperti Pramodya Ananta Toer, Sutan Takdir Alisahbana, Umar Kayam, Ahmad Thohari, Putu Wijaya dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang menginspirasi. Provokasi Irfan tentang demonstrasi memang tidak ampuh baginya, tapi dalam hal literasi, pemuda ini telah mampu mengambil hatinya. Irfan dan beberapa komunitasnya selalu mengkampanyekan budaya baca dan tulis. “Seberapa dalam kau telah menghayati hidup, itu bisa diukur dari seberapa jauh rasa kepedulianmu terhadap nasib sesama. Menulis bisa menjadi suatu pengabdian dan sekaligus pekerjaan untuk keabadian”, begitu kata sahabatnya itu.

*****

Pukul 06.30 wib

Setelah menghabiskan sarapan paginya yang tersaji di meja ruang makan, Airin lalu memeriksa isi tas ransel hitam yang dalam beberapa hari ini sering menemani dan bergelayut dipunggungnya. Penampilan dengan tas ransel dan celana jeans itu baru saja ia senangi beberapa hari setelah dia diterima menjadi wartawan sebuah media cetak. Sebelumnya dia tidak pernah merasa nyaman memakai dan berpenampilan seperti itu. Dan hari ini dia sudah harus bekerja sebagai seorang orang jurnalis beneran setelah sebulan yang lalu telah lolos menjalani masa traning. ID Card jurnalis dengan foto nyentrik rambut pendek dan berkaca mata dikeluarkan dari dalam tas, lalu dikalungkan dilehernya. Sejenak dicium lembut lantas dimasukkan ke dalam jaket yang dikenakannya.

“Kamu yakin pilihan hidupmu jadi wartawan Rin ?”, tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan sedikit mengagetkan Airin. “jadi wartawan itu berat lho Rin, apalagi kamu cah wedok..” Imbuh wanita itu dengan nada lembut.

Inggih Buuukk.., meskipun dulu  tak pernah terbayang  kepengen jadi wartawan, tapi  aku yakin jika ini profesi mulia lho Buk..” Jawab Airin sopan, sambil membenarkan jaketnya.

Hmmm…keidealisanmu seperti kakekmu saja. Toh kamu tahu pada akhirnya ia terasing karena idealismenya sendiri Rin” ucap si ibu memberi penjelas.

Gadis yang saat ini masih kuliah di semester tujuh ini pun hanya diam. Tak menanggapi penjelasan ibunya.  Namun sepertinya ia tidak begitu setuju dengan kata-kata ibunya tersebut. Ia memanyunkan bibirnya sambil sibuk memencet tombol keypad hp-nya, seolah sedang sibuk.

“Ingat, kakekmu dipecat dari dinas karena sikapnya itu…”, kata ibunya melanjutkan.

“Sudahlah Buuu, percayalah pada Airin. Ini adalah pilihan hidup. Dan Airin akan menjalaninya dengan segala resiko atas buah keputusan ini” Jawab Airin meyakinkan.

“Sebenarnya Ibu cuma khawatir. Jika terjadi apa-apa padamu ndukk. Hati-hati saja kalau kamu membuat berita. Apalagi kalau memberitakan orang-orang berduit dan punya kekuasaan…” Ujar si Ibu memandang penuh perhatian pada putri bungsunya tersebut.

Inggih Buuukk.. Airin pamit dulu, ini sudah ditunggu teman-teman..” Pamit Airin menyalami ibunya.

“Lha ini sudah tak buatkan susu jahe, tidak kau minum dulu to..?” Katanya sambil menyodorkan segelas susu jahe hangat.

“Ohh..inggih !!? “ Jawab Airin sambil senyum, lalu meminumnya sampai hampir habis. “Saya berangkat dulu Buukk..” Ia menyalami dan mencium tangan ibunya penuh ta’dzim. Lalu dibalas ibunya dengan mengusap kepala putrinya itu.

“Iya, hati-hati Rin” Kata si ibu sambil memandangi putrinya melangkah. Setelah bunyi motor Airin sudah berlalu, seiring laju meninggalkan rumah. Ibu yang berumur sekitar 58 tahun itu menghela nafas panjang. Seperti ada kekhawatirn dalam benaknya. “Duh Gusti Alloh, paring selamet dateng Airin, putri kawulo Gustiii. Amin..”

