Home Buku Buku-Buku di Mejaku

Buku-Buku di Mejaku

70
0
pixabay.com

oleh ahada ramadhana

AKU sedang pegang bacaan Hijrah Bang Tatonya Fahd Pahdepie dan Sukarno-nya Seri Buku Tempo. Dua buku yang baru dibuka plastiknya dan langsung menyita ketertarikan. Di meja, masih ada setumpuk buku lepas segel yang sudah ada pembatas bacaannya tapi nggak kunjung dilanjut. Misalnya Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan, bacanya pelan-pelan kalau pas senggang banget (karena peristiwa demi peristiwa silih berganti begitu padat, jadi harus betul-betul dinikmati dengan terus menggambarkan setiap kalimatnya). Ada Pedoman Perilaku Jurnalis-nya Tim AJI Jakarta, Oleh-Oleh dari Tempat Pembuangan-nya R.M. Tirto Adhi Soerjo, Persiden-nya Wisran Hadi, Gestapu 65-nya Salim Haji Said, Untung Sabut-nya Muhammad Sani.

Di antara tumpukan buku di meja, ada juga yang sudah buka segel tapi belum tersentuh, seperti Islam Nusantara dan Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali.  Ada yang dari beli bekas semisal Cerita di Balik Dapur Tempo. Ada juga yang dari pinjam, Politik Huru Hara Mei 1998-nya Fadli Zon.

Buku yang menumpuk di meja adalah daftar yang mau dibaca duluan karena dirasa penting. Tapi kenyataannya, banyak yang dianggurkan berbulan-bulan. Ada beberapa juga yang masih segel semisal buku Kuantar ke Gerbang-nya Ramadhan K.H yang didapat di pameran Indonesia International Book Fair September 2017 di Jakarta. Ada lagi dari Cuci Gudang Buku Kompas di Bentara Budaya Yogyakarta Februari 2018, Ombak Perdamaian-nya Fenty Effendy. Ada novel Api Awan Asap-nya Korrie Layun Rampan dapat dari diskonan Gramedia Jogja. Termasuk Samuel, Samantha, and Me tulisan Sofie Beatrix dari event cuci hudang Gramedia Jogja. Aku punya buku skenario film Kartini-nya Hanung Bramantyo dan Bagus Bramanti–yang jadi acuan untuk mengerjakan tugas kuliah scripwriting–yang didapat dari ASEAN Literary Festival di Jakarta Agustus 2017.

Situs bukabuku.com sering jadi tujuan, baik sekadar lihat-lihat atau membandingkan harga, sampai memborong buku. Dari puluhan ribu, harga memiring jadi belasan ribu. Beberapa pelapak online juga aku langgani. Buku bekas tak apa, yang terpenting isinya. Sesekali juga masih ada yang segelan dengan harga murah.

Di luar meja itu, buku-buku yang kemungkinan berjumlah sekitar seratus lebih dikit tertata di tiga rak. Satu rak template, satu rak custom persegi dengan bentuk wajik di dalamnya, satu rak berbentuk batang-ranting pohon yang tentu tidak simetris tapi estetis.

Tapi jumlah itu kurang. Aku membayangkan bisa mengoleksi sampai ribuan. Aku harus membeli lebih banyak buku. Kapan akan dibacanya, itu belum tau.

 


 

Ahada Ramadhana, pembaca buku tinggal di Jogja. Penulis buku Menikmati Aktivisme (Diandra, 2014).

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here