Home Catatan Bukan Panduan Bermusik

Bukan Panduan Bermusik

280
0
Bojonegoro Jazz 2016 di gedung serba guna

Oleh Wahyu Rizkiawan

MATANYA berbinar. Sesekali, bibirnya bergetar. Ekspresi datar yang akrab dengan wajahnya, perlahan memudar. Bahkan, takjarang dia menggerakkan kepala. Mengikuti belaian nada yang bertamu di telinga.

Saya berada di sebelahnya. Di sebuah kursi yang berada tepat di sisi kiri kawan saya. Kawan muda yang tampak larut dalam buaian nada musik jazz: musik yang, menurut saya, sulit dipahami. Terkadang, saya merasa musik jazz hanya bisa dinikmati pemainnya sendiri: jazz for them.

Kawan saya, yang tampak menikmati sajian musik itu adalah pengasuh Pondok Cendra, Tohir. Bagi saya, melihat Tohir menikmati musik tentu pengalaman menarik. Kita tahu, Tohir jarang ber-ekspresi perihal musik. Bernyanyi, nggremeng lagu, atau ber-na na na pun saya tak pernah tahu. Tapi, malam akhir pekan itu, saya melihat dia begitu menikmati musik.

Musik jazz begitu dinikmatinya. Saya merasa, dia seperti sedang membaca nada, mengartikulasikan makna dari setiap denging suara. Berbeda dengan saya. saya malah tak bisa menikmatinya. Malahan, saya merasa kasihan pada “tukang tiup terompet” yang seolah-olah bekerja sendirian sampai ngeden-ngeden itu.

Ingin sebenarnya saya bertanya pada Tohir. “Apa ada yang kau ingat?”, “Apa suasana ini mengingatkanmu pada sesuatu?”. Alih-alih bertanya, saya semacam tak tega mengganggunya dengan pertanyaan itu.

Kita bisa saja bertanya pada Tulus Adarrma tentang bagaimana membuat panggung teater bagus dengan anggaran se-minim mungkin. Atau bertanya pada Ikal Hidayat tentang cara membangun imperium cinta dengan puisi sebagai pilar-pilarnya.

Namun, tidak pada Tohir. Bagi Tohir, kedua pertanyaan itu terkesan duniawi. Pun pertanyaan mengenai perasannya mendengar musik jazz. Itu tidak bisa dinyatakan dengan data maupun detail. Melainkan rasa. Sesuatu yang hanya dia saja yang mengetahuinya.

Salah seorang kawan yang enggan disebut namanya, pernah berkata pada saya bahwa Tohir manusia langka yang hanya lahir seratus tahun sekali. Tuhan menurunkannya sebagai penyeimbang bumi. Bahkan, menurut kawan saya itu, saat tak menemukan teman berdiskusi, Tohir bisa dengan mudah berbicara pada semut. Saya tidak tahu pasti. Tapi saya sangat meyakini.

Menyaksikan Tohir menikmati musik jazz, adalah mencecap rasa manis pada teh tawar. Terkesan aneh, namun benar adanya bagi mereka yang jatuh cinta tapi belum dapat kiriman uang dari orangtua. Saya sempat berfikir, barangkali Tohir sedang dirundung cinta. Kepada siapa? Tentu hanya dia dan semut yang mengetahuinya.

Momen melihat Tohir menikmati musik jazz itu melempar saya pada ingatan saat kali pertama saya mengenal dunia musik. Tentunya bukan musik jazz. Sebab, seumur-umur baru pertamakali itu saya melihat secara langsung musik dimainkan dengan terompet itu. Hehe (kampungan sekali ya saya ini)

Bapak saya seorang guru seni Hadrah. Sejak kecil, hampir setiap hari, di rumah diperdengarkan nada Al Muqtashida Langitan. Seperti orang tua pada umumnya, Bapak ingin anak lelaki pertamanya itu menjadi vokalis Hadrah. Sejak saat itulah, saya sering diajak berkelana bermain musik. Terutama, musik rebana. Meski, waktu itu saya bagian mendengarkan dan bawa rebana saja.

