Home Buku Buku dan Cerita Menuju Puncak!

Buku dan Cerita Menuju Puncak!

198
0

oleh Rachmad Tri Sumitro

HARUS menulis apa ya, review buku? Ataukah membahas buku yang sedang kubaca, atau mungkin cerita tentang seorang penulis yang sangat aku gemari? Entahlah! Jujur ketika seorang teman menawari untuk menulis tentang buku, aku langsung menjawab siap, walaupun setelahnya aku dibuat pusing tujuh keliling memikirkan tentang apa yang akan ku tulis, karena aku bukan seorang penulis, aku hanya seorang yang suka baca satu dua judul buku dan hobi traveling. Namun, akhirnya aku menulis saja, dan menjadi semacam cerita tentang bagaimana aku mengenal dunia “membaca buku” hingga hari ini keranjingan membeli buku setiap kali ke toko buku.

Awal perkenalanku dengan dunia ini adalah ketika aku masih berada di Surabaya, dimana setelah lulus SMA aku bekerja di salah satu warnet di daerah Ketintang, Surabaya. Ya namanya jaga warnet, saat itu aku memiliki banyak sekali waktu luang. Awalnya ketika waktu luang, banyak kuhabiskan dengan bermain game, buka Friendster (anak 80an yang hobi sosmed pasti tau) dan chattingan di MIRC. Dari chat ngalor ngidul inilah aku berkenalan dengan banyak orang, salah satunya bernama Rika. Rika kebetulan adalah penjaga warnet juga sama sepertiku, dimana dia kuliah sambil bekerja. Setelah sering ngobrol dengan rika aku memutuskan untuk bertemu dengannya. Sekadar berbagi soal pekerjaan, selain untuk menambah ilmu dan menjalin silaturahmi, kebetulan tempat kerja kami berdekatan.

Pertemuan dengan Rika memberikan aku pengalaman baru yaitu dunia buku. Namun bukan Rika yang menjerumuskan aku kedalam dunia yang penuh imajinasi ini, namun temannya yang kebetulan diajak ketika dia bertemu denganku. Mbak Iiv, aku memanggilnya begitu. Seorang maniak novel – novel bergenre thriller dan adventure, selain itu Mbak Iiv juga penggila komik. Satu demi satu aku meminjam komik dari Mbak Iiv, dari Naruto sampai novel lama macam Cooking Master Boy. Lalu suatu hari Mbak Iiv menawariku sebuah novel berjudul Da Vinci Code. Yak benar, untuk anak sekarang yang gila thriller atau pecinta konspirasi tingkat internasional pasti familiar dengan judul novel ini, atau paling tidak pernah mendengarnya.

Novel karangan Dan Brown ini memang sangat keren menurutku, bahkan novel ini membuatku harus begadang dan lupa ikutan event game online waktu itu, karena aku penasaran sekali dengan ending dari novel ini. Selain susah ditebak alurnya novel ini menyuguhkan banyak sekali “Hidden Secret” yang ada di dunia ini. Mulai Holy Grail sampai illuminati, yang buatku saat itu hal tersebut terasa asing sekali. Dari novel inilah aku mulai menyukai membaca novel dan “Angel and Demon” adalah novel berikutnya yang menjadi incaranku, memang lanjutan dari Da Vinci Code.

Belum sempat membaca Angel and Demon, aku masih ingat saat itu di Gramedia, Royal Plaza, Surabaya aku bertemu dengan Mbak Iiv. Pertemuan itu tanpa disengaja. Mbak Iiv seperti biasa sedang belanja kebutuhan kamar mandi, begitu dia sering bilang kalo sedang belanja buku. Karena Mbak Iiv mengaku sangat hobi membaca buku saat di kamar mandi, entah benar entah tidak, aku tidak pernah bertanya secara langsung. Mbak Iiv memberikan hadiah untukku sebuah buku, katanya biar aku lebih rajin membaca dan mencoba banyak genre buku. Buku itu adalah buku tentang motivasi, awalnya malas rasanya aku membacanya karena untuk apa mencari motivasi dari orang yang sudah sukses, toh kesuksesan seseorang itu julannya berbeda – beda. Tapi ketika aku kehabisan bahan bacaan, terpaksa aku coba baca satu dua lembar.

Buku tersebut berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Dari segi judul dan cover, kalo boleh dibilang memang nyentrik. Covernya sendiri adalah gambar cacing berwarna sedang bermain kotoran dengan tersenyum. Buku ini berisi ajaran-ajaran dari Ajahn Bram yang merupakan penganut biksu dari Thailand. Dalam buku tersebut menceritakan tentang bagaimana kehidupannya sebagai biksu. Diceritakan dengan jenaka dan ringan, tapi penuh makna. Buku ini memikat hatiku, cintaku tak lagi tulus suci, namun kini seolah selingkuh aku sehari-hari berkutat dengan si cacing. Bahkan ketika pertama kali aku naik gunung, Si Cacing menjadi teman setia yang selalu menenamiku di dalam carrier.

Tanpa disadari aku terjerumus dalam “dunia membaca”, walaupun belum termasuk maniak seperti Mbak Iiv, namun aku rajin menghabiskan satu dua buku setiap minggunya. Entah itu beli atau sekadar meminjam dari Perpustakaan Unesa. Untuk meminjam di Perpustakaan Unesa ini, aku memanfaatkan seorang client setia centra net yang kuliah disana. Dengan imbalan sebotol minuman setiap kali dia ngenet di tempatku untuk setiap peminjaman buku. Yah, selain menambah ilmu tentang hal-hal baru, paling tidak waktu luangku tidak terbuang percuma. Bahkan ketika pergi naik gunung, sekarang aku masih setia membawa Si Cacing. Meskipun kadang tidak ku buka sama sekali sih. Dengan takut kotor dan rusak terkena debu atau air hujan, padahal aslinya karena badannya terlalu capek untuk membaca.

Si Cacing sering memberikan semangat. Tidak hanya untuk diriku sendiri namun kadang untuk teman-teman seperjalananku. Terakhir aku ingat ketika naik Gunung Penanggungan dengan teman-teman IPAMA, aku membawa Si Cacing. Saat itu adik kelasku bernama Nikita yang kecapekan hampir menyerah untuk sampai puncak. Teman-temanku yang lain selalu menyemangatinya, sedangkan aku yang saat itu menjadi pemimpin rombongan asik berjalan lebih dahulu dan menunggunya di salah satu batu besar sebelum puncak. Saat Nikita sampai di batu besar tempatku sedang asik menikmati udara pagi sambil membaca Si Cacing dia bilang kepadaku untuk turun saja karena merasa tidak kuat. Padahal jika sampai puncak hanya kurang dari 15 menit saja.

Aku hanya bilang kepadanya “wajahmu jelek Nik kalau begitu, kesini dan baca ini”. Dengan enggan dia bergerak dan membaca apa yang aku tunjukkan. Lalu entah sihir atau apa aku juga sebetulnya tidak paham, dia tiba-tiba menarik tanganku sambil tersenyum untuk segera bergerak menuju Puncak Pawitra. Dia yang awalnya hampir menyerah, kini tersenyum lebar dengan penuh semangat berjalan di sampingku. Bahkan ketika perjalanan turun, yang saat itu hujan deras sekalipunn dia tidak mengeluh dan terus berjalan sambil tersenyum. Saat ditengah-tengah istirahat, canda dan tawa pasti menghiasi setiap momen yang kami lalui.

 


Rachmad Tri Sumitro, Guru Bahasa Jawa dan Pendaki Gunung yang memiliki banyak nama lain.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here