*****

            Hari ini Airin mendapat tugas membuat berita feature tentang swiper –  karyawan  “Joint Operating Body” (JOB) Pertamina-Petrochina East Java (PPEJ), yang mendapat bagian jadi petugas keamanan di setiap pos-pos penjagaan di jalan-jalan kawasan pengeboran minyak di desa Sukowati. Selepas seharian muter-muter dengan motor Mio-nya mencari beberapa swiper yang bisa diwawancarainya, Airin pun meresa kelelahan. Cuaca siang hari itu memang sangat panas, tidak bermendung sama sekali. Dilihat jam tangannya sudah menunjuk pukul 13.00 wib. Akhirnya gadis yang punya nama lengkap Airin Sukmayanti ini  pun masuk ke sebuah warung es degan, depan terminal Bojonegoro. di warung itu ia melepas penat yang luar biasa. Wajah manisnya itupun terlihat merah kebiru-biruan. Benar-benar ia telah bekerja melawan sengatan matahari.

“Dari mana neng, kayaknya payah banget ?” Tanya bapak penjual es degan.

“Muter-muter di sekitar pengeboran minyak itu lho pak..” Jawab Airin, sambil menunjuk arah pengeboran minyak yang tidak jauh dari terminal tersebut.

“Oo…lha mek opo neng?” Tanya bapak itu lagi.

“Cari informasi tentang orang-orang disitu pak..” ucapnya sambil tersenyum “Yang kerja disitu merasa enak nggak..” imbuhnya.

“Hehe..Ya senaglah. Gajinya kan gedhe dibanding hasil kerja usaha seperti saya ini. Penjual es degan” Kata penjual es degan tersebut.

“Belum tentu pak. Mereka juga sering khawatir kalau sewaktu-waktu diberhentikan dari kontrak kerjanya. Sedang bapak ini kan bos sekaligus merangkap karyawan. Kerja oke, nggak kerja boleh-boleh saja. Nggak ada yang melarang. Soale bapak kan pemilik usahanya sendiri..hehe”, ucap Airin membesar-besarkan hati bapak di hadapannya itu.

“ Aaah, Neng ini bisa aja… Tapi ngomong-ngomong kadang saya itu berfikir begini Neng, Kok aneh, di dekat situ ada pengeboran minyak tapi beberapa tahun yang lalu, di beberapa POM bensin di Bojonegoro pernah terjadi kelangkaan dan antrian bensin lhoo..”

Eh-em, Jangan heran  pak, Iya begitulah Indonesia Rayaa..” Kata Airin sambil tertawa ringan. Dan lantas mereka berdua pun tertawa bersamaan. Namun, tiba-tiba handpone Airin berdering, tanda ada panggilan masuk.

“Hallo, Iya Mas Sastro, ada apa?” Tanya Airin menerima telpone. Ternyata penelpon itu adalah Mas Sastro, yang tidak lain adalah wakil bagian auditor berita.

“Iya mas…akan segera saya tulis hasilnya..Makasih atas bimbingannya mas”. Kata Airin menjawab permintaan penelpon.

Gadis ini pun kemudian membayar minumannya. Lantas bergegas ngeloyor, tanpa memperdulikan kepayahan yang terlintas diwajahnya. Begitupun mentari siang seperti tak memberi ampun sedikitpun pada gadis ini. Wajahnya yang manis, gembrambang oleh panas terik mentari. Butiran bening keringat merembes dari pori-pori kulit di sekitar muka  yang terus disekanya dengan sapu tangan biru. Tapi meski begitu, ia tetap tidak menyerah. Ia yakin hidup akan mengajarinya banyak hal, terutama pada sesuatu yang tidak atau belum diketahuinya. Tidak ada prestasi atau hasil yang maksimal tanpa ada berpayah-payah dulu. Meski ada istilah kebetulan dalam sebuah perjalan hidup, tapi sesuatu yang didapat secara kebetulan itu, tetap tidak akan pernah bisa menyamai sesuatu yang dihasilkan dengan cara kerja keras dan sungguh-sungguh. Demikian ia mendapati kata-kata mutiara dalam diary Irfan.