Selain di rumah sering banyak orang berlatih, saat di rumah sedang sepi, saya terkadang iseng memainkan rebana itu sendiri. Iya, dengan menampar-nampar rebana yang tak bersalah itu. Eh!

Bagi saya, musik hadrah adalah musik pertama yang mampir di telinga. Dan itu satu-satunya yang saya kenal secara mendalam. Oleh sebab itu saya kurang akrab dengan Dangdut ataupun Pop. Apalagi musik Jazz yang barusan saya dengar bersama kawan baik saya itu. (untuk musik Rock saya punya cerita lain, wkwk)

Terkait musik hadrah, ada kisah yang sulit saya lupakan. Waktu itu, di Kecamatan sedang ada lomba Hadrah. Saya ditunjuk sebagai vokalis. Saya tidak tahu kenapa saya yang ditunjuk. Mengingat, waktu itu usia saya paling kecil dan baru saja selesai disunat. Itu menjadi momen pertama saya mengikuti lomba.

Kalau tidak salah, dulu personil kami sebelas orang. Kami menggunakan pakaian putih-putih. Semuanya bersorban. Saya duduk paling depan. Setelah MC mempersilahkan kami unjuk gigi, saya mendadak gemetar. Rasanya ingin pipis dan lari ke belakang. Tapi karena nada intro sudah dimainkan, akhirnya saya bertahan. Tentunya dengan keringat bercucuran.

Seingat saya, waktu itu, kami membawakan dua lagu dari album ke-3 Al Muqtashida: Arti Hidup yang berjudul Sholawat Yamaniyah dan Assalamu’alaik. Tepat ketika intro selesai, dan waktu nya vokal pertama masuk, entah kenapa tiba-tiba suara saya berubah menjadi cempreng. Padahal, saat berlatih, suara saya berat dan memikat.

Kondisi itu berdampak pada penurunan rasa percaya diri saya. Saya yang sebelumnya hafal lirik tiba-tiba lupa. Diatas panggung, rasanya saya mau menangis. Untungnya, suara rebana menyamarkan kealpaan saya. lebih untungnya lagi, senior saya yang sebelumnya menjadi backing vokal nyaut mic dan melanjutkan lagu.

Pertunjukan musik kembali lancar. Saya yang sebelumnya di depan, perlahan-lahan, sambil merunduk, mlimpir ke belakang. Saya ingin menangis, tapi para penonton malah terhibur sambil bersorak memberi dukungan. Meski tak banyak berkontribusi, saya patut berbangga diri. Sebab, grup kami mendapat juara 4. Tapi dari  5 peserta sih.

Saat tersadar dari lamunan, saya sempat membayangkan, andai kawan-kawan saya membentuk grup rebana, tentu jadi istimewa. Ikal Hidayat (biarlah) jadi vokal. Selain bahasa arabnya top, dia juga sedang jatuh cinta. Itu membuat ekspresinya terjaga. Tulus Adarrma dan Ilham Khatulistiwa, rambutnya gondrongable dan lurus, tentu paling tepat jadi pembawa rebana duk prek: setidaknya biar bisa mengaktualisasikan diri untuk (menampar) seseorang. Ups!

Subcomandante Ashri Kacung tidak bisa tidak, harus bawa rebana bass. Sebab dia playmaker, pengatur (serangan) nada. Penentu kemana arah irama. Grup itu semakin sempurna dengan kehadiran Ahmud Abas (ayah muda anak baru satu) Danial Arifudin. Sebagai apa? Tentu sebagai pemegang gitar tua. Genjrengan gitar mantan koordinator OI Jawa Timur itu setidaknya bisa membangun sekaligus meruntuhkan suasana.

Lalu, biarlah saya dan Tohir membantu Mas Afif mengabadikan momen bahagia di dunia yang bersifat sementara, fana dan angan-angan itu.

Wahyu Rizkiawan, bercita-cita jadi pemain bola di Liverpool. Menyunting buku Jomblo Revolusioner (karya Abdullah AM)

 

Kredit Foto: Zaky Fuadi

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here