*****

Malamnya, Airin menulis segenap pengalaman hari pertamanya jadi wartawan siang tadi. Mulai dari yang menyedihkan sampai pada hal-hal yang membuatnya terkesan. Ia curahkan segala uneg-uneg yang mengendap dalam pikirannya dalam blog pribadi. Dan memang blog pribadi milik dia itulah yang menjadi korban pertamanya untuk menumpahkan segala pikiran, ide serta perasaannya selama ini, yakni semenjak ia mengamini saran Irfan pada suatu obrolan. “Banyak ide dan gagasan bilyaran yang menguap dan hilang begitu saja dalam sebuah obrolan. Karena tradisi menulis kita masih lemah. Tulislah ide dan pengalamanmu di buku harianmu atau buatlah blog pribadi..” Begitu kata-kata Irfan yang dia ingat.

“….Itulah cerita pengalaman pertamaku jadi wartawan Sobat. Payah dan meyedihkan rasanya. Aku ingin menangis tadi..dan hampir saja aku putus asa karnanya. Saat ada seorang swiper yang aku wawancarai membentakku. Ia tak menggubris bahkan mengacuhkan semua pertanyaan yang aku ajukan padanya. Jika aku ingin menggali informasi, maka pergi saja ke bagian humas Petro-Cina. Katanya ! Irfan, sahabatku..bagaimana kabarmu di alam kuburmu sekarang ini ? Adakah kau melihatku dan tetap peduli padaku? “ Demikian paragraf akhir, penutup catatan harian di blognya itu.

“ Iyaa..ada apa” katanya tiba-tiba. Ia mendengar ada orang memanggil dirinya dibalik pintu kamarnya. Tapi setelah membuka pintu tersebut ternyata tak didapati siapaun disitu. Padah dia yakin tadi ada yang memanggilnya. Bahkan ia pikir ibunya.

“Aneh kok nggak ada siapa-siapa”, pikirnya. Ia pun menyudahi menulis dan bersiap-siap tidur. Jam di dinding menunjuk pukul 23. 45 wib.

*****

            Saat membuka mata, Airin teramat kaget. Tiba-tiba saja Irfan telah berdiri di pintu kamarnya. Dengan berkaos hitam  dan celana coklat. Pada bagian depan kaos tertulis kalimat dengan warna merah putih “Tetap berfikir MERDEKA !! “.  Pemuda itu melangkah menghampiri dirinya yang masih bengong di atas ranjang. Ia tampar pipinya sendiri lalu mencubit, seakan tidak percaya atas apa yang dia lihat.

“Irfan, kaukah iniiii… ? bukankah…….” Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya.

“Kenapa dengan ku Rin ? Aku masih hidup kok.. . Aku juga telah membaca tulisanmu semalam” Kata Irfan dengan dihiasi senyum ramah dan lembut, yang kini telah duduk disampingnya. Airin yang didekati itupun lantas duduk dari pembaringannya.

“Tapiiii……” Balas Airin tak percaya, sambil menggosok-gosok kedua matanya.

“Tapi apa? Inilah kenyataannya. Aku masih hidup bukan..” Kata pemuda itu memotong ucapannya.

“Sudah punya berapa buku kau sekarang ? Sepertinya telah banyak yang kau baca…” Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan dari balik bajunya sebuah buku novel yang berjudul “MAX HAVELAAR” lantas berucap “Selamat hari buku kawan, ini ku bawakan sebuah novel untukmu..” Airin bengong, tak percaya dengan apa yang dia lihat.

Ketika tangannya hendak meraih buku itu, tiba-tiba bunyi handpone berdering. Sebuah nada dering lagu band Padi “Tempat Terakhir” telah membangunkan tidurnya. Gadis itupun sejenak terdiam, memikirkan mimpinya barusan. Apalagi ia merasa ada kedekatan mimpinya dengan kejadian aneh semalam. Ia lantas meraih Hp yang tergeletak di meja yang terletak tak jauh dari ranjangnya.

“Apapun yang terjadi, hidup harus terus semangat adikku ! Selamat Hari Buku yaa..Prasyarat suatu bangsa akan maju adalah adanya masyarakat pembelajar. Sebagai salah satu  basis pencapaiannya berupa kesadaran penuh mereka akan tradisi membaca. Salam !”, demikian sms dari saudara perempuannya.

 

Kampung Baru, April 2012

*Awe Abde Negara,

pengagum Pramoedya Ananta Toer

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here